Esei • Selasa, 21 Desember 2010 @ 17:21 diunggah oleh zen

Dari Suatu Hari Yang Pendek di Yogyakarta

Yogyakarta, 17 Desember 1949.

Bung Karno mengenakan satu setel pakaian yang mungkin didesainnya sendiri. Krah itu memanjang ke atas, menutupi seluruh leher. Jas dengan sederet kancing itu tanpa dasi. Di bahunya ada epaulet tipis seperti tanda pangkat seorang marsekal. Pici hitamnya tampak lebih tinggi dari biasa, satu kontras yang necis buat seluruh kostum yang putih sampai warna sepatu.

Dengan sosoknya yang lebih jangkung dari orang-orang di sekitarnya, dengan tubuh yang ramping dan paras tampan, ia sadar ia bintang utama dalam prosesi itu.

Mereka berjalan melewati gerbang Kraton, menuju balairung Sitihinggil. Di depan: Fatmawati Sukarno, cantik di bawah kerudungnya yang berenda, bersama Rahmi Hatta, rupawan dengan rambutnya yang hitam pekat. Bung Karno di saf berikutnya berjalan didampingi Mohammad Roem. Di belakangnya: Bung Hatta, berjas warna terang.

Sejumlah opsir tentara, berdasi yang diselipkan ke baju seragam khaki, berjalan menyusul. Kemudian tampak sebarisan perempuan, memakai gaun, dengan wajah santai dan riang, mungkin pegawai kementerian atau aktivis politik.

Lalu acara resmi pun di mulai di ruang yang lazim dipakai untuk menghadap raja-raja Yogya itu: upacara pengambilan sumpah Presiden Republik Indonesia Serikat.

Lanjut..

Bookmark and Share
Esei • Rabu, 8 September 2010 @ 01:10 diunggah oleh zen

Bung Karno dan Islam

I

Bung Karno lahir dan dibesarkan di sebuah keluarga yang tak membaca Qur’an sebagai bagian kehidupan sehari-hari. Ayahnya seorang priyayi Jawa, pengikut theosofi, ibunya seorang perempuan Hindu Bali. [1]

Seperti dikatakannya di tahun 1962, di hadapan Muktamar ke-32 Muhammadiyah di Jakarta:

Ibu adalah meskipun beragama Islam asal daripada agama lain, orang Bali. Bapak, meskipun beragama Islam, beliau adalah beragama, jikalau boleh dinamakan agama, theosofi. Jadi kedua kedua orangtua saya ini yang saya cintai dengan segenap jiwa saya, sebenarnya tidak dapat memberikan pengajaran kepada saya tentang agama Islam.

Apa yang diajarkan orangtuanya? Ada sebuah detail dalam Sukarno, an Autobiography as told to Cindy Adams, yang sekilas menunjukkan dasar etis yang diajarkan sang ayah, seorang guru, kepadanya. [2] Pada suatu hari si kecil Karno memanjat pohon jambu di pekarangan rumah. Tak sengaja ia membuat sarang burung di dahan itu jatuh. Ayahnya memarahinya: anak itu harus menghargai hidup makhluk apapun.

Lanjut..

Bookmark and Share
Foto • Selasa, 7 September 2010 @ 05:36 diunggah oleh zen

Nama, atau Mengapa Juliet Salah

Sebuah klise: What is in a name?

Sejak lakon Romeo and Juliet dipentaskan di tahun 1597, kata-kata itu diulang dalam berjuta-juta percakapan. Tiap kali orang kerepotan karena soal nama, dikutiplah Juliet (atau persisnya Shakespeare) di adegan itu: nama bukan soal penting. Juliet Capulet dan Romeo Montague bisa saling mencintai, meskipun Capulet dan Montague lain bermusuhan.

What’s Montague? It is nor hand, nor foot,

Nor arm, nor face, nor any other part

Belonging to a man.

