Esei • Kamis, 27 Agustus 2009 @ 23:19 diunggah oleh zen

Tatal 2

Karena malam tak sepenuhnya tertembus, juga oleh kelelawar yang mabuk, taufan antah-berantah dan rembulan yang gila, harapan jangan-jangan bermula dari sikap yang tak mengeluh pada batas.

Makin tahu manusia tentang luasnya alam semesta, makin tampak bumi menyendiri dan manusia terpencil. Planet ini hanya setitik noktah yang cepat hilang. Tapi pada saat yang sama, dalam keadaan yang praktis terabaikan itu, hilang dan ketiadaan bukanlah sesuatu yang luar biasa.

Hidup begitu dekat dan Ketiadaan begitu megah.

Saya teringat baris kalimat Sitor Situmorang dalam sajak Cathedral des Chartres: “hidup dan kiamat bersatu padu.”

* Dikutip dari buku Tuhan dan Hal-hal yang Tak Selesai, hal. 10.