caping • Ahad, 27 September 2009 @ 19:46 diunggah oleh zen

Yang Keras

Saya telah mengenal kekerasan, bahkan sebelum saya bisa bilang “tidak”.

Jika seorang Indonesia harus menulis autobiografinya, mungkin sekali ia akan mencantumkan kalimat seperti itu. Saya mengalaminya. Anda juga. Kita punya riwayat yang sama: sejarah sebuah negeri yang tak serta merta sunyi, tentram, damai, seperti Telaga Sarangan dalam nyanyian orkes keroncong. Tanah ini memang tanah tumpah darah.

Ingatan saya yang paling jauh ke masa kecil adalah ingatan samar-samar tentang sebuah ruang yang gelap. Si Bungsu dipangku ibu di sebuah kursi goyang. Hampir seluruh keluarga berkumpul, tapi tak seorang pun bicara.

Kemudian hari, setelah dewasa, baru saya tahu apa yang terjadi pada saat itu: kami semua bersembunyi di dalam lubang perlindungan besar yang dibangun Bapak di halaman rumah. Hari itu adalah suatu hari di masa Jepang. Kata-kata tegang, tapi menarik, dan begitu dekat, adalah “bom” dan “perang”. Dan kami ketika itu harus membiasakan diri.

Bom dan perang memang kemudian terjadi, dan terus terjadi. Masa Jepang habis orang-orang tak bicara soal merdeka. Bapak menaikkan bendera merah putih dengan mata basah. Tapi pasukan Belanda masuk kembali. Seorang penduduk tertembak kakinya. Di malam pertama pasukan asing itu menduduki kota kami, seorang pemuda pemberani melemparkan granat ke markas mereka. ia sendiri tertembak mati, dengan jidat hancur.

Lanjut..

Bookmark and Share