caping • Sabtu, 23 Mei 2009 @ 02:14 diunggah oleh zen
DOKTER tua berumur 50 tahun itu bicara. Suaranya melodius dan
tenang. “Sareh,” kata seorang hadirin kemudian. Wajahnya damai, sikapnya arif. Tak ada api yang meletup. Tapi ada cahaya dari sana. Setidaknya ada kehangatan rupanya, sehingga seorang pemuda yang hadir dalam pertemuan itu tiba-tiba seakan mengalami transformasi batin.
Ia seolah-olah menjadi orang lain. Gemetar sampai ke seluruh
sendi tubuhnya, pandangannya jadi bertambah luas, perasaannya serasa bertambah halus, dan cita-citanya indah. Kesempitan hatinya hilang, begitu pula tujuan hidup yang hanya terbatas pada diri sendiri. Sebuah dunia baru terbentang.
Semua itu adalah pengakuan Dr. Sutomo, dalam bukunya yang terbit pada tahun 1934, Kenang-Kenangan, setelah ia mendengarkan pembicaraan dr. Wahidin Sudirohusodo, di Batavia yang basah oleh musim hujan akhir 1907.
Wahidin yang terkenal itu (karena ia anak priayi desa yang berhasil jadi dokter di akhir abad ke-19 itu, dan karena tulisan-tulisannya) sengaja datang menemui para mahasiswa STOVIA. Ia mengimbau agar para calon dokter bumiputra itu bekerja mengumpulkan dana untuk membantu anak-anak muda Jawa, agar mereka yang cerdas dapat masuk ke lembaga pendidikan Belanda. Dan mungkin karena sikapnya yang tulus, ia memikat. Lanjut..
caping • Kamis, 2 April 2009 @ 10:01 diunggah oleh zen
TIDAK mudah jika orang tua harus bersaing dengan anak-anak muda di abad ke-20.
Mas Wahidin Soedirahoesodo adalah pensiunan “dokter Jawa” dan pada suatu hari di tahun 1906 ia berkeliling. la terdorong oleh keinginan baik: ingin mendirikan sebuah badan yang dapat membantu pemuda Jawa yang berbakat untuk memperoleh beasiswa.
Hasilnya tak banyak. Baru setelah Mas Wahidin yang sepuh itu ketemu para mahasiswa STOVIA (sekolah dokter pribumi), gagasannya disambut dengan penuh semangat. Tapi dengan segera Mas Wahidin tahu: para mahasiswa itu sebenarnya ingin sesuatu yang lain.
Gagasan memberi beasiswa tiba-tiba diperluas ke arah gagasan terbentuknya Algemene Javasche Bond (Persatuan Jawa Umum). Untuk itu dibentuklah Boedi Oetomo dengan tujuan menggugah dan memajukan rakyat Jawa. Dan kepemimpinan Boedi Oetomo dengan segera terlepas dari Mas Wahidin, pensiunan dokter Jawa itu. Di depannya muncul sudah sejumlah mahasiswa kedokteran yang lebih bergelora: Soetomo, Goenawan Mangoenkoesoemo beserta kakaknya, Tjipto.
Tapi juga tak mudah jadi anak muda dalam suatu masa perubahan nilai-nilai yang gawat di awal abad ke-20 —untuk melepaskan diri dari pengaruh orang-orang tua yang kebetulan menjadi anggota perkumpulan. Lanjut..