Nama, buat Juliet, hanya tempelan. Nama bukan tangan, kaki, lengan, atau wajah. Romeo, doff thy name!, katanya kepada sang pacar agar menanggalkan tempelan itu. Juliet sedang mabuk kepayang. Baginya tak akan terjadi apa-apa andai Romeo Montague disebut “Johny Puyol.”

Tapi klise terjadi karena repetisi dan, dalam hal ini, repetisi terjadi karena ternyata orang berkali-kali dibikin repot oleh nama. Romeo and Juliet jadi sebuah tragedi (yang dikenang terus selama hampir 500 tahun) justru karena Juliet salah berteori; ia tak tahu ada banyak hal yang terdapat dalam sebuah nama.

Lanjut..

Bookmark and Share
Esei • Selasa, 3 November 2009 @ 03:39 diunggah oleh zen

Kesusastraan Indonesia dan Kebimbangan [1]

Tetapi kebudayaan lama itu bukanlah sesuatu yang perlu dilap-lap. Dalam kenyataannya ia hidup utuh, setidaknya nampak seperti seorang raksasa yang tidur. Angkatan 45 gagal melihat kebangkitannya kembali yang tak kentara.

PARA sastrawan Indonesia kini bukanlah ahli waris kebudayaan dunia. Kelompok avant-garde tahun 40-an, Angkatan 45, memang menganggap diri demikian. Tapi mereka sebenarnya ahli waris dari lingkungan kebudayaan yang belum sudah, yang bernama Indonesia, berada di antara masa silam yang menjauh dan masa depan yang belum pasti.

Dalam titik ini, kesusastraan Indonesia mewakili keraguan dan kebimbangan—yang kadang terdengar seperti kata lain dari pencarian. Hidup, apa pun jadinya, tidak lagi merupakan lingkaran tertutup. Sekalipun tidak seterbuka sebagaimana-nampaknya.

Sampai tingkat tertentu, ini memang merupakan pilihan yang merepotkan. Apa yang berlanjut dari situasi ini ialah beberapa bentuk pertikaian batin yang tak kunjung usai, di hadapan alternatif-alternatif sejarah: memilih salah satu sama halnya dengan memungut kans untuk menerobos ambang yang tak diketahui.

Boleh dikata, kesusastraan Indonesia dimulai dengan protes.

Lanjut..

Bookmark and Share
caping • Jumat, 30 Oktober 2009 @ 16:17 diunggah oleh zen

The Closing of the Newspapers, 1978

Every time in history, it seems, has a moment when it s not easy to speak, bu when also it s not easy to remain silent. We do not know precisely how our words will be valued, or if a gesture will be noticed. At times like this, there is only cloud, rain, or silence — even indifference — outside the door. All is a puzzle.

Nonetheless we still need to talk to ourselves. We do not only act. Every action demands approval. At the very moment we tell others to be silent, in fact deep in our hearts we want those others to approve our action. We wish to place our capacity to conquer alongside our capacity to convince.

Certainly it cannot always be like this. But it is understandable that n our actions we seek aproval for ourselves so as to be seen as “good people” and our actions as “succesful”. In a short, people around us are something we cannot ignore –they are something we need.

Perhaps this is why there is a type of unwritten law within any power structure: no matter how authoritarian that rule, it will still need someone else who is free of it.

Lanjut..

Bookmark and Share
caping • Jumat, 30 Oktober 2009 @ 16:11 diunggah oleh zen

Ikhtiar Demokrasi

DI SETIAP masa nampaknya selalu ada saat yang tak mudah untuk berbicara,tapi tidak gampang untuk diam. Kita tidak tahu pasti bagaimana persisnya kata-kata akan diberi harga, dan apakah sebuah isyarat akan sampai. Di luar pintu, pada saat seperti ini, hanya ada mendung, atau hujan, atau kebisuan, mungkin ketidak-acuhan. Semuanya teka-teki.

