caping • Rabu, 10 November 2010 @ 17:21 diunggah oleh zen
Setelah Duryudhana mati, dan berangsur-angsur pagi meluas, dan suara gamelan bertambah pelan, tancep kayon. Dalang menancapkan lambang gunung itu di tengah-tengah layar. Kisah berakhir, meskipun sebenarnya banyak hal belum diutarakan. Pertunjukan wayang kulit semalam suntuk itu selesai.
Kayon: lambang gunung, lambang hutan, isyarat untuk awal, isyarat untuk penutup. Dari jauh bentuk itu mirip sebuah siluet segi tiga di bawah cahaya. Tapi dari dekat akan kelihatan di gunungan itu tersembunyi (dalam ukiran yang renik) pohon-pohon rindang dengan cabang yang merangkul dan pucuk yang tinggi menyembul. Ada sebuah gapura dengan tempat kunci berbentuk teratai. Ada sepasang raksasa bersenjata yang tegak simetris. Ada harimau, banteng, kera, burung merak dan burung-burung lain. Juga wajah seram banaspati.
Dengan kata lain, di gunungan itu tersimpan bermacam hal, tapi bertaut dalam satu misteri, sesuatu yang angker, tapi juga teduh: sebuah wilayah kehidupan yang lain. Ketika arena di luarnya memaparkan kisah intrik, nafsu, dan perang yang tak henti-hentinya, di kerimbunan yang agung itu hidup berlangsung anteng dan syahdu. Dalam kayon, waktu yang mengalir detik demi detik seakan-akan tak ada lagi. Di dalam gunungan, arus menit dan jam seakan-akan diinterupsi dan distop. Segala hal seakan-akan berada di luar waktu.
Tapi manusia tidak. Ia akan kembali menghadapi, bahkan terlibat dengan, peristiwa-peristiwa yang berubah dan terkadang mengguncang. Terletak terpisah tapi tak jauh dari medan peristiwa, kayon adalah sebuah kontras.
Lanjut..
caping • Ahad, 25 Oktober 2009 @ 01:10 diunggah oleh zen
This could be why in the fifteenth-century text the Korawaswara, the Kurawas are revived after the Bharatayudha war. And so the battle begins again: good must exist, but so too must evil.
What is the meaning of victory? After the Kurawas were defeated, the Kuru battlefield lay strewn with bodies. The stench of rotting flesh was everywhere. A sense of contampination hung in the air. Thousand of dogs whined, howled, and clawed the earth. Other than that there were just the moans of soldiers on the verge of death, lying amongst the remains of chariots and broken weapons.
The only colour was blood. There would be no more deeds of heroism.
The victors, the five Pendawas, had already taken over the palace, now empty. Speechless with exhaustion they viewed the vast empty audience hall. And now what? What more was there? Usually in such tales the storyteller will say that after such victory “the people lived happily ever after”.
But the Mahabharata is not usual history.
Lanjut..
caping • Sabtu, 24 Oktober 2009 @ 01:21 diunggah oleh zen
Mungkin itulah sebabnya dalam Korawasrama dari abad ke-15, setelah perang Baratayudha berakhir, para Kurawa dihidupkan lagi. Perang pun dimulai kembali: yang baik harus ada, tapi begitu pula yang buruk.
APAKAH arti kemenangan? Setelah Kurawa dikalahkan, medan perang Kuru tinggal lapangan penuh bangkai. Bau busuk terbentang. Rasa cemar terapung ke kaki langit. Ribuan anjing ajak melolong, mengaum, mengais. Selebihnya cuma erang sekarat para prajurit, di antara sisa kereta dan senjata yang patah.
Warna di sana hanya darah. Anyir. Tak akan ada lagi perbuatan kepahlawanan.
Si pemenang, kelima bersaudara Pandawa, telah merebut istana yang kini sepi. Mereka pun membisu capek memandangi balairung yang lengang. Apa, setelah ini? Akan apa lagi? Dalam dongeng yang biasa, setelah kemenangan tercapai, si pendongeng akan menyebut bahwa, “rakyat pun hidup aman dan sejahtera…”
Tapi Mahabharata bukan dongeng seperti dongeng yang lain.
Lanjut..