“Teater sebagai Peristiwa”
Playboy (P): Apa bedanya penggarapan Panji Sepuh sekarang dengan yang 12 tahun lalu?
Goenawan Mohamad (GM): Kalau dulu di atas tanah rata. Sekarang ada panggung, saya ingin memberi tekanan pada masalah kekuasaan. Meski geraknya tetap meditatif tapi faktor fisik tampak seperti panggung, layar. Penarinya dulu empat sekarang tujuh.
Dalam Panji Sepuh sebenarnya tidak ada naskah, hanya tari. Saya diminta menulis tembang jawa dua stanza lagu panggung. Lalu beberapa kata Jawa untuk koor, musik yang dibikin Tony Prabowo bagus sekali. Seperti koor Gregorian dalam bahasa Jawa. Musiknya tidak memakai gamelan, tapi gender yang digosok. Tidak ada alat pukul sama sekali.
Dulu sempat dipentaskan di Jakarta beberapa kali, di Melbourne, Bali, Solo, Seoul. Ide koreografinya dari Sulistyo Tirtosudarmo. Yang lain-lain menambahkan, mengolah. Saya waktu itu lihat prosesnya usul ini usul itu, Belajar saya.
P: Dari dulu Anda banyak menyumbangkan puisi dan prosa untuk seni pertunjukan. Kalau kali ini, Anda terlibat langsung dalam produksinya?
GM: Saya terlibat penuh dalam Panji Sepuh dan Pastoral. Jadi akan ada dua dua nomor, Pastoral dan King’s Witch. Pastoral itu sajak saya dan saya jadi sutradara juga. Kalau King’s Witch saya hanya konsultan. Lebih banyak membantu persiapan di luar panggung, organisasi produksi. Kebetulan saya berpengalaman di Tempo ada gunanya. Jurnalistik, seperti juga teater, adalah kerjasama berbagai elemen. Ada desain, ada penulisan, logistik, ada budget, ada time table, teater juga begitu. Ada peran juga. Cuma kalau di teater apalagi setelah saya alami, tidak terus-menerus.
Lalu saya lihat (penggarapan) Kali, opera di Amerika. Saya yang membuat libretto-nya. Sebenarnya yang dibikin lebih dulu King’s Witch tapi yang dipentaskan duluan Kali. King’s Witch hanya dalam bentuk workshop. Di situ saya belajar bagaimana sutradara bekerja, bagaimana organisasi teater. Saya mulai banyak ide masuk. Kebetulan saya lihat La Galigo di New York. Menurut saya La Galigo itu gagal.
P: Kenapa gagal?
GM: Menjadi datar, legendanya kurang mencekam. Hampir seperti gambar komik anak-anak. Flat.
P: Yang datar pada olah cerita atau pementasannya?
GM: Cara mementaskannya. Kalau saya yang diserahi itu saya akan bikin lain. Semua seniman Indonesia yang menonton kecewa. Waktu saya nonton dengan Tony di New York saya bilang: “Kita bikin saja Ton, Panji Sepuh. Siapa tahu ada yang mau mendanai.” Untuk menunjukkan kalau dari Indonesia ada yang lebih bagus dari La Galigo. Sebab musik Tony ini kan musik yang bukan barat, bukan timur, Panji Sepuh bisa menjembatani. Bisa kelihatan timur, menarik. Tapi juga ada orisinalitas Tony. Pada tarinya juga ada orisinalitas penari. Jadi saya minta pada Sulistyo biar saya yang menyutradarai. Teman-teman percaya.
P: Tapi Anda tidak punya latar belakang koreografi atau tari?
GM: Memang saya bukan penari. Saya hanya mengatur komposisi, mana yang berlebihan mana yang kurang. Teguh Ostenrik banyak membantu saya dalam memilih gerak, memperbaiki gerak. Karena dia pelukis, menguasai anatomi. Dia kasih ide-ide baru. Penari banyak memberi ide koreografi. Tugas saya hanya mengkoordinasi semua hal. Tapi saya senang, karena saya suka kerja dalam tim. Kalau olahraga saya senang sendiri.
