Esei • Selasa, 3 November 2009 @ 03:39 diunggah oleh zen

Kesusastraan Indonesia dan Kebimbangan [1]

Tetapi kebudayaan lama itu bukanlah sesuatu yang perlu dilap-lap. Dalam kenyataannya ia hidup utuh, setidaknya nampak seperti seorang raksasa yang tidur. Angkatan 45 gagal melihat kebangkitannya kembali yang tak kentara.

PARA sastrawan Indonesia kini bukanlah ahli waris kebudayaan dunia. Kelompok avant-garde tahun 40-an, Angkatan 45, memang menganggap diri demikian. Tapi mereka sebenarnya ahli waris dari lingkungan kebudayaan yang belum sudah, yang bernama Indonesia, berada di antara masa silam yang menjauh dan masa depan yang belum pasti.

Dalam titik ini, kesusastraan Indonesia mewakili keraguan dan kebimbangan—yang kadang terdengar seperti kata lain dari pencarian. Hidup, apa pun jadinya, tidak lagi merupakan lingkaran tertutup. Sekalipun tidak seterbuka sebagaimana-nampaknya.

Sampai tingkat tertentu, ini memang merupakan pilihan yang merepotkan. Apa yang berlanjut dari situasi ini ialah beberapa bentuk pertikaian batin yang tak kunjung usai, di hadapan alternatif-alternatif sejarah: memilih salah satu sama halnya dengan memungut kans untuk menerobos ambang yang tak diketahui.

Boleh dikata, kesusastraan Indonesia dimulai dengan protes.

Lanjut..

Esei • Jumat, 23 Oktober 2009 @ 02:59 diunggah oleh zen

Tentang Kewibawaan Kritik

Plutot que le maitre d’ecole, le critique doit entre Peleve de I’oevre.

Eugene Ionesco, Notes et contre notes [1966]

ADA sesuatu yang tak memuaskan, kurang-lebih. Pemikiran dari pembicaraan tentang kritik sastra Indonesia belakangan ini mengulangi lagi sebuah perasaan lama: perasaan tak puas, yang umumnva dikemukakan dengan cara-cara yang tak memuaskan pula, dalam diagnosa-diagnosa yang kabur.

Wiratmo Sukito, akhir Oktober 1968: “Keadaan hidup sastra dewasa ini sangat memberi kesan kepada kita, bahwa kekuatan politik masih tetap digunakan untuk menentukan kritik sastra. Apabila hal ini dilakukan oleh publik sastra adalah keliru untuk melemparkan kesalahan kepada mereka, karena yang menjadi persoalan pokok ialah wibawa kritik sastra dalam masyarakat” ["Kegagalan Kritik Sastra Indonesia Dewasa Ini", Harian Kami, 30 Oktober 1968, hal. 2].

Lalu kepada siapakah kesalahan harus dilemparkan? Kepada para kritisi? Saya kira tidak bisa. Selama hidup kesusastraan masih seperti sekarang: pulau kecil di lautan masyarakat yang tidak membacanya, selama itu pula segala suara dari dalam wilayah itu—termasuk suara kritik sastra—hanya akan sampai pada radius beberapa meter di sekitarnya.

Lanjut..

caping • Jumat, 7 Agustus 2009 @ 22:59 diunggah oleh zen

Dari Sebuah Sajak Rendra

Fantastis
Di satu Minggu siang yang panas
Di gereja yang penuh orangnya
Seorang padri muda berdiri di mimbar
Wajahnya molek dan suci
Matanya manis seperti mata kelinci
Dan ia mengangkat kedua tangannya
Yang bersih dan halus bagai leli
Lalu berkata :
“Sekarang kita bubaran.
Hari ini khotbah tak ada”

DEMIKIANLAH bermula sebuah sajak yang sangat bagus. Penulisnya Rendra. Dalam kumpulan Blues untuk Bonnie (terbit 1971), sajak yang panjang itu terbentang 6 halaman: sebuah puisi yang juga sebuah cerita pendek, sebuah kisah surealistis yang memesonakan tentang satu misa yang berakhir dengan buas.