Toh setidaknya kita masih membutuhkan pembicaraan dengan diri sendiri. Kita tidak hanya bertindak. Setiap tindakan memerlukan penghalalan. Pada saat kita minta orang lain untuk diam sekalipun, sebenarnya jauh di dalam hati kita ingin agar orang lain itu kemudian membenarkan tindakan kita. Kapasitas kita untuk mengalahkan ingin kita sertai dengan kapasitas kita untuk meyakinkan.

Memang, itu tak selamanya bisa terjadi. Tapi adalah wajar bila kita, dengan tindakan kita, ingin dinilai “berhasil” dan serentak itu kita ingin dinilai sebagai “orang baik.” Pendeknya, orang lain di luar kita adalah sesuatu yang tak terelakkan, juga sesuatu yang kita butuhkan.

Mungkin itulah sebabnya, ada semacam hukum dalam setiap
kekuasaan: betapapun hebatnya kekuasaan itu, ia masih tetap
membutuhkan orang lain yang bebas.

Lanjut..

Bookmark and Share
Esei • Rabu, 30 September 2009 @ 04:51 diunggah oleh zen

Bayang-bayang PKI

komunis

Komunisme gagal, dan ada sebuah lelucon tentang itu. Saya mendengarnya di tepi Sungai Neva, Petersburg, di tahun 1990.

Di tepi bengawan yang membelah kota tua itu tertambat kapal penjelajah Aurora, yang sudah jadi sebuah museum. Tanggal 6 Nopember 1917, dari meriam kapal yang dikuasai para pelaut Bolsyewik ini, ditembakkanlah sebutir peluru kosong. Pasukan komunis pun menyerbu Istana Musim Dingin, tempat pemerintahan non-komunis yang dipimpin Kerensky berada. Kaum Bolsyewik menang, Kerensky lari, dan Rusia menjadi negeri komunis pertama di dunia.

Lebih dari 70 tahun kemudian, ketika komunisme terbukti tidak mampu membuat hidup yang lebih baik di sana, orang pun mencemooh: kapal Aurora ternyata punya senjata yang paling dahsyat di dunia, katanya. Dengan satu peluru kosong, ekonomi Rusia dapat dihancurkan selama 70 tahun lebih.

Dari segi ini, komunisme adalah sebuah cerita tragis sebenarnya.

Lanjut..

Bookmark and Share
caping • Senin, 17 Agustus 2009 @ 18:36 diunggah oleh zen

Bukan Imajinasi

DENGAN apakah bangsa lahir? Otto von Bismarck berwajah angker, bertubuh berat, berpakaian tebal dan menjawab, “Dengan darah dan besi.” Gaung suaranya dalam.

Jerman memang mungkin lahir durch Blut und Eisen, setelah prajurit Prusia maju menginjak bumi di bawah lars mereka, menembak, membunuh. Perang memang mungkin bapa dari segalanya jika orang cuma percaya pada kata-kata bagus Heracleitus. Benar, perang telah terbukti menyebabkan lahirnya perbatasan baru, mengipas kebanggaan bersama, memasang kekuasaan atau meruntuhkannya. Perang melahirkan Hitler yang kalah, Hiroshima yang dibom dan Asia yang merdeka.

Tapi jika kita percaya hanya itu, kita akan percaya bahwa sejarah adalah hasil pistol dan sersan-sersan — dan di luar peperangan, semua yang dibuahkan adalah anak haram jadah. Padahal sebuah bangsa memang bisa lahir lewat ujian darah dan besi, tapi juga penting bertahannya mitos, mungkin juga impian.

Biarpun impian yang agak konyol, atau sesuatu yang disebut
“imajinasi”.

Lanjut..

Bookmark and Share
Pidato • Senin, 1 Juni 2009 @ 07:02 diunggah oleh zen

Menggali Pancasila Kembali

Bukan saja bangsa Indonesia bertuhan, tetapi masing-masing orang Indonesia hendaknya bertuhan Tuhannya sendiri’ — Bung Karno, Lahirnya Pancasila, 1 Juni 1945.

