…Saya Tak Bisa Jadi Ateis
Pada Jumat sore, 25 Januari 2008, redaktur Madina, Ihsan Ali-Fauzi dan Hikmat Darmawan, bercakap-cakap dengan Goenawan Mohamad di Bakoel Coffie Cikini, tentang Tuhan para penyair, Rumi, perang agama, dan Reformasi yang tak menjanjikan apa-apa.
MADINA (M): Sebagai penyair, bagaimana Anda memandang pergumulan seorang penyair dengan Tuhan; apakah juga sama dengan pergumulan seorang penyair dengan teks?
Goenawan Mohamad (GM): Saya kira, kita tahu bahwa Tuhan datang ke kesadaran kita itu sebagai teks, melalui teks. Tuhan sendiri itu kan tidak pernah kita ketahui, yang kita ketahui selalu teks tentang Tuhan. Teks tidak berarti medium dalam bentuk tertulis. Tetapi teks dalam arti mediasi antara kita dan Tuhan itu sendiri, juga kesadaran kita tentang Dia. Jadi, setiap orang, baik penyair maupun bukan, selamanya bergulat dengan Tuhan adalah melalui teks.
M: Tapi, seberapa beda antara penyair dengan yang lain dalam menghayati teks itu?
GM: Saya kira, kalau ada bedanya, adalah kepekaan pada metafor. Para penyair lebih peka karena biasa berbicara dengan bahasa metafor. Bukan itu saja, karena para penyair sadar bahwa bahasa pada dasarnya adalah metafor, maka teks yang masuk dalam kitab suci maupun yang di luar itu, selalu berlaku sebagai metafor.
Ciri metafor adalah, pertama, dia mengatakan sesuatu yang lain, dari yang dimaksud. Maksud saya, bukan dia selingkuh atau menyeleweng dari yang dimaksud, tapi karena beberapa pengertian itu tidak bisa disampaikan dalam bentuk konsep. Misalnya, (kalimat) “negara membangun infrastruktur”. “Membangun” itu kan metafor, dari kata “bangun”. Dan “Negara” kan tidak bisa “membangun”.
Apalagi mengenai hal-hal yang lahir dari pengalaman yang intens, seperti pengalaman religius. Dalam hal itu, konsep tidak berdaya. Konsep itu berdaya untuk menguasai sesuatu yang disebut kenyataan… Konsep terutama berguna untuk apa yang disebut akal instrumental. Akal instrumental itu (adalah) bagaimana kita memecahkan persoalan, semisal bagaimana kita memecahkan problem managemen atau problem teknologi. Seorang filsuf Prancis, Gabriel Marcel berbicara tentang dua hal yang kita hadapi. Pertama adalah “problem”. Ini berasal dari bahasa Yunani, yang artinya ”dilemparkan ke hadapan kita” – sesuatu yang untuk diterobos. Satu lagi adalah “misteri”. Itu tidak di depan kita, tapi itu melliputi kita. Dalam menghadapi problem, kita menggunakan konsep. Di dalam misteri, kita lebih mampu menggunakan metafor. Metafor bukan memecahkan misteri seluruhnya.
M: Tapi kalau tidak untuk menguasai, untuk apa?
GM: Menguasai itu dalam arti merumuskan. Kalau puisi dan metafor kan tidak merumuskan. Misalnya, kata-kata cinta dalam sajak Rumi, kan itu tidak ada rumusnya. Cinta hanya kita alami. Jika kita kemukakan dalam kata-kata, kita hanya menangkapya sebatas yang mungkin diungkapkan kata-kata.
M: Jadi, iman sebagai pengalaman?
GM: Ya, iman sebagai pengalaman dan iman sebagai bukan kepastian. Karena itu dalam ceramah di Freedom (Institute) mengenai Atheisme, saya katakan, ‘Tuhan saya adalah Tuhan penyair; bukan Tuhan sebagai kepastian, tapi Tuhan sebagai harapan.’
M: Dan di situlah metafor bekerja?
