caping • Selasa, 7 April 2009 @ 13:35 diunggah oleh zen
DESAS-DESUS dapat berarti teror. Desas-desus juga bisa jadi akibat rasa takut yang panjang. Ia bisa membuat orang waspada. Tetapi, ia juga bisa jadi hanya sesuatu yang lahir karena rasa asyik dengan suasana tegang di masyarakat.
Dulu ia disebut juga sebagai “kabar angin”, karena tak jelas sumbernya dan disampaikan dari mulut ke mulut. Kini penyebaran itu mengikuti perkembangan teknologi: dari satu pesan internet ke pesan internet lain.
Cyber-rumour ini memang gejala masa informasi sekarang, ketika produksi informasi jadi mudah dan kilat, demikian juga penyebarannya. Sudah banyak yang berbicara tentang bahaya banjir bandang informasi, dan saya hanya akan menambahkan sedikit. Problem dari cyber-rumour itu bukan saja dalam hal jumlah, tetapi karena pesan-pesan intemet itu hampir tanpa memerlukan tuntutan untuk mempertanggungjawabkan kebenarannya. Bahkan dapat dikatakan, bahwa di zaman intemet ini, desas-desus menemukan sarananya yang paling tepat. Malah lebih efektif. Lanjut..
Esei • Jumat, 13 Maret 2009 @ 00:10 diunggah oleh zen
GAMELAN sayup-sayup. Seorang pemuda berpakaian Jawa keluar dari pintu. Mengendap-endap. Di luar jauh di sana, terdengar panser dan truk tentara Belanda berseliweran. Pemuda itu hati-hati menyelinap di antara rumah-rumah kampung Yogya yang pada itu, lalu menghilang.
Di waktu subuh, ia kembali ke rumah tempatnya menumpang. Ia berusaha agr langkahnya tak membangunkan induk semangnya. Tapi ketika ia naik tangga ke kamarnya sendiri di atas, ia dengar wanita itu sudah bangun di kamar bawah. Habis sembahyang subuh. Cepat-cepat ia masuk ke kamar tidurnya, berganti pakaian, memakai slaapbroek lagi, membuka jendela, dan pura-pura bangun tidur. Tapi ibu itu, masih mengenakan mukena, muncul di pintu, “Apakah Nak Mohtar baru ketemu ngarsa dalem?” tanyanya.
Pemuda itu tak bisa mengelak lagi. Rahasianya tersingkap. Wanita itu tahu bahwa pemuda yang mondok di rumahnya adalah seorang anggota gerakan bawah tanah, kurang-lebih penghubung antara para gerilyawan di gunung dan kraton Yogya yang diam-diam melawan kekuasaan pendudukan Belanda. Lanjut..