P: Apa jalan cerita Panji Sepuh?
GM: Sebetulnya tidak ada cerita. Dia imaji yang berangkai. Suasana keraton Jawa yang sedang dalam keadaan murung, pada suatu masa akhir kekuasaan. Bagaimana dalam suasana itu orang menghargai kematian, menghargai tubuh, dan dibebaskan oleh tubuh. Dalam wayang ada yang disebut suluk, puisi yang dinyayikan, yang tidak bercerita apa-apa tapi menggambarkan suatu suasana. Suasana murung, suasana perang. Panji Sepuh adalah suluk yang panjang. Dia puisi meditatif panjang yang ditarikan, mengenai kekuasaan dan tubuh manusia terutama yang diekspresikan oleh perempuan. Perempuan lah yang sebetulnya lebih lengkap dalam mewujudkan ekspresi tubuh, dia yang hamil, menstruasi, menyusui, sedang laki-laki tidak.
Panji Sepuh yang baru saya beri tekanan pada peran perempuan. Sentrumnya tidak lagi raja, seperti yang dulu. Sekarang sentrumnya beberapa, laki-laki atau dalam hal ini raja hanya salah satunya. Panji Sepuh yang saya tafsirkan peran wanita menonjol. Tujuh penari itu menjadi pemenang dalam suatu pergulatan. Akhirnya ada semacam pembebasan, penolakan, pemberontakan, kepahitan, dan salah satu juga ekspresinya adalah yang erotik. Ada adegan senggama, homoerotik antar-perempuan secara halus. Untuk menegaskan yang erotik itu menegaskan tubuh. Tubuh tidak bisa diabaikan. Manusia adalah tubuh, roh dalam tubuh. Keduanya tidak bisa dipisahkan. Kemudian moralitas yang kita kenal membenci tubuh dan akibatnya membenci perempuan.
P: Relasi antara kekuasaan dan tubuh di mana yang satu berdiri sebagai penindas?
GM: Persis. Kekuasaan itu tidak harus kekuasaan politik, bisa kekuasaan wacana, agama, hukum. Banyak yang disumbangkan oleh pemikiran feminisme. Memang pemikiran feminisme di Indonesia ini hanya menerjemahkan dari barat, kecuali yang dijalankan oleh sebagian perempuan di kalangan pesantren. Tapi gerakan itu banyak menyadarkan kita untuk lebih appreciate pada masalah perempuan, tubuh dan manusia.
P: Apakah dunia gelap itu merefleksikan kekuasaan atau sebaliknya?
GM: Iya bisa, dari dunia gelap yang tidak bisa ditaklukkan itu, kita bisa melihat kekuasaan dengan segala ambisinya tidak bisa menang sepenuhnya.
Di King’s Witch kamu akan lihat ada perlawanan dari Manjali dan Calon Arang terhadap penghukuman dari kekuasaan yang besar di luar bawah sadar manusia. Ada satu bentuk statement yang mengukuhkan bahwa yang magis, yang gelap yang tidak diduga-duga, miskin, kecil di luar kerajaan itu tidak bisa dibasmi. Dan dia punya perannya sendiri.
Calon arang sering digambarkan sebagai wakil dari kegelapan. Dalam teksnya ada kata-kata raja yang menyukai lanskap yang rapi yang dikerjakan oleh tangan-tangan yang rajin. Itu kan industrialisasi. Tapi dunia tidak semuanya bisa dibegitukan. Termasuk dunia yang tidak jelas, yang gelap, yang tidak bisa dirasionalkan.
