Esei • Kamis, 11 November 2010 @ 17:17 diunggah oleh zen

Maridjan

marijan1

Mbah Maridjan: sebuah pertanyaan. Ia tewas di tempatnya bertugas di Gunung Merapi, karena ia sejak lama menolak turun menghindar dari letusan yang telah berkali-kali menelan korban itu. Kesetiaannya mengagumkan, tapi apa arti tugas itu sebenarnya?

Ia, meninggal dalam usia 83, mungkin sebagai pelanjut dari alam pikiran yang dikukuhkan Kerajaan Mataram sejak abad ke-17. Ia pernah bercerita, Merapi adalah tempat terkuburnya Empu Rama dan Permadi, dua pembuat keris yang ditimbuni Gunung Jamurdipa karena telah mengalahkan dewa-dewa. Kedua orang itu tak mati. Mereka hidup, menghuni gunung yang kemudian disebut Merapi itu-yang jadi semacam keraton para arwah. Dan ke sanalah Raja Mataram (Islam) pertama, Panembahan Senapati (1575-1601), mengirim juru tamannya yang berubah jadi raksasa. Si raksasa diangkat sebagai “Patih Keraton Merapi”, dijuluki Kiai Sapujagat. Dengan itu, Panembahan Senapati, yang dikisahkan mempersunting Ratu Laut Selatan, menunjukkan bahwa kuasanya juga membentang ke arah utara. Dan di situlah pelanjut Kerajaan Mataram, atau Yogyakarta sejak abad ke-19, mengangkat orang untuk jadi kuncen Merapi.

Maridjan, yang biasa dipanggil “Mbah”, sejak 1982 diangkat Hamengku Buwono IX untuk tugas itu. Betapa penting kehormatan itu bagi si jelata yang lahir di Dukuh Kinahrejo di kaki Merapi itu. Ia menyandang gelar kebangsawanan “Raden”; nama resminya Surakso Hargo.

Lanjut..

Bookmark and Share
Esei • Jumat, 13 Maret 2009 @ 00:10 diunggah oleh zen

Enam Jam di Yogya

GAMELAN sayup-sayup. Seorang pemuda berpakaian Jawa keluar dari pintu. Mengendap-endap. Di luar jauh di sana, terdengar panser dan truk tentara Belanda berseliweran. Pemuda itu hati-hati menyelinap di antara rumah-rumah kampung Yogya yang pada itu, lalu menghilang.

Di waktu subuh, ia kembali ke rumah tempatnya menumpang. Ia berusaha agr langkahnya tak membangunkan induk semangnya. Tapi ketika ia naik tangga ke kamarnya sendiri di atas, ia dengar wanita itu sudah bangun di kamar bawah. Habis sembahyang subuh. Cepat-cepat ia masuk ke kamar tidurnya, berganti pakaian, memakai slaapbroek lagi, membuka jendela, dan pura-pura bangun tidur. Tapi ibu itu, masih mengenakan mukena, muncul di pintu, “Apakah Nak Mohtar baru ketemu ngarsa dalem?” tanyanya.

Pemuda itu tak bisa mengelak lagi. Rahasianya tersingkap. Wanita itu tahu bahwa pemuda yang mondok di rumahnya adalah seorang anggota gerakan bawah tanah, kurang-lebih penghubung antara para gerilyawan di gunung dan kraton Yogya yang diam-diam melawan kekuasaan pendudukan Belanda. Lanjut..

Bookmark and Share