caping • Ahad, 26 April 2009 @ 02:47 diunggah oleh zen
UNTUK jadi presiden di Amerika Serikat, seseorang harus menempuh suatu “Long March”. Seorang penulis menyebut perjalanan panjang itu sebagai ordeal, percobaan yang berat, yang mungkin lebih berat ketimbang susah payah seorang Jawa modern yang pergi dengan mobil ke gunung menunggu “wangsit”. Ambisi untuk jadi presiden dianggap cukup sah. Tapi—secara kasarnya—si calon harus mengemis. Ia harus mengemis restu kepada rakyat.
Kampanye sebenarnya adalah proses pengemisan itu. Memang, di masa lalu, hal itu tak berlangsung demikian. Di abad ke-19, si calon presiden cukup tinggal di rumah. Satu panitia kemudian datang, memberitahu kepadanya bahwa konvensi nasional telah mencalonkannya untuk jabatan presiden. Lalu ia bisa memberikan satu pidato penerimaan. Bahkan di tahun 1860 Lincoln tak membuat pidato apa-apa, sementara lawan-nya, Stepen A. Douglas, yang mengunjungi seantero negeri untuk memperoleh suara, dikecam: “Itu cara baru yang patut disesalkan, karena tak layak dilakukan oleh seorang calon untuk jabatan kepresidenan”.
Kini cara baru itu menjadi kemestian. Seorang calon presiden harus jadi salesman, juru jual yang berkeliling membujuk, bagi dirinya sendiri dan cita-citanya. Ia harus bersedia mandi keringat, lelah, kotor, dengan tangan lecet saking banyaknya berjabatan. Lanjut..
calon presiden,
david halberstam,
edmund muskie,
kampanye,
keliling,
kritik,
Lincoln,
mandat,
rakyat,
stepen a. douglas,
wangsit
caping • Ahad, 5 April 2009 @ 12:36 diunggah oleh zen
1976: seorang tokoh muda anggota parlemen mengalami sesuatu yang agak luar biasa: ia ketemu rakyat. Dengan tergopoh-gopoh hal ini diceritakannya kepada seorang kenalannya. “Sudah sekian tahun saya tak pernah naik bis kota. Tapi pagi itu mobil mogok di tengah jalan, dan tak ada taksi. Maka saya cegat bis. Dan di dalamnya saya ketemu rakyat.”
“Rakyat?” tanya kenalannya, seorang tokoh pengusaha muda. “Betul, eh?”
“Betul. Dalam bis itu belum banyak penumpang. Di sebelah kiri saya agak ke depan, seorang penyapu jalan yang sudah keriput parasnya masih tampak gagah memakai topi dinas. Di dekatnya tukang kayu. Ya, ia pasti tukang kayu: ia menyisipkan pahat besar di sabuk yang melingkari baju surjan luriknya. Ia menyedot sejenis rokok. Di jendela depan di belakang sopir seorang penjual mainan kertas meletakkan jualannya di sampingnya—dan tiba-tiba tampak kertas merah-oranye yang kasar itu seperti dekorasi penting dalam ruang bis yang biru muram itu. Di luar, pagi sudah seperempat jalan. Hari itu hari Minggu; jalanan agak sepi.
“Kedengarannya menarik betul pengalamanmu,” kata temannya. Lanjut..