Tatal 6
Puisi dan kematian: dalam keduanyalah keterbatasan dirundung janji. Dalam hal kematian, janji itu tentang kehidupan yang baka. Dalam hal puisi, janji itu tentang sebuah makna.
Tapi saya tak pernah tahu, akankah janji itu terpenuhi, bahkan dalam puisi. Selama itu sebuah puisi, setidaknya puisi liris, terasa seperti sebuah tari serimpi, yang memperoleh pemaknaan dari pergantian, beda, pertautan, dan kontras pelbagai geraknya sendiri. Ia tak mendapatkan makna yang disahkan sebuah konsep yang sudah siap. Tak ada dasar cerita. Di dasar itu hanya kolong: sebuah kekosongan yang “hadir,” sebuah “kehadiran” yang sebenarnya tak ada.
Tak ada pula titik akhir yang jelas dan konklusi yang segera. Para penari dan penonton tak kunjung bisa menceritakan apa persisnya yang hendak disampaikan sebuah srimpi.