caping • Senin, 16 Agustus 2010 @ 16:12 diunggah oleh zen

Daging

Puasa: perut yang harus dibiarkan lapar, tenggorokan yang menahan haus selama 12 jam, alat kelamin yang tak tersentuh syahwat. Demikianlah yang jasmani dikendalikan: daging harus dituntun oleh roh. Kalau tidak: dosa.

Maka dari waktu ke waktu, seraya menolak yang jasmani, kita dianjurkan hanya menerima yang ”rohani”. Sejak pukul 4 dini hari, masjid dan surau penuh suara orang menyebut Tuhan, menganjurkan ibadat, meneguhkan iman, menjalankan syariat…. Kita dilengkapi dengan banyak penangkal: kita harus bisa menolak gado-gado, soto, video porno.

Tapi bisakah daging diasingkan? Bisakah tubuh dilihat terpisah? Tampaknya ada yang luput dilihat di sini. Justru pada bulan Ramadan, yang jasmani diam-diam menyiapkan resistansi.

Lanjut..

Esei • Jumat, 18 September 2009 @ 03:24 diunggah oleh zen

After Breakfast

forgiving

– A talk at University if Brandeis, to a symposium of the Brandeis International Fellowship Program, October 14, 2004.

During this honored opportunity, I will be speaking about ‘forgiveness’ or ‘forgiving’, an issue intimately related to the theme of the symposium today. It is a happy coincidence that as of tomorrow, Muslims all over the world will start their month of fasting, or Ramadhan. Both Ramadhan and its closing are important moments for a Muslim – since, at least in my country, Indonesia, people traditionally regard them as moments of self-purification, to be followed by an act of giving and forgiving.

As the religious law dictates, on the last evening of the fast, all Muslims save the very poor will have to allot at least 2,5 kilograms of staple food for people who are hungry, needy, or ensnared by debt. There is also an additional norm in our local tradition: we are expected to prepare special dishes –plenty of meat, and a wide variety of delicious spices — for relatives, friends, neighbors, and other guests.

In the village I grew up, I remember doors would be open even to total strangers. In the afternoon, a kind of fiesta would be organized, involving an elaborate costumed parade and a boat race. They were never made into a competition; no jury would announce a winner, no prize would be awarded. Needless to say, the whole celebration was very costly, but the people in the village of my childhood, who were not particularly rich, seemed to expect nothing in return.

Lanjut..

caping • Sabtu, 22 Agustus 2009 @ 15:24 diunggah oleh zen

Puasa

DI hari-hari ini saya berpuasa dan merasakan sebuah privilese: saya dihormati. Dengan tekad saya sendiri saya berniat tak makan dan tak minum sejak dini hari hingga senja; selama itu saya sadar bahwa akan ada saat-saat saya bisa tergoda—tetapi saya selamat. Saya siap untuk terganggu, tetapi lihat: saya tak boleh diganggu.

Privilese itu kini sudah seperti sesuatu yang semestinya. Demi ibadah saya, yang saya niatkan sendiri, orang-orang lain tak bisa pergi pijat karena selama sebulan semua panti pijat harus ditutup—meskipun ini bukan tempat yang mesum sama sekali—dan sekian ratus pemijat tidak mendapatkan penghasilan.

Demi ibadah saya, orang-orang lain tidak dapat minum-minuman beralkohol selama kurang-lebih 30 hari, siang dan malam—meskipun mereka lazim melakukannya sebagai bagian dari hidup mereka—karena bar tak boleh buka dan kalaupun ada restoran buka, bir, anggur, wiski, konyak, vodka, dan lain-lain harus masuk kotak.

Terkadang saya tak tahu apakah saya merasa bangga, atau bersyukur, atau merasa bersalah, ketika di mana-mana dipasang anjuran: “Hormatilah Orang yang Berpuasa”.

Lanjut..