caping • Senin, 17 Agustus 2009 @ 18:45 diunggah oleh zen
MERDEKA memang tidak mudah. Empat puluh tahun merdeka menunjukkan itu. Saya kenal Pak Jamil. Anda mungkin kenal Wardi
atau Johanes. Kita kenal mereka yang tewas dalam pelbagai perang saudara dan pemberontakan. Atau kita pernah ketemu dengan mereka, yang kemudian lenyap setelah sebuah kerusuhan.
Berapa banyak sudah orang yang mati? Berapa banyak anak-anak yang terbuncang oleh guncangan politik dalam riwayat Republik, tersia-sia oleh kekalutan ekonomi, atau celaka oleh kesewenang-wenangan?
Merdeka itu ibarat hidup berkeluarga sendiri: suatu fluktuasi
nasib yang tak bisa disodorkan lagi ke punggung orang lain. Sebelum swasembada beras hari ini, kita pernah disengat hongerudim. Sebelum zaman aman, kita pernah menempuh zaman DI.
Hutan dan pedalaman tak hanya memperdengarkan suara seruling, tapi juga jadi unggur api pembakaran yang ganas - seperti dengan indahnya dituliskan oleh Ramadhan K.H. dalam sebuah puisi panjang tentang Priangan. Dan kita pun hidup dengan trauma. Kita hidup dengan kecemasan.
Lanjut..
caping • Kamis, 16 Juli 2009 @ 21:01 diunggah oleh zen
Tapi Napoleon sempat menembakkan suaranya kepada si tua pejuang kemerdekaan, “Siapa yang memaklumkan bahwa pembangkangan adalah sebuah kewajiban?”
DALAM umur 19 tahun, seorang anak bangsawan Prancis berangkat berperang - menyeberangi lautan - ke benua lain yang jauh, Amerika. Dengan sedih ia tinggalkan istrinya, untuk bertempur, bukan buat orang setanah airnya, melainkan buat sekelompok pemberontak asing.
Apa gerangan yang dicarinya?
Sejarah kemudian bercerita bahwa Gilbert de Lafayette pergi melintasi Lautan Atlantik yang luas di abad ke-18 itu, karena cintanya kepada sebuah hal yang tak begitu jelas: kemerdekaan.
Tapi mungkin perkaranya tak sesederhana itu. Lanjut..
caping • Senin, 13 Juli 2009 @ 20:54 diunggah oleh zen
ADALAH seorang wanita tua, di kota lama Yaroslavl, di tepi Sungai Volga, yang menangis menyaksikan demokrasi.
Hari itu, pekan lalu, wanita Rus itu menonton sebuah sejarah yang sedang diubah — suatu proses dramatis yang bahkan dibentangkan di lavar televisi.
Ia mengikuti laporan luar biasa dari Moskow itu: sebuah konperensi dari Partai yang berkuasa, yang dulu begitu tertutup dan angker, tapi kini serasa tidak, yang dulu sering menampilkan wajah seram, tapi kini bisa lucu, yang dulu seperti mengingkari genealoginya sendiri, tapi kini seakan insaf: bahwa Partai itu pernah jadi palu dan sabit yang menggertak rakyat, memancung….
Wanita tua itu terhenyak. Buat pertama kalinya — menurut ingatannya yang panjang — sebuah konperensi Partai berlangsung terbuka. Bukan saja sidang itu disiarkan ke seluruh khalayak, tapi juga di sidang itu para delegasi bisa mengkritik, bisa mendebat, bisa beradu pendapat. Tak ada rasa terancam bahwa nanti malam polisi rahasia akan mengetuk pintu kamar dan membawa beberapa pembangkang pergi, menghilang, seperti sisa salju pagi hari.
Wanita tua itu memang tergetar. Ia kemudian bercerita kepada wartawan The New York Times: Lanjut..