GM: Ya, dan konsekuensinya tidak hanya bahasa, tapi juga sikap menghadapi Tuhan, sikap menghadapi sesama. Karena kalau kita menghadapi Tuhan dan sesama tidak sebagai konsep, kita akan lebih rendah hati. Seorang filsuf, Jean-Luc Marion, pernah mengatakan ada “pemberhalaan konsep.” Kalau Tuhan kita rumuskan sebagai konsep, lalu kita sembah konsep itu, maka sebetulnya (kita) mereduksi Tuhan ke dalam sesuatu yang bisa didefinisikan, yang bisa dinamai… Sedang sikap menghadapi Tuhan itu berbeda bila kita lebih rendah hati bahwa kita tidak bisa menguasai pengertian tentang Tuhan. Itu yang saya sebut bagian “etika kedhaifan”, bahwa kita ini sebenarnya dhaif. Dan di situ, metafor mendapatkan tempatnya, dalam kedhaifan itu. Metafor tidak berpretensi menjelaskan semuanya, dan selesai dengan penjelasan yang ada itu.
M: Anda agaknya, belakangan ini, sedang dekat dengan agama atau Tuhan. Apa itu betul?
GM: (Tertawa) Saya ini tidak pernah amat jauh dari agama, tidak pernah dekat dari agama. Selalu berjarak. Mungkin waktu kecil lain, waktu kecil malah dulu lebih religius; saya kan sekolah madrasah juga, meskipun tidak ‘hebat’. Tapi sekarang ini, dalam banyak hal, agama itu mengecewakan. Tidak hanya Islam, tentu saja. Fundamentalisme Kristen di Amerika saat ini juga menakutkan. Misalnya, sikap mereka dalam menghadapi masalah Palestina, bukannya mencari perdamaian tapi mengojok-ojok ikut agar perang. Karena mereka percaya bahwa kalau perang terjadi di Timur Tengah, Armagedon akan terjadi, dan Yesus akan datang untuk Kebangkitan Kedua. Juga fundamentalisme Yahudi, yang menyebabkan sifat sekuler dan demokratis Israel jadi rusak, dan intoleransi menjadi-jadi, hingga terjadi pembunuhan terhadap Yitzhak Rabin, kebencian kepada orang Palestina.
Fundamentalisme Hindu di India membakar masjid Ayodya, karena mengatakan bahwa itu dulu kuil Hanoman. Fudamentalisme Islam sama saja. Kalau itu yang terjadi, lalu agama untuk apa, selain mengukuhkan kebencian dan kekerasan?
M: [Majalah] “The Economist”, dalam sebuah laporan khususnya, juga bilang bahwa satu abad ke depan, akan terjadi perang agama baru dalam berbagai bentuknya….
GM: Sebetulnya yang disebut perang agama ini kan selamanya adalah perang dengan argumen agama. Perang ya perang saja. Seperti perang di Eropa yang 80 tahun itu. Itu perang antara kepentingan-kepentingan lokal dengan gereja Romawi. Sama dengan yang sekarang di Palestina. Palestina adalah tragedi paling dahsyat dalam abad 20, sampai sekarang. Dulu, Palestina dimulai dengan janji Marxisme yang akan membebaskan rakyat Palestina. Marxisme gagal. Kemudian, nasionalisme, PLO, gagal juga. Nah, sekarang Islam.
Problem timbul ketika agama, baik Yahudi mau pun Islam, dipakai untuk menjadi substitusi nasionalisme: seperti saya tulis dalam buku itu, ketika cita-cita tentang tanah yang dijanjikan itu menjadi eskatologi baru. Artinya, ada sikap menantikan surga baru yang dijanjikan. Makin kecewa, makin intens rindu surga itu. Maka segala hal ikut dikorbankan, dan mudah terjadi kekecewaan. Karena dunia tidak akan pernah jadi sorga, sehingga ada spiral kekecewaan dan kekerasan.
M: Kembali ke soal penghayatan agama secara pribadi. Kalau melihat sajak-sajak Anda dari muda itu dulu, ketika Anda menulis tentang penghayatan agama dalam tiga waktu, tentang pengalaman di gua Hira, hingga sekarang …bagaimana Anda menggambarkan perkembangan relasi Anda dan agama?
