caping • Kamis, 16 Juli 2009 @ 21:01 diunggah oleh zen

4 Juli

Tapi Napoleon sempat menembakkan suaranya kepada si tua pejuang kemerdekaan, “Siapa yang memaklumkan bahwa pembangkangan adalah sebuah kewajiban?”

DALAM umur 19 tahun, seorang anak bangsawan Prancis berangkat berperang - menyeberangi lautan - ke benua lain yang jauh, Amerika. Dengan sedih ia tinggalkan istrinya, untuk bertempur, bukan buat orang setanah airnya, melainkan buat sekelompok pemberontak asing.

Apa gerangan yang dicarinya?

Sejarah kemudian bercerita bahwa Gilbert de Lafayette pergi melintasi Lautan Atlantik yang luas di abad ke-18 itu, karena cintanya kepada sebuah hal yang tak begitu jelas: kemerdekaan.

Tapi mungkin perkaranya tak sesederhana itu. Lanjut..

caping • Senin, 13 Juli 2009 @ 20:54 diunggah oleh zen

Demokrasi

ADALAH seorang wanita tua, di kota lama Yaroslavl, di tepi Sungai Volga, yang menangis menyaksikan demokrasi.

Hari itu, pekan lalu, wanita Rus itu menonton sebuah sejarah yang sedang diubah — suatu proses dramatis yang bahkan dibentangkan di lavar televisi.

Ia mengikuti laporan luar biasa dari Moskow itu: sebuah konperensi dari Partai yang berkuasa, yang dulu begitu tertutup dan angker, tapi kini serasa tidak, yang dulu sering menampilkan wajah seram, tapi kini bisa lucu, yang dulu seperti mengingkari genealoginya sendiri, tapi kini seakan insaf: bahwa Partai itu pernah jadi palu dan sabit yang menggertak rakyat, memancung….

Wanita tua itu terhenyak. Buat pertama kalinya — menurut ingatannya yang panjang — sebuah konperensi Partai berlangsung terbuka. Bukan saja sidang itu disiarkan ke seluruh khalayak, tapi juga di sidang itu para delegasi bisa mengkritik, bisa mendebat, bisa beradu pendapat. Tak ada rasa terancam bahwa nanti malam polisi rahasia akan mengetuk pintu kamar dan membawa beberapa pembangkang pergi, menghilang, seperti sisa salju pagi hari.

Wanita tua itu memang tergetar. Ia kemudian bercerita kepada wartawan The New York Times: Lanjut..

caping • Senin, 4 Mei 2009 @ 00:30 diunggah oleh zen

Duel

KEMARIN saya baca cerita sedih Alexander Hamilton. Hari itu 11 Juli 1804. Sebuah duel berlangsung di tubir karang di atas Kali Hudson. Sebuah duel, sebuah drama dalam sejarah Amerika: seorang tokoh politik, juga tokoh Revolusi Amerika, Hamilton, saling tembak dengan Aaron Burr, Wakil Presiden. Burr merasa Hamilton telah menistanya di surat kabar, dan perkara ini harus diselesaikan secara “orang terhormat”.

Burr menembakkan peluru pistolnya ke ulu hati Hamilton. Lelaki itu roboh. Setelah 30 jam kesakitan, ia mati. Umurnya 47. Masih muda. Tapi betapa panjang ia terkait dengan sebuah revolusi yang dengan susah-payah ingin membuat demokrasi.

Hamilton terkenal sebagai perumus ide tentang bagaimana sebuah republik harus berdiri di tengah kebebasan. Ia penganjur negara yang kuat, warga yang bertanggung jawab. Lawan politiknya, terutama Thomas Jefferson, menyerangnya sebagai musuh kemerdekaan. Hamilton, tuduh Jefferson, memuja Julius Caesar, sang penakluk yang mengangkat diri jadi maharaja, dan tak mengagetkan bila Hamilton ingin Amerika jadi sejenis monarki. Sebaliknya, bagi Hamilton, orang macam Jefferson, yang curiga kepada kekuasaan negara yang ekspansif, adalah seorang promotor “kekacauan umum”. Lanjut..