Puisi • Minggu, 25 November 2012 @ 10:12 diunggah oleh

Rite of Spring

Tari itu melintas pada cermin:
bagian terakhir Ritus Musim.
Gerak gaun — paras putih –
tapak kaki yang melepas lantai….

23 tahun kemudian di kaca ia temukan wajahnya.
Sendiri. Terpisah dari ruang.
Lekang, seperti warna waktu pada kertas koreografi.

Tapi ia masih ingin meliukkan tangannya.
“Aku tak seperti dulu,” katanya,
“tapi di fragmen ini kau memerlukan aku.
Aku — hantu salju.”

Suaranya pelan. Seperti derak tulang
ketika di ruang latihan itu tak ada lagi adegan.
Hanya nafas. Mungkin ia masih di situ.

2012

Esei • Kamis, 27 September 2012 @ 11:55 diunggah oleh

Pada Mulanya Bukanlah Negara

Language and, presumably, literature are things that are more ancient and inevitable, more durable than any form of social organization Joseph Brodsky

I

Penyair, seperti Joseph Brodsky, adalah saksi bahwa bahasa memang tak mudah dijinakkan. Brodsky menerima Hadiah Nobel di tahun 1987, sekian belas tahun setelah ia dianggap ‘benalu masyarakat’ (tuneyadets) oleh Pemerintah Uni Soviet, dan dimasukkan ke klinik orang sakit jiwa, dan kemudian dikurung di sebuah penjara Leningrad, dan kemudian dikirim ke tempat kerja paksa di wilayah Arkhangelsk, dan kemudian, di tahun 1972, dibuang ke luar negeri:  ia menerima sebuah penghargaan tinggi untuk kepenyairannya seraya jadi  bukti bahwa kesusastraan adalah gejala bahasa yang tak bisa dijebak, dan bahwa bahasa itu sendiri adalah sebuah arus yang tak bisa dijangkau oleh kekuasaan dari luar dirinya — khususnya kekuasaan Negara. Bahasa, kata Brodsky, ‘lebih mampu untuk mutasi’.[i]

Tiap kali kita berbicara tentang hubungan antara bahasa dan kekuasaan, kita akan kepergok dengan ‘mutasi’ itu.

Itu sebabnya beberapa premis patut dipersoalkan kembali. Seperti dalam statemen ini:

Dalam kaitannya dengan bahasa sebagai rumah sosial yang menciptakan dan mengolah makna, bahasa senantiasa tidak terlepaskan dari persoalan kekuasaan. Kekuasaan dipahami tidak semata-mata sebagai sebuah kekuatan (entah itu politik, militer, ekonomi, budaya, atau agama) melainkan juga sebagai sebuah regulator sosial. Dalam pengertian ini kekuasaan tidak hanya menciptakan makna dari setiap sektor kehidupan, dengan bahasa sebagai tempat untuk menampungnya. Kekuasaan juga mengatur bagaimana makna harus berkembang, dibagi, dan juga disebarluaskan.

Negara adalah produsen makna terbesar bagi sebuah masyarakat modern karena negara menggantikan struktur kekuasaan tradisional dan mentransformasikannya ke dalam banyak bentuk, banyak segi, dan berbagai ekspresi. Dalam kaitannya dengan penciptaan makna oleh negara, dengan bahasa sebagai haribaan makna, upaya menyingkapkan bahasa seutuh-utuhnya – tidak dapat tidak – mensyaratkan usaha  untuk menelusuri sejauh mana kekuasaan membentuk bahasa sebagai rumah bersama.[ii]

Lanjut..

caping • Senin, 25 April 2011 @ 10:36 diunggah oleh

28 April

Pekan ini saya ingin mengenang Chairil Anwar, sebagaimana orang-orang lain mengenangnya, tapi saya akan menambahkan sebuah catatan yang terselip. Beberapa lama setelah Chairil Anwar meninggal 28 April 1949, ia berangsur-angsur menjadi seseorang yang hanya terkait dengan sajak Aku: “binatang jalang” yang berteriak ingin hidup 1.000 tahun lagi.

Saya tahu, penyair selalu mati direduksi orang ramai. Tapi agaknya puisinya selalu bisa membebaskan dirinya

Bagi saya, sajak-sajak Chairil bermula dengan sesuatu yang justru ada, terkadang tersembunyi, di bawah “aku”.

Lanjut..