GM: Saya kira, saya tidak bisa jadi Atheis, tidak bisa tidak percaya akan adanya Tuhan. Dipaksa pun tidak bisa, untuk tidak percaya. Paling tidak, saya tidak bisa membuktikan bahwa Tuhan tidak ada. Karena bagi saya, Tuhan itu selalu hadir ketika ada perbuatan baik yang sangat besar, keikhlasan yang sangat tulus yang bisa memperbaiki keadaan biar pun sebentar. Ketika penderitaan begitu hebat, dan ada perbuatan baik, di situ Tuhan seakan hadir. Tuhan juga hadir ketika keindahan begitu mencekam, atau ketika orang bisa menghibur mereka yang putus asa dengan keburukan-keburukan yang terjadi. Jadi, itu menyebabkan saya percaya pada, katakanlah, kehadiran hidup. Tuhan yang hidup.
Nah, dalam kehidupan agama zaman sekarang — seperti di zaman al-Ghazali di abad 11, dan itu ia sebut dalam otobiografinya — orang lebih pandai berbicara tentang hukum perceraian secara detail daripada menghayati kehadiran Tuhan dalam hidup. Itu al-Ghazali setelah dia lebih ke arah sufi. Dan itu saya kira, semacam kemurungan hidup beriman – sesuatu yang dimulai dari pengalaman di gua Hira yang sendiri, miskin, ketakutan, rindu, kagum, tercengang. Sayangnya, kini hidup beriman berarti mendirikan mesjid yang berkubah emas, naik haji 17 kali, dan iman kembali direduksi jadi aturan-aturan.
M: Sebagai penyair, apakah Anda menangkap Rumi adalah salah satu model beragama yang khas?
GM: Saya tidak mengenal Rumi dengan baik. Saya hanya membaca-baca buku dalam bahasa Inggris. Rumi sekarang kan menjadi duta besar Islam di seluruh dunia yang paling efektif. Buku-bukunya itu best seller terus, justru sejak 11 September. Itu ada untungnya, ada tidaknya. Untungnya, Rumi menjadi semacam simbol yang dikaitkan dengan iman yang indah, cinta, dan damai. Bagus, saya rasa itu. Hanya saja, dalam iman itu juga ada kesakitan, kekurangan, kehampaan. Dan dalam hal itu, mungkin saya tidak terlalu ‘masuk’ dalam Rumi betul.
Namun, di dalam satu masa ketika agama menjadi bagian dari mekanisme kebencian, Rumi adalah alternatif yang baik. Rumi memberikan sesuatu yang dirindukan, wajah senyum agama, bukan wajah bersungut-sungut dan marah. Dan itu punya peran sendiri, dan itu bagus.
Cuma bagi saya Rumi tidak cukup menggetarkan. Mungkin karena sudah terlalu banyak dirayakan.
M: Kalau penyair yang membuat Anda lebih tergetar dalam hal topik sejenis itu, ada tidak?
GM: Banyak sekali, ya. Amir Hamzah, Chairil Anwar, Sutardji Calzoum Bachri, Rendra, Subagio Sastroardoyo, Sitor Situmorang, Sapardi Djoko Damono, dan lain-lain yang lebih muda sekarang — ketika mereka mengangkat topik religius. Juga meskipun tidak.
Kan agama dan Tuhan itu tidak hanya waktu kita ngomong soal agama. Mungkin Tuhan malah sama sekali tidak disebut. Bahkan mungkin sikap religius yang terbagus adalah ketika Tuhan tidak disebut.
M: Dalam tatal ke-35 di buku “Tuhan & Hal-hal yang Belum Selesai”, Anda menceritakan semacam epifani pada suatu pagi, tentang hal-hal kecil yang tersingkir, yang dilupakan. Seolah-olah pada saat itu Anda menemukan bahwa revolusi itu seolah-olah berlawanan dengan hal-hal kecil dan tersisih itu. Agaknya itu yang membentuk pikiran atau sikap Anda selanjutnya ya?
GM: Saya kira betul, tapi bukan revolusi itu yang saya keluhkan, melainkan bahwa ada kecenderungan untuk memuja konsep besar, memuja narasi besar, dan membikin semuanya abstrak. Jangan lupa, waktu itu ideologi-ideologi besar kan bergumul, terutama di sekitar Marxisme. Dan itu yang menyebabkan saya merasa kok hal-hal kecil itu terlupakan. Mungkin karena saya menulis puisi, dan puisi saya tidak pernah ingin menggunakan konsep. Puisi saya bukan puisi ide, bukan puisi pernyataan, sehingga mungkin lebih mudah terseret ke dalam soal yang kecil-kecil.
