Esei • Rabu, 9 September 2009 @ 07:43 diunggah oleh zen

Tatal 8

Amir Hamzah sebenarnya tak bertanya, ketika ia menulis: “Tuhanku, apatah kekal?”

Junjunganku apatah kekal?
apatah tetap
apakah tak bersalin rupa
apakah baka baka sepanjang masa

Bunga layu disinari matahari
mahluk berangkat menepati janji
hijau langit bertukar mendung
gelombang reda di tepi pantai

Ada keseriusan tentang kefanaan dalam kata-kata itu, tapi tentu saja tak terjawab. Manusia telah mengatakan, kekal itu sifat Tuhan semata-mata.

Tapi ada sebuah pertanyaan lain yang tak diucapkan Amir Hamzah dan dikemukakan Ibnu Sina di abad ke-10: jika Tuhan kekal, berarti Ia di luar waktu, bagaimana menciptakan alam semesta terjadi? Lanjut..

Bookmark and Share