Perempuan seperti dalam Panji Sepuh, (yaitu) Manjali dan Calon Arang, bukan hanya mengukuhkan perlawanan yang disebut-sebut oleh kaum feminis patriarki tapi mengukuhkan bahwa kekuasaan yang mau menindas dan membuat dunia dapat ditaklukkan dengan rasionalitas dan produktivitas itu selalu terbentur pada kenyataan bahwa yang gelap dan misterius, serta tubuh tidak bisa ditaklukkan.
P: Terdengar cukup trendi, dengan arus pemikiran feminisme?
GM: Memang kelihatannya trendi. Tapi ternyata cocok dengan yang kita alami. Misalnya King’s Witch, kalau dalam cerita Calon Arang lazimnya, seperti yang diceritakan ulang oleh Pramoedya, dia itu nenek sihir atau dukun santet yang memberi celaka rakyat karena anak perempuannya tidak laku. Sangat memandang perempuan pada posisi yang buruk. Tidak pernah dipikirkan bagaimana Calon Arang melihat persoalan. Saya membaliknya.
P: Toety Heraty lewat bukunya juga menafsirkan lain, Calon Arang sebagai korban patriarki?
GM: Tapi Toety lebih banyak melakukannya dengan esai daripada puisi. Menurut saya dengan esai kurang ada nuansa. Jadi doktrin yang dirumuskan saja, tidak dialami. Dalam King’s Witch memungkinkan kehadiran Calon Arang sebagai pribadi yang bersuara itu dialami. Karena itu bentuknya puisi bukan esai.
P: Apa peluang puisi dibandingkan esai?
GM: Peluang pusi adalah dia memberi kesempatan pada hal-hal yang tidak diduga-duga, yang bertentangan sama sekali di dalam satu tubuh. Esai ada semacam garis lurus, puisi kan tidak. Dua-duanya perlu. Bahasa puitik adalah bahasa pembebasan. Esai kan sangat ketat, ada disipilin. Tidak semua pikiran bisa tertangkap. Puisi bisa menangkap yang diam, yang tersembunyi. Yang gelap.
P: Saya membandingkan tari lebih mirip puisi daripada esai karena lebih kaya interpretasi?
GM: Betul. Seperti kamu lihat di King’s Witch ada orang loncat, banyak yang tidak jelas. Memang tidak perlu jelas. Sebagaimana puisi yang meditatif tidak bisa direduksi dalam satu tema, bermacam-macam tema bisa terjadi di situ.
P: Karena itu Anda suka pada pementasan seperti ini daripada teater lakon?
GM: Ya. Ya. Ya. Bukan saya menolak itu. Saya sendiri sedang menulis satu naskah lakon namanya Visa. Itu adegan orang mencari visa di kedutaan besar Amerika. Agak lucu. Tapi ada banyak alusi terhadap masalah ketakutan pada yang asing, masalah identitas dan tanah air. Nadanya lucu. Masih belum selesai.
P: Bagaimana kondisi teater sekarang dibandingkan dulu?
GM: Teater sudah mulai bangkit karena dasarnya tidak seperti tahun 70-an ketika Rendra, Putu dan Arifin dalam keadaan mekar, semangat dan bebas. Ketika TIM baru dibuka adalah zaman keemasan teater Indonesia. Ada dana dari Ali Sadikin. Ali sadikin itu orang yang luar biasa jasanya pada dunia performing art Indonesia. Selain jasanya di bidang lain.
Belum pernah dialami sehebat itu. Diberi dana, kebebasan dan tempat. Zaman itu bukan main performing art Indonesia. Dan mutunya juga bagus, mendatangkan karya-karya dari luar. Tapi begitu Tjokropranolo (pengganti Ali Sadikin.red), mati.
Pasca Ali Sadikin TIM kacau balau. Pada saat yang sama timbul industri sinteron, yang menyedot bakat-bakat yang ada. Karena tidak ada theatre company, Teater Mandiri itu cair. Karena nggak ada lalu orang-orang main sinetron, padahal bakatnya dahsyat. Arifin meninggal, Rendra terlibat dalam banyak hal dan ditindas penguasa dan sebagainya.