M: Dan apakah itu mewarnai aktivisme Mas Goen setelah itu, baik sebagai wartawan mau pun sastrawan? Sepertinya, Anda mengembangkan perlawanan estetis?
GM: Kalau yang Anda maksud perlawanan terhadap Orde Baru, saya kira perlawanan saya bukanlah perlawanan estetis. Saya bekerja dengan anak-anak PRD dan lain-lain. Bagi saya, hidup tidak semuanya puisi. Ada penyair-penyair yang mungkin menganggap bahwa dengan puisi yang revolusioner, dia bisa mengubah dunia. Saya tidak percaya itu. Untuk mengubah dunia, Anda harus melakukan kegiatan revolusioner. Puisinya boleh bicara mengenai bulan, dan sebagainya. Kalau Anda baca puisi Ho Chi Minh, tidak ada kata-kata revolusi, ganyang Amerika, ganyang penjajahan. Mao Zedong juga tidak banyak membuat puisi yang begitu, tapi dia bekerja untuk revolusi. Saya menganggap mereka model yang baik, jadi kerja revolusi ya kerja revolusi, kerja politik ya kerja politik.
Tapi jangan sampai menelan kamu seluruhnya. Juga, jangan kamu ditelan puisi seluruhnya. Selalu ada momen-momen yang saling menohok. Jangan satu hal pun menjadi total, karena diri kita sendiri tidak pernah total.
M: Sekarang sudah hampir 10 tahun reformasi. Bagaimana Anda memandang apa yang sedang terjadi kini?
GM: Sekarang ini berbeda dengan masa Demokrasi Terpimpin dan Demokrasi Orde Baru. Sekarang ini bahkan presidennya dipilih langsung oleh rakyat. Belum pernah dalam sejarah Indonesia, presiden dipilih rakyat langsung.
M: Tapi sudah 10 tahun, lho. Mulai banyak orang yang gelisah, bertanya-tanya apa yang dijanjikan oleh reformasi itu sekarang?
GM: Reformasi itu tidak menjanjikan. Reformasi adalah keinginan untuk memperbaiki selalu. Inilah baiknya demokrasi, yang bertolak dari kedhaifan. Demokrasi dimulai dari kekurangan. Pengakuan bahwa tidak ada sistem yang sempurna, tapi ada sistem yang selalu bisa diperbaiki dengan reguler dan damai. Demokrasi adalah mekanisme dari makhluk yang terbatas.
Reformasi tidak melahirkan kesempurnaan. Reformasi hanya membuka jalan ke arah perbaikan yang teratur dan damai. Dan saya kira itu yang terjadi sekarang.
M: Apa tidak cemas akan terjadi kekecewaan, dan kemudian aksi kekerasan seperti kudeta?
GM: Harus cemas. Tapi kalau itu yang dicemaskan, bukan kita lalu mengeluhkan demokrasi. Jangan lupa, konstitusi kita ini tidak diberikan oleh seorang bapak di atas, tetapi diperjuangkan. Munir meninggal karena itu. Satu teman saya dari PRD, tidak pulang.
Saya ingin menunjukkan atau memberikan gambaran yang lebih baik tentang keadaan kita. Coba pikirkan, dalam sejarah Indonesia dari zaman Majapahit, baru zaman ini begitu banyak orang dipenjara karena korupsi. Setelah demokrasi terpimpin, demokrasi Orde Baru, baru zaman ini orang punya pers bebas dan tidak usah pakai izin, sehingga di daerah-daerah dan di kampung-kampung bisa terbit. Di dalam sejarah Republik Indonesia, baru zaman ini walikota dan bupati dipilih langsung. Dan desentralisasi adalah revolusi diam-diam dari Republik. Republik ini berubah, tapi orang tidak sadar kalau itu perubahan besar. Kalau dibilang 10 tahun itu tidak menghasilkan, itu tidak benar.