Sang padri muda telah mengatakan, hari itu khotbah tak ada. Ia ingin kembali ke biara, untuk “merenungkan keindahan ilahi”. Tapi orang-orang, gerombolan hadirin itu, tak beranjak. Mereka tetap duduk berdesak-desak. Atau berdiri. Suara mereka mendesah. Mata mereka menatap, bertanya-tanya. Mulut mereka menganga. Mereka berhenti berdoa. Mereka ingin mendengar. Mereka sangat butuh mendengar.

Dan melihat itu, dan mendengar desah mereka, dan menghirup bau mulut mereka yang keras, sang padri muda pun terpekik : “Orang-orang ini minta pedoman. Astaga. Tuhanku, kenapa di saat ini Kau tinggalkan daku.”

Lanjut..

Esei • Jumat, 7 Agustus 2009 @ 08:31 diunggah oleh zen

Rendra, 70 Tahun

Pada tahun 1953, dalam sebuah pidato tentang Chairil Anwar di hadapan “sastrawan-sastrawan muda Surakarta”, ia mengecam dengan tajam para seniman yang meniru-niru “jalang”-nya Chairil Anwar. Para pembuntut macam itu, kata Rendra, hanya “menjalang dengan otak babinya”….

Rendra adalah sebuah pergulatan yang penting dalam sejarah pemikiran Indonesia. Hidupnya yang kini mencapai 70 tahun terbentang dalam sebuah masa yang panjang di mana percakapan, gagasan, dan kekuasaan bentur-membentur. Dan ia ada di dalam perbenturan itu, ia adalah perbenturan itu, sebagai pelaku, saksi, dan juga penderita.

Tapi baiklah saya mulai dengan mengatakan apa yang sudah umum diketahui: Rendra, sejak ia berangkat sebagai penyair, adalah sebuah suara tersendiri.

Ketika saya masih seorang murid sekolah menengah pertama pada sekitar tahun 1955, saya baca sajak seperti Litani Domba yang Kudus dengan tercengang dan terpesona. Sajak ini melantunkan pengulangan yang berbunyi seperti dalam doa, tapi juga seperti permainan anak-anak yang tangkas, dengan imaji yang datang dari khazanah yang tua namun juga terasa akrab.

Ia sungguh berbeda dari corak puisi umumnya setelah Chairil Anwar. Kita bisa meletakkan sajak-sajak Toto Sudarto Bachtiar, Ajip Rosidi, Mansur Samin–untuk menyebut beberapa saja penyair dari masa tahun 1950-an–dalam satu himpunan: umumnya karya mereka terdiri atas puisi liris yang bergumam dari dalam diri, remang dan terkadang gelap.

Tapi sajak-sajak Rendra tak demikian. Puisi Rendra kuat dalam kecenderungan naratif, lincah seperti bermain-main, dan cerah meskipun bukan tanpa tata warna bunyi-bunyi yang dramatik.

Lanjut..

Esei • Ahad, 12 Juli 2009 @ 08:02 diunggah oleh zen

Seks, Sastra, Kita

Seks yang terlampau diteriakkan sama kurang meyakinkannya dengan seks yang dilenyapkan

SEKS adalah suatu risiko dalam kesusastraan Indonesia modern. Dalam sebuah studi singkat tentang seks dan kesusastraan kita masa kini, Harry Aveling menulis:

In modern Indonesian literature, we miss those themes so common in the classical indegineous, and other, modern, literatures: the themes of flirtation, seduction, adultery, rape, and full bodily, intellectual and emotional commitment of lovers (married or not) to each other as equal human beings. There is, on the contrary, a prudery about the body and its functions, and an elaborate pretense that marriage-and even parenthood-is sustained without reference to sex.[1]

Ada semacam sikap berhati-hati, ada semacam pretensi yang dipersiapkan baik-baik, untuk tidak menyinggung seks dalam kehidupan percintaan, perkawinan dan kehidupan ibu-bapak: saya kira demikianlah memang kecenderungan umum sejumlah besar hasil sastra kita, meskipun tidak semuanya. Keadaan ini memang menarik, bila kita bandingkan—sebagaimana Aveling membandingkannya—dengan apa yang terdapat dalam kesusastraan modern lainnya, dan terutama dengan pelbagai hasil sastra lama dalam sejarah kita.

Tapi mungkin soalnya ialah karena hasil sastra modern, sedikit-banyaknya, cenderung untuk merupakan sebuah pose. Seorang pengarang, dalam penglihatan saya, selalu nampak sebagai seorang dirigen. Lanjut..