Dulu Habibie pernah ingin membangun Kemayoran jadi pusat kesenian yang besar. Padahal sudah ada TIM. Menurut saya yang perlu, dana itu disimpan di bank dan bunganya untuk membiayai grup teater latihan. Mereka banting tulang begini apa yang mereka dapat, berapa rupiah yang mereka dapat. Pelukis sekarang bisa kaya. Kalau penari masih bisa cari obyekan dari pertunjukan. Tapi pada dasarnya yang diperlukan satu grup yang saling mendukung dalam hal intelektual dan artistik. Saya tidak begitu setuju dana untuk kesenian dihabiskan untuk mendirikan gedung saja.
P: Kalau di luar negeri?
GM: Di barat sama saja. Dia New York teater yang serius begini hidupnya berat. Di sana kadang-kadang dapat grant. Tapi antrinya habis-habisan. Aktor-aktor jadi penunggu restoran, di Seattle saya lihat komponis teater jadi pelayan Starbucks. Di Jepang juga begitu. Saya lihat ada aktor kaya, kok bisa hidup. Ternyata dari orang tuanya. Jadi kalau sudah memilih hidup sebagai seniman, ditakdirkan harus hidup miskin. Ini kan suatu counter culture, perlawanan terhadap dunia mainstream yang menjanjikan, uang, kepastian.
P: Kalau kondisi kelompok teater belakangan ini?
GM: Sekarang mulai bangkit lagi, seperti Teater Garasi, di Jakarta seperti Teater Kubur. Kalau ada komunitas latihan bisa konsisten. Teater itu tidak hanya pementasan. Teater juga ketika waktu tidak berpentas, bertukar ide pikiran, merumuskan cerita, mencari eksplorasi gerak. Teater terbentuk dari itu. Kalau dilihat kan mengerikan dunia teater ini, latihan berbulan-bulan untuk dua hari. Itu pun kalau ada duitnya. King’s Witch ini berapa bulan persiapan. Inilah nasib dunia pertunjukan. Itu juga yang membuat saya dekat dengan teman-teman di teater, karena mereka melakukan itu semua untuk cinta pada suatu yang tidak berguna. Dan masyarakat perlu hal-hal yang tidak berguna, teater, puisi. Kalau semua berguna celaka. Cinta tidak berguna. Bersiul nggak berguna, bergurau tidak berguna. Anjing menggonggong tidak berguna. Banyak hal yang tidak berguna tapi dari sana hidup terbangun.
P: Sejak 1970-an Anda sudah banyak melakukan kritik teater. Apa yang Anda lakukan ini juga bentuk kritik terhadap kebiasaan teater yang ada?
GM: Tidak. Tapi saya pikir saya ingin menggalakkan dinamika, inovasi, yang baru dan berani dalam teater, dalam hal ini Garasi juga berkepentingan. Teater ternyata bisa lain. Beberapa bentuk teater seperti yang dibawakan Ratna Sarumpaet itu pidato, orasi. Tidak menarik. Bukan teater itu. Karena teater itu seni yang demokratis.
P: Demokratis?
GM: Ya, karena dalam teater tidak ada yang memonopoli kebenaran. Teater terbangun dari dialog. Teater bisa dicapai bukan dengan pidato, tapi dengan membuat teater sebagai sebuah peristiwa. Dari dulu saya menyebut teater itu peristiwa, bukan cerita, pesan dan akting saja. Totalitas dari apa yang terjadi di panggung dan di luar panggung sekeligus yang resonansinya ke mana-mana, dan punya dinamika sendiri. Selalu ada sesuatu yang tidak direncanakan sutradara.
P: Selama ini teater tidak menjadi bentuk kesenian yang bisa diapresisasi secara populis?