M: Barangkali perlu ada lebih banyak pembahasaan demikian, bahwa keadaan ini bisa dipandang sebagai lebih baik?
GM: Tetap perlu ada orang yang mengeluh.. Keadaan tidak akan sempurna, memang. Seperti sekarang, pemerintah salah dalam soal pangan atau kedelai. Mereka salah karena tidak antisipasi. Tapi menyalahkan SBY sepenuhnya? Tidak bisa. Waktu zaman Soeharto, RRC belum tumbuh perekonomiannya. Juga India. Begitu Orde Baru jatuh, RRC menjadi negeri kapitalis yang besar. Kapitalis dengan cara mereka, tentu saja. Bukan hanya itu. karena jumlah penduduknya yang begitu besar, mereka bisa membikin suatu produksi berdasarkan ekonomi berskala besar. Misalnya, bikin sepeda untuk pasar RRC bisa 40 juta buah, dan itu kembali modal. Sisanya, bisa dijual murah.
Dengan kata lain, Indonesia yang sekarang masuk dalam satu arena yang berbeda, tidak bisa dibandingkan. Bayangkan, soal kedelai, misalnya: 70% dari kebutuhan RRC diimpor, dan itu negeri yang 5000 tahun yang lalu sudah menanam kedelai. Mau tak mau, harga di pasar dunia naik.
Tapi tak berarti kita tidak salah. Sebab, Brazil bisa melakukan yang berbeda sama sekali, juga Argentina. Mereka jadi pengeskpor kedelai terbesar, mungkin setelah Amerika, mungkin juga lebih dari Amerika, mungkin hampir sama. Nah, kita kalah.
M: Jadi, dengan segala kesadaran akan sistem yang berangkat dari kedhaifan ini, apa yang tepatnya perlu dilakukan untuk Indonesia sekarang?
GM: Saya berkiblat pada Cak Nur saja, sewaktu ditanya: perbaikan harus dimulai dari mana? Jawab Cak Nur: dari mana saja. Saya kira betul. Kalau kita mikir dari-mana-dari-mana-nya, pasti kita tidak akan mulai sama sekali. Saya melakukan sesuatu di kesenian, Anda di pemikiran agama atau penerbitan. Yang tidak melakukan apa-apa… Majelis Ulama (tertawa). Nah, kalau bisa mengubah keadaan dengan cara radikal boleh saja. Tapi kalau harus menunggu perubahan radikal, lalu kita tidak melakukan hal-hal yang kecil, itu menurut saya salah.
Ada lagi yang bisa dilakukan. Waktu kami dulu melawan Soeharto, kita tidak ada pikiran bahwa dia akan jatuh tahun 1998. Tempo dibredel pada 1994. Saya mulai bergabung dengan gerakan tahun 1995. Kami berpikir, 20 tahun lagi rezim ini akan bertahan, barulah akan jatuh, mungkin juga tidak jatuh. Jadi?
Ada dua pedoman kami dalam berjuang. Pertama, dari Arief Budiman: you fight and have fun. Kalau kalah, kamu masih punya fun. Perlu ada ironi, ada jarak juga terhadap perjuangan. Yang kedua, ada ilham yang kami dapat dapat dari kalangan HAM di dunia. Semboyannya begini, “jangan kutuk kegelapan, nyalakan lilin”.
Sekarang, bangsa Indonesia mengeluhkan kegelapan. Tapi, mana lilinmu? Dalam setiap perbuatan baik, ada maknanya. Seperti yang saya katakan tadi, ketika ada penderitaan atau kekurangan, kehadiran Tuhan terasa. Mungkin dunia tak akan berubah drastis (dengan perbuatan-perbuatan kecil itu). Tapi, dunia kan memang tidak pernah berubah drastis.
Dipublikasikan pertama kali di “Majalah Madina”, Edisi Februari 2008
dulu saya pernah baca ini, tapi lupa di mana. membaca lagi, nggak bosan. :)
GM tidak bisa membuktikan kalau Tuhan itu tidak ada, dan sebaliknya…
Saya tidak tahu apa istilahnya.. (agnostic ?)
