Tatal 17

Ada seorang pemilik toko buku yang hidup dalam kesepian dan kemarahan yang diam. Ia tinggal di sebuah negeri yang kini menyebut diri “Komunitas Iman.”
Para pemuda Ikhwanul Waspada muncul ke mana-mana, merusak alat musik, membakar film berpuluh-puluh rol, merobek kanvas lukisan, menghancurkan patung—dengan keyakinan bahwa keindahan hanya ada di Tuhan, dan tak ada di bumi yang layak menyaingi wajah-Nya.
Itulah pangkal masygul Boualem Yekker, tokoh novel Le Dernier été de la Raison (Musim Panas Terakhir Akal Budi) ini, dan ia terpojok, ia terkucil. Sejak kecil, sejak ia belajar di madrasah yang ketat mengajarkan Quran, ia ingin berjalan ke pelbagai tempat di muka bumi.