GM: Bisa. Teater ketoprak bisa, ludruk dan lenong juga. Tapi ya itu karena teater dijalankan sebagai sebuah peristiwa. Selalu ada improvisasi.
P: Agak sulit mengkategorikan King’s Witch dalam bentuk seni pertunjukan, teater atau opera?
GM: Dalam opera biasanya satu aktor satu karakter dia yg menyanyi mengucapkan dialog. Di sini satu aktor menjadi suatu peran dan suatu pencerita. Misalnya ada cerita mengenai ada raja berjalan, dia berjalan. Bercerita tentang raja, dia ikut jadi raja. Kedua, ini gerak tari ini dikombinasi dengan vokal, sementara yang vokal tidak bergerak, yg bergerak tidak bernyanyi. Tapi juga bukan penyanyi latar, karena membentuk dunia sendiri.
Yang lain dari King’s Witch ini, pertama, dalam bahasa Inggris. Memang ditujukan bagi audiens Amerika waktu itu. Berhubung pesanan yang diterima Tony dari seorang konduktor Julliard School of Music, saya tulis untuk itu.
Seperti ini belum pernah saya lihat. Apakah ini masih disebut opera atau kita memang tidak perlu memakai nama.
P: Apa maksud mempertemukan legenda klasik dengan musik kontemporer dan modernitas seperti sistem mekanik dalam tata panggung?
GM: Untuk membuat kontras. Kesenian itu paling bagus kalau unsur tidak terduga-duga menjadi penting. Di sini kan tidak terduga-duga, kok cerita Calon Arang ada perabot macam ini. Seperti pabrik ini.
P: Bagaimana metode penulisan libretto-nya, musik duluan atau sebaliknya?
GM: Sebetulnya saya menulis puisi saja, kemudian Tony bikin musiknya. Nggak ada nyanyi dulu baru bikin liriknya.
P: Jadi musikalisasi puisi?
GM: Iya. Musikalisasi puisi dalam artian yang sangat longgar. Kadang-kadang dinyanyikan kadang kadang ngomong.
P: Tentu saja Anda terlambat memasuki dunia teater?
GM: Terlambat tapi senang. Saya hidup sebagai wartawan bertahun-tahun, senang tapi hati saya selalu pada kesenian. Cinta pertama saya kesenian. Jurnalisme juga karena penulisan. Kalau bukan karena penulisan, nggak mau. Dan, kedua, bisa mendatangkan uang banyak (tertawa). Kalau sekarang anak saya sudah besar, istri saya bekerja. Dia bilang biar sajalah dia jadi seniman. Jadi ditolerir. Menjadi gila yang ditolerir (tertawa).
P: Dalam King’s Witch kenapa tidak pakai musisi lokal?
GM: Mereka yang ingin, ini karena usul mereka juga. Ini kan sudah dipentaskan di New York tahun 2000. Mereka merasa berutang pada Indonesia, sumber dari karya ini. Karena ini karya orang Indonesia. Mereka bilang kenapa tidak kita bawakan sebagai rasa terima kasih.
Sebenarnya rektor Julliard Schoof of Music tidak mengizinkan mereka pergi karena travel warning. Kalau atas nama Julliard mereka bertangung jawab. Mereka nekat membentuk orkes baru, Continuum Ansamble, khusus untuk ini. Tapi semuanya orang Julliard.
P: Anda yakin formula King’s Witch itu bisa diterima audiens?
GM: Nggak tahu saya (tertawa). Itu tafsir Tony dan Yudi (Ahmad Tajudin, sutradara panggung, red). Saya kan cuma libretto-nya.
P: Teks libretto itu kan memainkan peran penting?
GM: Iya. Saya kira tafsiran saya ingin memberi tempat pada Calon Arang dan Manjali yang selama ini tidak diberi tempat. Mungkin sudah waktunya orang diberi tahu. Kalaupun tidak menerima paling tidak orang tahu dalam setiap cerita itu ada yang hal yang dihilangkan, dan itu harus dibangkitkan lagi.
