Esei • Selasa, 3 November 2009 @ 03:39 diunggah oleh zen
Tetapi kebudayaan lama itu bukanlah sesuatu yang perlu dilap-lap. Dalam kenyataannya ia hidup utuh, setidaknya nampak seperti seorang raksasa yang tidur. Angkatan 45 gagal melihat kebangkitannya kembali yang tak kentara.
PARA sastrawan Indonesia kini bukanlah ahli waris kebudayaan dunia. Kelompok avant-garde tahun 40-an, Angkatan 45, memang menganggap diri demikian. Tapi mereka sebenarnya ahli waris dari lingkungan kebudayaan yang belum sudah, yang bernama Indonesia, berada di antara masa silam yang menjauh dan masa depan yang belum pasti.
Dalam titik ini, kesusastraan Indonesia mewakili keraguan dan kebimbangan—yang kadang terdengar seperti kata lain dari pencarian. Hidup, apa pun jadinya, tidak lagi merupakan lingkaran tertutup. Sekalipun tidak seterbuka sebagaimana-nampaknya.
Sampai tingkat tertentu, ini memang merupakan pilihan yang merepotkan. Apa yang berlanjut dari situasi ini ialah beberapa bentuk pertikaian batin yang tak kunjung usai, di hadapan alternatif-alternatif sejarah: memilih salah satu sama halnya dengan memungut kans untuk menerobos ambang yang tak diketahui.
Boleh dikata, kesusastraan Indonesia dimulai dengan protes.
Lanjut..
achdiat kartamihardja,
ajip rosidi,
chairil anwar,
federico garcia lorca,
george steiner,
herbert feith,
marah rusli,
rendra,
sastra,
sastra indonesia,
sitor situmorang,
soekarno
Esei • Ahad, 12 Juli 2009 @ 08:02 diunggah oleh zen
Seks yang terlampau diteriakkan sama kurang meyakinkannya dengan seks yang dilenyapkan
SEKS adalah suatu risiko dalam kesusastraan Indonesia modern. Dalam sebuah studi singkat tentang seks dan kesusastraan kita masa kini, Harry Aveling menulis:
In modern Indonesian literature, we miss those themes so common in the classical indegineous, and other, modern, literatures: the themes of flirtation, seduction, adultery, rape, and full bodily, intellectual and emotional commitment of lovers (married or not) to each other as equal human beings. There is, on the contrary, a prudery about the body and its functions, and an elaborate pretense that marriage-and even parenthood-is sustained without reference to sex.[1]
Ada semacam sikap berhati-hati, ada semacam pretensi yang dipersiapkan baik-baik, untuk tidak menyinggung seks dalam kehidupan percintaan, perkawinan dan kehidupan ibu-bapak: saya kira demikianlah memang kecenderungan umum sejumlah besar hasil sastra kita, meskipun tidak semuanya. Keadaan ini memang menarik, bila kita bandingkan—sebagaimana Aveling membandingkannya—dengan apa yang terdapat dalam kesusastraan modern lainnya, dan terutama dengan pelbagai hasil sastra lama dalam sejarah kita.
Tapi mungkin soalnya ialah karena hasil sastra modern, sedikit-banyaknya, cenderung untuk merupakan sebuah pose. Seorang pengarang, dalam penglihatan saya, selalu nampak sebagai seorang dirigen. Lanjut..
caping • Rabu, 18 Maret 2009 @ 01:39 diunggah oleh zen
Mengapa si anak hilang? Banyak peristiwa yang terjadi.
Dalam legenda Si Malin Kundang, si anak tidak hendak kembali — dan mengakui emak kandungnya — karena kemiskinan dan keburukan masa silam terpasang dengan jelasnya dalam sosok si emak.
Dalam sebuah sajak Sitor Situmorang, si anak pulang dari rantau di Eropa. Ia disambut oleh ibunya dengan hangat, oleh bapaknya dengan ketenangan menahan hati. Ia sendiri tak banyak bicara. Tapi ketika malam hari ia datang ke pantai danau tempat ia dibesarkan dulu, ia tahu, seperti desir gelombang itu tahu: jiwanya tak hendak di kampung halaman lagi.
Barangkali banyak sebab yang mendorong kita untuk cenderung memandang fenomen “anak hilang” itu dengan hati bergetar. Kita, yang menyebut tanah tumpah darah — seperti kemudian tersurat dalam Indonesia Raya — sebagai “ibu”, agaknya punya gambaran diri yang sangat membekas sebagai “anak”. Atau barangkali inilah cermin kenyataan demografis kita: sebagian besar kita memang muda bahkan bocah. Sementara dunia modern mengajuk kita untuk bertualang, kita takut jadi hilang. Lanjut..
alex haley,
ali sastroamidjojo,
arnold monuntu,
bani sadr,
catatan pinggir,
hatta,
ho chi-minh,
khieu samphan,
malin kundang,
nehru,
novel salah asuhan,
sindrom hanafi,
sitor situmorang,
sjahrir,
zhou enlai