KITA hidup dalam sebuah zaman yang makin menyadari ketidak-sempurnaan nasib. Gagasan ‘sosialisme ilmiah’ yang ditawarkan oleh Marx dan Engels pernah meramalkan tercapainya ‘surga di bumi’, sebuah masyarakat di mana kapitalisme hilang dan kontradiksi tak ditemukan lagi. Tapi cita-cita itu terbentur dengan kenyataan yang keras di akhir dasawarsa ke-8 abad ke-20: Uni Soviet dan RRC mengubah haluan, dengan menerima ‘jalan kapitalis’ yang semula dikecam. Sosialisme pun terpuruk: ternyata ‘ilmiah’ bukan berarti ‘tanpa salah’, ternyata Marxisme sebuah gagasan yang akhirnya harus mengakui bahwa dunia tak akan pernah bebas dari kontradiksi.

Dewasa ini cita-cita menegakkan ‘Negara Islam’ mungkin satu-satunya yang masih percaya bahwa kesempurnaan bisa diwujudkan. Jika hukum Tuhan adalah hukum yang hendak diterapkan, mau tak mau hasil yang diharapkan adalah sebuah kehidupan sosial yang tanpa cacat.

Dengan kata lain, para penganjur ‘Negara Islam’ adalah penggagas yang tak membaca sejarah yang terbentang dalam jangka waktu lebih dari 21 abad – sebuah sejarah harapan dan kekecewaan yang silih berganti, sebuah sejarah ide dan rencana cemerlang yang kemudian terbentur, sebuah riwayat pemimpin dan khalifah yang tak selamanya tahu bagaimana menjauh dari sabu-sabu kekuasaan.

Para penganjur ide ‘Negara Islam’ lupa bahwa agama selamanya menjanjikan kehidupan alternatif: di samping yang ‘duniawi’ yang kita jalani kini, ada kelak yang ‘ukhrowi’ yang lebih baik. Maka sebuah ‘Negara Islam’ yang tak mengakui ketidak-sempurnaannya sendiri akan salah secara akidah. Tapi sebuah ‘Negara Islam’ yang mengakui ketidak-sempurnaannya sendiri akan menimbulkan persoalan: bukankah ajektif ‘Islam’ mengandaikan sesuatu yang sempurna?

Dilema itu berasal dari pengalaman kita: bumi adalah bumi; ia bukan surga. Ketidak-sempurnaan, bahkan cacat, berlangsung terus, berselang-seling dengan saat-saat yang mengagumkan. Agaknya akan demikian seterusnya. Lanjut..

Bookmark and Share
Esei • Selasa, 28 April 2009 @ 06:29 diunggah oleh zen

Wakil

INDONESIA adalah sebuah negeri yang luar biasa: pemilihan umumnya hanya jadi serius dalam perkara calon wakil presiden.

Tentang siapa yang jadi wakil rakyat, kita cuma bicara sebentar, terkadang dengan angkat bahu. Tentang soal yang lebih penting lagi—yakni siapa yang layak dipilih untuk memimpin pemerintahan (dan itu berarti presiden)—kita diam. Kita tetap takut menyinggung barang keramat. Jadi, mari bicara siapa yang kira-kira bakal jadi wakil presiden. Mari memilih soal siapa yang asyik dan aman.

Menakjubkan, memang. Sebab kebanyakan orang toh tahu, bahwa siapa pun gerangan si calon wakil presiden—seperti sudah beberapa kali terbukti akhirnya bukan tuan-tuan dan nyonya-nyonya yang dikutip di koran itu yang layak didengar. Sang Nomor Dua harus cocok dengan Sang Nomor Satu, dan sebab itu Nomor Satu sajalah yang menentukan.

Zaman sudah berubah. Kita tidak hidup lagi pada masa Bung Karno dan Bung Hatta. Pada masa yang berlangsung antara tahun 1945 dan 1958 itu, Bung Karno dan Bung Hatta adalah dua sosok yang tidak sepenuhnya cocok. Dalam pelbagai hal, keduanya saling bertentangan bahkan dalam soal-soal dasar. Lanjut..

Bookmark and Share