P: Seperti dulu Anda menafsirkan Malin Kundang?
GM: Iya, saya menafsirkan kenapa Malin Kundang harus terikat. Jangan-jangan masalahnya bukan dia mengkhianati ibunya. Dia ingin melepaskan diri dari suatu masa lalu. Kenapa tidak boleh. Sejarah terbentuk dari pelepasan diri dari masa lalu. Kalau tidak, tidak ada revolusi.
P: Kenapa dalam legenda kita selalu ada yang jahat, dan harus ada yang dikorbankan?
GM: Di mana-mana begitu. Di seluruh dunia legenda begitu. Tapi ketika didongengkan pada anak-anak menjadi cerita moral. Ajaran moral. Padahal harusnya lebih kaya dari itu.
P: Ajaran moral itu pasti mengabdi pada suatu kepentingan, dalam hal ini orang tua?
GM: Betul. Betul begitu. Moralnya menjadi versi orang tua. Cerita Bawang Merah Bawang Putih, yang bagus bawang merahnya, karena baik sama orang tua. Jelas, karena maunya orang tua anak-anak patuh. Dalam setiap dongeng itu ada politik, dan kita harus membongkar itu. Selalu ada yang dilupakan. Seperti dalam Mahabarata. Saya menulis Kali di Seattle itu, dan nanti juga akan saya pakai dalam Bisma Bisma, kenapa orang tidak mendengarkan Kurawa? Kenapa kesedihan-kesedihan Kurawa tidak didengar. Mereka sudah kalah, dianggap jahat, dipikir tidak pantas didengar. Dalam Bisma Bisma nanti adegan pertama adalah Destarastra dan istrinya (Gandari, red). Dia kan buta, dan istrinya menutup matanya seumur hidup. Muncul bagaimana kengerian mereka, ketika saudara-saudaranya mati dan anak-anaknya hilang. Lihat dong orang-orang ini dikutuk beramai-ramai. Sama seperti waktu PKI dikutuk beramai-ramai.
P: Bagaimana rencana mementaskan Bisma Bisma dan Tan Malaka?
GM: Bisma Bisma tahun depan, dari cerita Mahabarata, bentuknya tari setengah tradisi. Kalau umur saya panjang dan sehat, dan ada duit (tertawa). Dan ada teman-teman yang membantu. Tan Malaka cukup berat. Naskahnya belum selesai tapi desain sudah ada. Akan dibuat dalam koratorium acapella, komposisinya dari Tony.
P: Apa yang ingin diangkat dalam Tan Malaka?
GM: Mungkin tentang usaha pembebasan dalam sejarah manusia. Indonesia ini begitu banyak yang dahsat, luhur, tapi banyak sekali yang tidak terpenuhi. Dalam sejarah kan selalu begitu. Dimulai dengan niat yang besar, berakhir dengan kekecewaan. Tapi bukan berarti niat yang besar itu salah. Jadi bukan riwayat hidup Tan Malaka. Saya tidak bisa bikin yang seperti itu. Mungkin beberapa passage tentang Malaka, surat-suratnya, komentar-komentarnya ada. Ini dalam bentuk koratorium. Tony yang bikin musiknya.
P: Anda punya rencana untuk membangun Teater Utan Kayu (TUK) yang baru di Pejaten. Sudah dimulai?
GM: Baru minta izin, desainnya sudah selesai, dari Marco (Kusumawijaya), cs. Mereka itu semua nggak dibayar, karena kita nggak punya duit. Mudah-mudahan bisa tahun 2008 dibuka, kalau disetujui teman-teman.
P: Karena Anda yang minta maka mereka tidak berani minta bayaran?
GM: Nggak, mereka tahu saya nggak punya duit, dan ini kan bukan untuk perdagangan.
P: TUK lama tidak akan ditutup?
