caping • Rabu, 18 Maret 2009 @ 01:39 diunggah oleh zen

Si Anak Hilang

Mengapa si anak hilang? Banyak peristiwa yang terjadi.

Dalam legenda Si Malin Kundang, si anak tidak hendak kembali — dan mengakui emak kandungnya — karena kemiskinan dan keburukan masa silam terpasang dengan jelasnya dalam sosok si emak.

Dalam sebuah sajak Sitor Situmorang, si anak pulang dari rantau di Eropa. Ia disambut oleh ibunya dengan hangat, oleh bapaknya dengan ketenangan menahan hati. Ia sendiri tak banyak bicara. Tapi ketika malam hari ia datang ke pantai danau tempat ia dibesarkan dulu, ia tahu, seperti desir gelombang itu tahu: jiwanya tak hendak di kampung halaman lagi.

Barangkali banyak sebab yang mendorong kita untuk cenderung memandang fenomen “anak hilang” itu dengan hati bergetar. Kita, yang menyebut tanah tumpah darah — seperti kemudian tersurat dalam Indonesia Raya — sebagai “ibu”, agaknya punya gambaran diri yang sangat membekas sebagai “anak”. Atau barangkali inilah cermin kenyataan demografis kita: sebagian besar kita memang muda bahkan bocah. Sementara dunia modern mengajuk kita untuk bertualang, kita takut jadi hilang. Lanjut..

Esei • Senin, 9 Maret 2009 @ 11:40 diunggah oleh zen

Sjahrir di Pantai

I

SAYA bayangkan Sjahrir di Banda Neira pagi itu, 1 Februari 1942. Kemarin tentara Jepang menyerbu Ambon dan beberapa jam sesudah itu bom dijatuhkan.

Saya bayangkan Sjahrir di Banda Neira pagi itu, setelah sebuah pesawat MLD-Catalina yang bisa mendarat di permukaan laut berputar-putar di sekitar pulau. Berisiknya membangunkan penduduk. Tak lama kemudian, kapal terbang kecil itu pun berhenti di teluk. Ko-pilot pesawat, seorang perwira Belanda yang kurus, turun dan menuju ke tempat Sjahrir dan Hatta tinggal. Kedua tahanan politik itu harus meninggalkan pulau cepat-cepat, pesannya. Hanya ada sekitar waktu satu jam untuk bersiap.

Hatta mengepak buku-bukunya, tergopoh-gopoh, ke dalam 16 kotak. Sjahrir memutuskan untuk membawa ketiga anak angkatnya, meski pun salah satunya masih berumur tiga tahun. Sesampai di tempat pesawat, sebuah problem harus dipecahkan: ruang di Catalina itu terbatas. Enambelas kotak buku atau ketiga anak itu harus ditinggalkan. Hatta mengalah. Enambelas kotak buku tak jadi dibawa –untuk selama-lamanya—kecuali Bos Atlas yang sempat disisipkan Hatta ke dalam kopor pakaian. Empatpuluh tahun kemudian Hatta masih menyesali kehilangan itu. Lanjut..