caping • Jumat, 26 April 2013 @ 18:21 diunggah oleh

Lelucon

Ada sebuah cerita yang saya temukan di internet dan saya ubah di sana-sini untuk para pembaca:

Pada suatu hari di Slovenia, seorang atheis sedang joging di hutan. Ia menikmati hijau pohon-pohon seraya tubuhnya bergerak di udara pagi.

Tiba-tiba ia dengar suara mengaum. Ketika ia menengok, ia lihat seekor singa besar (dan tampak lapar) mengejarnya.

Ia lari, menerabas semak. Tapi malang tak dapat ditolak: ia tersungkur di sebuah sudut. Singa itu pun tegak di dekatnya bersiap menerkam.

Putus asa total, si atheis sadar: hanya Tuhan yang bisa menyelamatkannya. Ia insyaf. Ia berdoa: “Ya, Tuhan, bebaskan aku dari hewan buas ini. Jadikanlah ia makhluk yang Kristiani”.

Tiba-tiba hutan bercahaya selama 30 detik. Mukjizat terjadi. Tokoh kita tahu, doanya dikabulkan.

Dan terdengarlah suara singa itu, takzim: “Bapa kami yang ada di Surga, terpujilah nama-Mu. Telah Kau beri aku santapan pagi yang lezat.”

Andaikata peristiwa itu terjadi benar-benar, kita tak akan tertawa. Seseorang yang tersungkur di hadapan seekor singa yang lapar bukanlah adegan yang menggelikan. Keajaiban yang membuat seeokor singa bisa bicara juga bukan kejadian yang lucu. Cerita di atas kocak karena ia satu konstruksi imajinatif yang menabrakkan apa yang mula-mula tampak galib (seseorang ketakutan dan putus asa menghadapi maut) dengan apa yang mendadak tak masuk-akal dan tak terduga (si singa jadi Kristen… dan tetap tak melepaskan mangsanya).

Lanjut..

caping • Kamis, 6 Agustus 2009 @ 00:34 diunggah oleh

Tawa

Kau menyukai lelucon dan aku menyukai tertawa. Justru ketika kita menyadari, dengan sedikit sakit, harapan yang sulit dipenuhi, impian yang rasanya mustahil. Tampaknya lawak bisa juga sebuah tanda murung. Atau ketakmampuan mencapai. Atau kesia-siaan.

”Bawa masuk para badut!”, konon begitulah bisik dari belakang panggung bila sebuah pertunjukan terasa jadi hambar dan harus diselamatkan, agar para penonton tak pergi. Send in the clowns!, kata lagu terkenal dalam musikal Broadway Little Night Music pada 1973—sebuah lagu yang dinyanyikan saat tokoh lakon ini, Desirée, terduduk bersendiri, sadar ia telah salah pilih dan kini ditinggalkan orang yang sebenarnya dicintainya. Seperti yang dikatakan sang komponis, Stephen Sondheim: ini ”sebuah lagu sesal dan amarah”.

”Bawa masuk para badut!”. Tapi seperti dicantumkan di akhir lagu itu, disadari bahwa para badut sebenarnya tak diperlukan datang. ”Don’t bother, they are all here”. Mereka sudah di sini; mereka adalah kita sendiri.

Kita: badut. Antara ”kita”, ”badut” dan ”kekonyolan”—sebagaimana antara ”clown” dan ”fool” dalam teater Shakespeare—terdapat pertautan.

Lanjut..

caping • Kamis, 6 Agustus 2009 @ 00:21 diunggah oleh

Babilon

ADA sebuah nujum kuno, terekam dalam sebuah tulisan berbentuk baji. Para arkeolog menemukannya di sebidang sabak tanah liat, konon berasal dari Babiion. Isinya meramal dengan nada yang amat muram, “Hari kiamat tengah mendekat.”

Kita tak tahu kapan hari akhir itu akan terjadi, tapi tanda-tandanya sudah tampak waktu itu juga, “Anak-anak tak lagi mematuhi orangtua mereka, dan tiap-tiap orang ingin menulis buku….”

Mengapa begitu muram tampaknya prospek kehidupan bila anak-anak memberontak dan bila tiap orang ingin menyatakan pikirannya ke dalam tulisan?

Kita tak tahu. Kita cuma bisa menduga: si pembuat nubuat kuno itu mungkin seorang pendeta agung yang bertugas menjaga ketertiban iman dan kehidupan. Dalam posisi itu, menduga para dewa akan murka bila manusia resah. Pada saat manusia ingin mengembangkan ide sendiri-sendiri, pada saat jiwanya bangkit, dunia pun akan ambruk, dan seluruh tata akan tergulung.

Lanjut..

caping • Kamis, 6 Agustus 2009 @ 00:12 diunggah oleh

Badut

BADUT dan pantun jenaka jangan-jangan tak sekadar lelucon. Mungkin juga mereka media untuk perasaan tak senang. Khususnya, ini terjadi di masyarakat Jawa di masa silam, ketika tak banyak jalan bagi rakyat kecil untuk mengeluh tentang keadaan.

Setidaknya, begitulah yang dilukiskan oleh Soemarsaid Moertono dalam risalahnya yang terkenal, State and Statecraft in Old Java, yang baru saja diterbitkan dalam versi Indonesia oleh Yayasan Obor Indonesia dengan judul panjang: Negara dan Usaha Bina-Negara di Jawa Masa Lampau.

Dalam studinya tentang Kerajaan Mataram dari abad ke-16 sampai ke-19 ini, Soemarsaid menyinggung bagaimana humor rakyat bisa jadi petunjuk “perasaan tidak senang” masyarakat.

Di lingkungan yang tampaknya membisu karena takut bicara itu, kata-kata tajam tapi padat bisa di gubah. Pantun dan sajak bisa jadi sejenis nyanyian jalanan, yang diteriakkan berbalas-balasan. Pantun pantun jenaka itu, kata Soemarsaid Moertono, “kadang-kadang tidak begitu jelas artinya”, tapi “menyatakan apa yang merupakan ke pentingan rakyat biasa ketika itu”.

Mungkin karena itulah dalam masyarakat Jawa “badut dan pelawak secara tradisional mempunyai kekebalan tertentu terhadap hukum”.

Lanjut..