Esei • Selasa, 8 September 2009 @ 23:26 diunggah oleh zen

Tentang Teks dan Iman

Membuat buku terbit, itu destruktif bagi penulisan

– Ernest Hemingway, dalam sepucuk surat 2 Oktober 1952

I

JIKA sebuah buku adalah sebuah akhir penulisan, maka ia berhenti menjadi sebuah teks. Ia menjadi sesuatu yang final. Sebab itulah buku bisa dianggap destruktif terhadap penulisan (begitulah yang dikatakan Hemingway), tetapi dengan demikian juga sebuah buku dituntut untuk hanya jadi petunjuk tentang desain yang belum selesai. Perjalanan masih panjang. Tiap buku adalah sebuah halte kecil. Maka buku menjadi perlu.

Tetapi saya tidak tahu pasti bagaimana keadaannya dewasa ini terutama di Indonesia, di sebuah masyarakat yang dengan cepat, bahkan langsung, bergerak dari suatu keadaan praliterer ke dalam keadaan pascaliterer, dari suatu lingkungan yang tak pernah membaca ke dalam suatu lingkungan yang tak hendak membaca, di mana media televisi mengisi hampir, setidaknya dalam dugaan saya, 50% dari waktu senggang malam hari orang Indonesia yang berpendidikan sekolah menengah.

Memang ada sebuah lelucon dari Groucho Marx yang menghubungkan acara televisi yang buruk dengan buku. “Menurut hemat saya, televisi itu sangat edukatif,” kata pemain film komedi tahun 1930-an itu, “Tiap kali ada orang yang menyetelnya, saya langsung pergi ke kamar lain dan membaca buku yang menyenangkan”.

Tetapi di Indonesia, telenovela dengan wajah-wajah yang rupawan, film silat dengan pukulan-pukulan yang ajaib, dan puluhan kuis yang tidak menginginkan kecerdasan, semuanya begitu gilang-gemilang, dan orang-orang bisa duduk di depannya, bersama-sama, rukun dan terpukau.

Lagipula di rumah kelas menengah kita, mana ada sebuah kamar yang menyediakan buku?

Lanjut..

Bookmark and Share