caping • Selasa, 15 September 2009 @ 23:55 diunggah oleh zen
Pada akhirnya Ia hanya Ilahi yang ditinggalkan.
ORANG sering menyembah Tuhan yang diperkecil. Maka berabad-abad yang lalu, di kota-kota yang berbataskan gurun, di mana langit luas dan malam dihuni cerita dan rahasia, para rasul datang memperingatkan. Mereka mengecam berhala. Mereka mengecam doa yang membayangkan Tuhan sebagai—jika kita pakai kiasan hari ini—seraut pohon bonsai.
Berhala atau bonsai: sesuatu yang memikat justru karena diletakkan di sebuah kotak yang tetap, seakan-akan hidup, tapi sebenarnya hanya Tuhan yang diperkecil oleh manusia, sesembahan yang jauh dari hakikat Dia yang maha-agung.
Orang-orang muslim punya sebuah cerita dari Quran.
Di hadapan Fir’aun, begitulah dikisahkan, Musa memberi jawab yang tak diharapkan ketika raja Mesir itu bertanya, “Dan apakah Tuhan alam dunia itu?” Pertanyaan itu, “Ma rabbu al-alamina?”, cenderung menantikan sebuah definisi. Tapi jawaban Musa berbeda, dan sangat kena. Nabi itu hanya mengatakan bahwa “Tuhan” adalah “Tuhan dari Timur dan dari Barat, dan dari segala yang ada di antaranya.”
Lanjut..
Esei • Senin, 14 September 2009 @ 19:52 diunggah oleh zen
Hidup dengan janji berarti hidup dalam iman, tapi bukan iman pada Tuhan yang telah selesai diketahui. Ini iman dalam kekurangan dan kedaifan—ikhtiar yang tak henti-hentinya, sabar dan tawakal, karena Tuhan adalah Tuhan yang akan datang, Tuhan dalam ketidakhadiran. Dari sini kita tahu para atheis salah sangka: mereka menuntut Tuhan sebagai sosok yang hadir dan ditopang kepastian. Sebenarnya mereka juga terkena waham, tertipu berhala.
Al-Ghazali dalam al-Maqsad al-Asnâ
ATHEISME dimulai dengan kesulitan bahasa. Dan, jika kita membaca buku Christopher Hitchens, God is Not Great, kita akan tahu: ada juga salah sangka.
Atheisme tak datang dari kecerdasan semata-mata, tapi juga dari kaki yang gemetar dan tubuh yang terdesak. Kegamangan kepada agama yang sedang tampak kini mengingatkan suasana sehabis perang agama di Eropa di beberapa dasawarsa abad ke- 16. Agama nyaris identik dengan kekerasan, kesewenang- wenangan, dan penyempitan pikiran. Dari sinilah lahir semangat Pencerahan: terbit karya Montaigne dan Descartes, buah skeptisisme yang radikal. Doktrin agama diletakkan di satu jarak.
Kini berkibarnya “revivalisme”, terkadang dalam bentuk “fundamentalisme”, dan tentu saja bercabulnya kekerasan menyebabkan reaksi yang mirip: buku Hitchens terbit di dekat The End of Faith oleh Sam Harris (tahun 2004). Juga The God Delusion karya Richard Dawkins, seorang pakar biologi. Satu kutipan oleh Dawkins: “Bila seseorang menderita waham, gejala itu akan disebut gila. Bila banyak orang menderita waham, gejala itu akan disebut agama.”
Namun, agaknya bukan karena waham bila dalam masa tiga dasawarsa terakhir ada “gerak” lain yang cukup berarti: mendekatnya filsafat ke iman. Dalam gerak “pascamodern” ke arah Tuhan ini diangkat kembali pendekatan fenomenologis Heidegger yang mendeskripsikan “berpikir meditatif”, atau lebih khusus lagi, “berpikir puitis”, yang lain dari cara berpikir yang melahirkan metafisika dan ilmu-ilmu.
Bersama itu, ada kritik Heidegger terhadap “tuhan menurut filsafat”, atau tuhan dalam metafisika—yang baginya harus ditinggalkan.
Lanjut..
al-ghazali,
alain badiou,
derrida,
heidegger,
meistert eckhart,
nurcholis madjid,
paul tillich,
slavoj zizek,
teisme,
Tentang Atheisme dan Tuhan yang Tak Harus Ada,
teologi,
Tuhan
wawancara • Senin, 31 Agustus 2009 @ 20:53 diunggah oleh zen
Pada Jumat sore, 25 Januari 2008, redaktur Madina, Ihsan Ali-Fauzi dan Hikmat Darmawan, bercakap-cakap dengan Goenawan Mohamad di Bakoel Coffie Cikini, tentang Tuhan para penyair, Rumi, perang agama, dan Reformasi yang tak menjanjikan apa-apa.
MADINA (M): Sebagai penyair, bagaimana Anda memandang pergumulan seorang penyair dengan Tuhan; apakah juga sama dengan pergumulan seorang penyair dengan teks?
Goenawan Mohamad (GM): Saya kira, kita tahu bahwa Tuhan datang ke kesadaran kita itu sebagai teks, melalui teks. Tuhan sendiri itu kan tidak pernah kita ketahui, yang kita ketahui selalu teks tentang Tuhan. Teks tidak berarti medium dalam bentuk tertulis. Tetapi teks dalam arti mediasi antara kita dan Tuhan itu sendiri, juga kesadaran kita tentang Dia. Jadi, setiap orang, baik penyair maupun bukan, selamanya bergulat dengan Tuhan adalah melalui teks.
M: Tapi, seberapa beda antara penyair dengan yang lain dalam menghayati teks itu?
GM: Saya kira, kalau ada bedanya, adalah kepekaan pada metafor. Para penyair lebih peka karena biasa berbicara dengan bahasa metafor. Bukan itu saja, karena para penyair sadar bahwa bahasa pada dasarnya adalah metafor, maka teks yang masuk dalam kitab suci maupun yang di luar itu, selalu berlaku sebagai metafor.
Lanjut..
al-ghazali,
atheisme,
cak nur,
gabriel marcel,
iman,
majalah madina,
Puisi,
rumi,
saya tak bisa jadi atheis,
teologi,
wawancara