Perlu kejujuran, keberanian dan kematangan berpikir untuk bisa mengatakan Saya Ateis
pemaparan yang berujung kepada “rumit (melebar)”, mungkin itu bagian “gelap (misterius)” dari diri Goenawan Mohamad,
dengan “nyalakan lilin” pemaparannya jadi “benar benar terang”
Sebagai orang islam, saya mungkin hampir kehilangan keyakinan. Pakdhe saya yang seorang kyai selalu mengatakan “Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum jika kaum itu tidak mengubahnya sendiri”. Tetapi ada ironi pada ayat di atas. Saya ingin mencontohkan : “Bangsa Jepang yang sama sekali tidak mengenal Allah & ayat di atas bisa menjadi bangsa yang sukses di muka bumi ini”. Coba bandingkan dengan bangsa Palestina, Iraq, maupun Afganistan. Mereka tiap hari menyembah Allah dan berjuang hingga mengorbankan nyawa. Tetapi apa hasilnya? Apakah Allah mengubah nasib mereka? Inilah yang mungkin salah satu hal yang mengikis keimanan saya sehingga saya berkesimpulan Allah itu hanya omong kosong.
NB : Teman saya yang islam taat berkomentar, “Memang orang Jepang itu hebat tetapi mereka kafir, nggak bakalan masuk surga”. “Mendingan orang islam yang goblok, mereka langsung masuk surga karena nggak bakalan ditanya macam2 sama malaikat.”
Saya punya seorang kawan yang mengaku kalau di adalah seorang agnostic. Kurang lebih dia mengatakan, “theisme dan atheisme adalah dua kebodohan yang sama dengan nama yang berbeda”. Secara tidak langsung ia hendak mengatakan, “orang-orang yang bertuhan dan tidak bertuhan itu bodoh, yang pinter itu ya yang agnostic seperti saya, kan ada tidaknya tuhan tidak bisa dibuktikan sampai saat ini”. Meskipun secara formal ia menyebut dirinya agnostic namun pada prakteknya, terutama tulisan-tulisannya sangat jelas terlihat bahwa sebenarnya ia seorang atheis. Menurut dugaan saya, teman saya ini terlalu gengsi untuk mengakui keyakinannya bahwa tuhan itu tidak ada. Ia takut terlihat bodoh jika sampai menyatakan menyakini sesuatu. Orang cerdas selalu skeptik, mungkin begitu yang ada dalam pikirannya. Sekarang ini dia sedang harap-harap cemas menanti hasil eksperimen di Large Hadron Collider, karena menurutnya hasil eksperimen tersebut memiliki korelasi kuat kepada pembuktian ada tidaknya tuhan. Saya yakin dia berharap hasilnya akan menyokong ke pendapat bahwa tuhan itu tidak ada, meskipun ia mengaku agnostic. Agnostic yang berpihak (munafik?) lebih tepatnya. Saya sependapat dengan sodari Angelina, sepertinya pak GM adalah seorang agnostic sama seperti teman saya. Cuma bedanya pak GM lebih “cenderung” ke theisme daripada atheisme. Dengan penjelasan yang rumit dan canggih disertai kutipan dari pemikir-pemikir ternama (plus kitab suci!), pak GM tidak berani dengan tegas menyatakan ada tidaknya tuhan. Argumennya: tuhan melampaui esensi dan eksistensi! Terus terang saya tidak paham dengan apa yang dimaksud dengan melampaui esensi dan eksistensi. Adakah hal lain selain ADA dan TIDAK ADA? Semoga saja jawabnya bukan antara ada dan tiada seperti judul lagunya Utopia. Saya juga melihat bahwa pk GM tidak adil (parsial) dalam mengutip, dalam artian bahwa hanya mengutip yang “mendukung” pemikiran beliau tapi mengabaikan yang lain yang tidak mendukung padahal sumbernya sama. Contohnya dalam tulisan berjudul “Tentang Atheisme dan Tuhan yang tidak harus ada” pak GM kurang setuju dengan konsep “Tuhan yang Esa” karena esa berarti satu dan jika tuhan dapat dihitung maka akan setaraf dengan benda, padahal tuhan tidak bisa disamakan dengan benda. Pak GM mengutip Quran surat Al Ikhlas ayat terakhir, “tak suatu apa pun yang menyamai-Nya”, karena ayat ini “mendukung” pemikiran beliau tersebut maka dikutip. Di sisi lain pak GM (sengaja) mengabaikan ayat pertama surat yang sama, “katakanlah, Tuhan itu satu” karena tentu saja akan kontra produktif dengan pendapat ketidaksetujuan atas keesaan tuhan. Bagi saya ini adalah sebuah kecurangan. Argumen “jika tuhan dapat dihitung (satu) maka tuhan akan sama dengan benda” menurut saya adalah konyol. Itu sama saja dengan mengatakan “tuhan harus berbeda dengan manusia, karena manusia ada maka tuhan harus tidak ada”. Maka sebagai jalan “tengahnya” ya itu tadi, pak GM berpendapat/sependapat bahwa tuhan berada di luar ADA dan TIDAK ADA. Apakah itu? Saya tidak tahu. Otak saya terlalu lemah untuk berpikir sampai ke sana.