GM: Saya akan berusaha tidak akan menutup. Yang penting ada duit untuk membikin program dan tenaganya. Kalau ada yang baru, kita perlu kurator lain, atau yang lama dipindahkan dan TUK lama perlu kurator baru.
P: Karena nilai sejarahnya?
GM: Ya, TUK yang selama ini kan bersejarah. Harga sejarahnya begitu besar. Itu salah satu simpul gerakan pusat perlawanan terhadap Soeharto. Pada awalnya tempat pertemuan untuk gerakan pro demokrasi. Sebelumnya itu tempat penerbitan buku Tempo. Tempo dibredel nggak berfungsi karena dananya nggak ada. Lalu dipakai untuk ISAI (Institut Studi Arus Informasi). Lalu karena tempat itu banyak dicurigai, kita bikin teater, galeri, untuk sembunyi sebenarnya. Semacam kamuflase. Kemudian menjadi makin kuat dengan sendirinya. Kamuflasenya kemudian ekfektif karena orang tahu saya juga seniman. Kalau saya aktif di politik saja, lalu tiba-tiba berkesenian kan mencurigakan.
P: Dana untuk membangun TUK yang baru dari uang sangat banyak yang Anda dapat dari Dan David Prize di Israel?
GM: Yang perlu dana tidak hanya TUK. Tadinya kami berdebat. Apakah uang yang ada didepositokan lalu bunganya untuk membiayai program rutin TUK yang sekarang. Yang sekarang cukup berdarah-darah, minta dari kiri-kanan.
P: Apa proyeksi untuk TUK yang baru?
GM: Sekarang ini di Jakarta dengan segala bangunan teater, tidak ada teater black box, teater rata, yang sederhana. (Posisi panggung) fleksibel, bisa penonton berkeliling atau penonton tapal kuda. Itu banyak di Amerika. Kapasitasnya cuma 200 orang. Teater yang besar itu akan menimbulkan program maintenance, dan harus mendatangkan yang laku banget. Dan yang laku banget belum tentu yang bagus. Kebetulan ada rezeki dan ada tanah, ya sudah.
Teman-teman bilang kita bangun saja yang baru, juga karena ini akan mendekati pusat-pusat universitas, Universitas Indonesia, Universitas Nasional, Universitas Pancasila. Dan menurut saya dunia universitas dan generasi muda akan lebih dinamis, dan berpikir bebas dari dogma dari fanatisme kalau bergulat dengan kesenian. Ide-ide yang seLalu baru dan mempersoalkan doktrin-doktrin. Mudah-mudahan anak muda itu tidak hanya terlibat dalam kegiatan yang berkutat dalam dogma, doktrin dan ajaran sekolah. Dengan kesenian kita bisa menghargai ambiguitas, kontradiksi. Ketidakpastian, ketidakekalan.
P: Realitasnya, sistem pendidikan mengarahkan murid untuk berkacamata kuda, melupakan dunia luar?
GM: Betul itu nggak bisa dihentikan. Tapi harus diimbangi. Saya bukan Ivan Illich yang meminta sekolah dibubarkan. Tidak mungkin. Dunia memerlukan sekolah. Tapi dunia tidak hanya memerlukan sekolah. Benar kalau dikatakan pendidikan kita terdiri dari tiga bagian, satu di sekolah, dua di rumah, dan ketiga di jalan, di antara rumah dan sekolah. Jadi 30 persen pelajaran ada di jalan. Teman saya, seorang profesor sosiologi di Singapura bercerita kalau dia mengajar, anak yang pintar banyak bertanya, kritis, mendebat. Sementara yang tidak pintar, diam saja, mencatat. Waktu ujian, yang bagus itu yang diam dan mencatat. Jadi, jangan-jangan sekolah itu bukan untuk anak-anak pintar (tertawa).
P: Karena itu dulu Anda meninggalkan kuliah?
