Puisi • Rabu, 11 November 2009 @ 02:45 diunggah oleh zen

Persetubuhan Kunthi

– untuk tarian Sulistyo Tirtokusumo

Semakin ke tangah tubuhmu
yang telanjang
dan berenang
pada celah teratai merah

Ketika desau angin berpusar
ikan pun
ikut menggeletar

Dari pinggir yang rapat
membaur ganggang.
Antara lumut lebat
dan tubir batu
ada lempang kayu apu
yang timbul tenggelam
meraih
arus dan buih

Sampai badai dan gempa seperti menempuhmu
dan kau teriakkan
jerit yang merdu itu
sesaat sebelum kulit langit biru
kembali, jadi biru

Engkau dewa? kau bertanya
Engkau matahari?

Laki-laki itu diam sebelum menghilang
ke sebuah asal
yang tak pernah diacuhkan:
sebuah khayal
di ujung hutan
di ornamen embun
yang setengah tersembunyi.

Yang tak pernah kau miliki, Kunthi
tak akan kau miliki.

2006

caping • Jumat, 7 Agustus 2009 @ 22:59 diunggah oleh zen

Dari Sebuah Sajak Rendra

Fantastis
Di satu Minggu siang yang panas
Di gereja yang penuh orangnya
Seorang padri muda berdiri di mimbar
Wajahnya molek dan suci
Matanya manis seperti mata kelinci
Dan ia mengangkat kedua tangannya
Yang bersih dan halus bagai leli
Lalu berkata :
“Sekarang kita bubaran.
Hari ini khotbah tak ada”

DEMIKIANLAH bermula sebuah sajak yang sangat bagus. Penulisnya Rendra. Dalam kumpulan Blues untuk Bonnie (terbit 1971), sajak yang panjang itu terbentang 6 halaman: sebuah puisi yang juga sebuah cerita pendek, sebuah kisah surealistis yang memesonakan tentang satu misa yang berakhir dengan buas.

Sang padri muda telah mengatakan, hari itu khotbah tak ada. Ia ingin kembali ke biara, untuk “merenungkan keindahan ilahi”. Tapi orang-orang, gerombolan hadirin itu, tak beranjak. Mereka tetap duduk berdesak-desak. Atau berdiri. Suara mereka mendesah. Mata mereka menatap, bertanya-tanya. Mulut mereka menganga. Mereka berhenti berdoa. Mereka ingin mendengar. Mereka sangat butuh mendengar.

Dan melihat itu, dan mendengar desah mereka, dan menghirup bau mulut mereka yang keras, sang padri muda pun terpekik : “Orang-orang ini minta pedoman. Astaga. Tuhanku, kenapa di saat ini Kau tinggalkan daku.”

Lanjut..

Puisi • Ahad, 5 April 2009 @ 12:53 diunggah oleh zen

Sajak Bertold Brecht

TAK PERNAH KAU KUCINTA SEDALAM ITU

Tak pernah kucinta kau sedalam itu, adikku,
Seperti di malam aku meninggalkanmu,
Hutan dalam pun menelanku, hutan yang biru, adikku,
Dan bintang memutih di barat itu

Tak sedikit pun aku tertawa, adikku, tak sedikitpun
Di jalan iseng ke kelam nasibku
Sementara wajah-wajah di belakang itu
Berangsur memucat di hutan biru

Semua hal mengasyikkan di malam itu, adikku
Tak pernah sebelum dan sesudah itu –
Kuakui: hanya burung besar menemaniku,
Dengan pekik lapar di gelap itu

[Judul asli: Ich habe dich nie je so geliebt...
Penerjemah: Goenawan Mohamad]