hahahahahahaha, komentar diatas lucu! terjebak dalam teks (saya membacanya bahasa).
seolah dengan mengkotak-kotakkan atheis, theis dan agnostic, maka semua akan jelas sejelas-jelasnya. seperti pengharapan akan kejelasan ada dan tidak ada tuhan.
dalam pandangan saya: sesuatu yang dikatakan tuhan itu ada di luar bahasa. sesuatu yang tidak tercapai, namun nyata di sekitar. sehingga, tidak perlu sebuah definisi Tuhan, Allah, Jesus, (tidak) ada, (a)theis, untuk mencapai keyakinan itu. semakin kita berusaha mendefinisikan, semakin kita mereduksi sesuatu itu menjadi sesuatu yang terpenjara, terkungkung, tidak bebas. pada akhirnya mengikat kita pada sebuah konsep, yang memberhala seperti agama.
sehingga biarkan sesuatu yang kita tidak tangkap itu, menjadi sesuatu yang diluar bahasa, namun terkadang terbahasakan. cukup ditarik ulur untuk bercengkrama dan berhubungan intim. di luar itu, bebas!
jikapun, kata-kata saya tidak dipahami, wajar. toh, kontruksi pemikiran tiap orang berbeda, tergantung bagaimana dia membuka diri dan mempertahankan diri. jadi, selebihnya: mari kita saling mentertawakan (kebodohan) masing-masing saja.
Apakah Tuhan itu ada?
Orang-orang beriman akan menjawab ADA.
Orang-orang kafir akan menjawab TIDAK ADA.
Para pengecut akan menjawab dengan permainan kata-kata yang berbelit-belit, karena sesungguhnya mereka (para pengecut itu) tidak punya cukup keyakinan untuk mengakui keberadaan Tuhan sekaligus tidak punya cukup keberanian untuk menyatakan ketidakadaanNya.
for anonim:
saya ragu anda kyai,atau anda mengada-adakan definisi kyai pada diri anda,padahal sifat kyai tidak menempel pada diri anda?
Semua terjebak, kita jalankan saja kepercayaan kita masing-masing yang tidak boleh adalah saling menyerang. Semua mengalami berkeTuhanan ataupun tidakberkeTuhanan dan itu terus berkembang dan nantinya kan kita yang mengambil resiko yang terpenting selalu mengisi kekurangan dan berjuang untuk kebaikan tanpa pamrih dan ichlas hidup dalam kedamaian abadi
Kebanyakan orang…tidak semua orang, mengaku memiliki “tuhan” hanya karena mereka takut untuk menghadapi kematian, untuk menenangkan kegalauan hatinya atas misteri yang apa yang akan terjadi setelah kematian. Ketuhanan yang munafik dengan dasar egoisme untuk menyelamatkan diri sendiri. Saya jadi ingat lagunya alm Chrisye, …jika surga dan neraka tak pernah ada…
Saya mengagumi orang yang belajar agama dengan passion, dengan pikiran bahwa dia memerlukannya sebagai bekal untuk hidupnya, untuk menambah hikmatnya, bijaksananya. Membaca kitab suci untuk berusaha mengerti dan menjadi berhikmat…bukan membaca kitab suci supaya masuk surga …