GM: Saya pilih Psikologi UI karena saya ingin belajar filsafat. Di Fakultas Sastra saya juga diterima, Sastra Perancis. Tapi tidak ada filsafat di sana. Kedua saya ingin belajar psikologi dan ketiga sosiologi. Itu semua ada di psikologi. Ketika psikotes, saya lulus. Sedikit sekali dulu yang masuk psikologi. Barangkali 17 orang.
Seleksinya pakai psikotes, fakultas lain tidak ada. Karena itu Prof Slamet Iman Santoso, dekannya, menganggap semua yang masuk psikolog jenius (tertawa). Jadi dipaksa belajar macam-macam. Bayangkan, tahun pertama belajar anatomi perbandingan, mengoperasi kodok. Itu di Kedokteran pelajaran tingkat dua. Statistik. Di ekonomi ada di tingkat dua. Filsafat, ilmu sel, ilmu jaringan. Waktu itu (Psikologi UI) baru pisah dari kedokteran, begitu banyak pelajarannya. Lalu dosennya mengajar banyak yang tidak menarik.
P: Terlalu eksak?
GM: Bukan. Mendikte. Saya belajar ilmu jaringan, di laboratorium kedokteran, itu dosennya membaca terus, kita disuruh mencatat. Waktu di SMP saya dilarang begitu oleh guru saya: jangan menghafal. Harus paham. Saya disuruh menghafal, ketika membaca nggak paham saya. Kebetulan kakak saya, Kartono kan di kedokteran, bukunya banyak dari Amerika. Saya baca itu, saya paham. Buku Amerika kan mudah. Waktu ujian saya jawab sesuai buku itu, eh salah karena tidak sesuai dengan teks yang dibaca dosen. Kecewa saya. Lalu yang mengajar sosiologi seorang Belanda yang bukan sosiolog. Karena tidak ada tenaga waktu itu. Masak kita diberi buku, terus disuruh baca keras-keras giliran, kayak di SD. Ngibulin banget.
Ada dosen lagi mengajar ilmu gestalt, psikologi. Nggak paham saya. Padahal dia lulusan Jerman. Kalau baca sendiri lebih paham. Ada asisten dosen, Anugerah Pekerti, dia menjelaskan terang sekali. Jadi gurunya menurut saya yang tidak benar.
Kemudian saya menulis juga. Banyak godaan. Mulai diterbitkan di majalah sastra. Jadi mulai besar kepala.
P: Fuad Hasan kan ada di sana?
GM: Kalau Fuad Hasan mengajar baru bagus, luar biasa terang. Tapi kebanyakan dosen lain tidak. Jadinya, psikolog menjadi tukang tes. Maaf saja. Saya tidak tertarik. Saya tertarik untuk mendapat ilmunya, karena saya ingin jadi penulis. Kata HB Jassin dalam bukunya “Tifa Penyair dan Daerahnya”, kalau mau jadi penulis, harus tahu psikologi, sosiologi, harus tahu Freud, eksistensialisme. Kalau disuruh belajar yang lain-lain saya tidak tertarik.
P: Dari Batang ke Jakarta, memang untuk jadi penulis?
GM: Ya. Sekolah paling baik waktu itu ya di UI karena ada psikologi dan saya mau mempelajari ilmunya. Tapi saya tidak ingin menjadi psikolog. Seperti juga, mungkin Putu Wijaya tidak tertarik untuk menjadi sarjana hukum. Dia lulus Fakultas Hukum, tapi kalau ditanya sekarang, nggak tahu apa-apa dia.
——————
Wawancara dengan Alferd Ginting dari Playboy Indonesia. Wawancara ini dimuat di Playboy Indonesia edisi April 2007.
Pemikiran GM tidak formal, selalu segar dan menginspirasi. Walaupun bukan birokrat tapi layak mengilhami birokrat untuk bekerja lebih baik, walaupun bukan politisi tetapi banyak pelajaran yang bisa diambil dri GM tentang implementasi politik untuk membangun rakyat.