Puisi • Kamis, 2 Desember 2010 @ 18:29 diunggah oleh

Gandari

Lima hari sebelum ibu para Kurawa itu membalut matanya dengan sehelai kain hitam, mendampingi suaminya, raja buta itu, sampai kelak, beberapa detik sebelum ajal…

la, yang tak ingin lagi melihat dunia, sore itu
menengok ke luar jendela buat terakhir kalinya:

Sebuah parit merayap ke arah danau. Dua ekor tikus mati,
hanyut. Sebilah papan pecah mengapung.
Sebatang ranting tua mengapung.

Di permukaan telaga, di utara, dua orang
mengayuh jukung yang tipis, dengan
dayung yang putus asa.

Ombak seakan-akan mati. Air menahan mereka.

“Mereka lari dari koloni kusta,” kata Gandari dalam hati,
“dan mereka lihat warna hitam
yang berhimpun di atas bukit.”

Malam, sebenarnya mendung, seakan mendekat.
Air naik deras ke langit:
sebuah pusaran, sebelum hujan datang, lebat,
menghantam danau.

Dan angkasa gemetar
Dan mengubah diri ke dalam putting beliun.

Lanjut..

wawancara • Senin, 31 Agustus 2009 @ 20:53 diunggah oleh

…Saya Tak Bisa Jadi Ateis

Pada Jumat sore, 25 Januari 2008, redaktur Madina, Ihsan Ali-Fauzi dan Hikmat Darmawan, bercakap-cakap dengan Goenawan Mohamad di Bakoel Coffie Cikini, tentang Tuhan para penyair, Rumi, perang agama, dan Reformasi yang tak menjanjikan apa-apa.

MADINA (M): Sebagai penyair, bagaimana Anda memandang pergumulan seorang penyair dengan Tuhan; apakah juga sama dengan pergumulan seorang penyair dengan teks?

Goenawan Mohamad (GM): Saya kira, kita tahu bahwa Tuhan datang ke kesadaran kita itu sebagai teks, melalui teks. Tuhan sendiri itu kan tidak pernah kita ketahui, yang kita ketahui selalu teks tentang Tuhan. Teks tidak berarti medium dalam bentuk tertulis. Tetapi teks dalam arti mediasi antara kita dan Tuhan itu sendiri, juga kesadaran kita tentang Dia. Jadi, setiap orang, baik penyair maupun bukan, selamanya bergulat dengan Tuhan adalah melalui teks.

M: Tapi, seberapa beda antara penyair dengan yang lain dalam menghayati teks itu?

GM: Saya kira, kalau ada bedanya, adalah kepekaan pada metafor. Para penyair lebih peka karena biasa berbicara dengan bahasa metafor. Bukan itu saja, karena para penyair sadar bahwa bahasa pada dasarnya adalah metafor, maka teks yang masuk dalam kitab suci maupun yang di luar itu, selalu berlaku sebagai metafor.

Lanjut..

Esei • Senin, 22 Juni 2009 @ 15:01 diunggah oleh

Sebuah Sajak yang Menjadi

“SEBUAH sajak yang menjadi adalah suatu dunia,” kata Chairil Anwar, dan paradoks ini bisa mengantar kita untuk melihat bagaimana puisi Indonesia mutakhir menyatakan dirinya.

Sebuah sajak yang menjadi—bukan sebuah sajak yang jadi—tidak tinggal terhenti dan tergantung pada apa yang membentuknya: kata dan konsep-konsep, “benda-benda” pampat yang tersaji dan siap untuk selesai. Sebuah sajak yang “menjadi” selama-lamanya sebuah proses, bahkan seusai dibaca. Ia senantiasa bergerak, hadir, menyelinap, setengah sembunyi, tampil kembali (dengan isyarat-isyarat baru), mencipta tak henti-hentinya, berubah, menangguhkan konklusi.

Kita tidak pernah tahu kapan dan di mana berakhirnya.

“Suatu dunia” sebaliknya bisa berarti sebuah ruang yang meskipun terbentang, punya akhir. Sebuah dunia punya garis batas. Chairil Anwar menjelaskan tentang “dunia” itu sebagai “dunia” yang diciptakan kembali sang penyair, dari “benda (materi) dan rohani, keadaan …alam dan penghidupan sekelilingnya”, dan hal-hal lain yang “berhubungan jiwa dengan dia”. Dalam arti ini kehadiran sang penyair, otoritasnya, dan lingkungan hidupnya, merupakan asal-usul dan sekaligus pemberi sosok yang definitif, sebuah mikrokosmos, kepada sebuah sajak.

Dan itulah paradoks itu: puisi bergerak antara “menjadi” dan “dunia”, sekaligus pertautan dan pergumulan yang tak habis-habisnya antara keduanya. Lanjut..

Puisi • Jumat, 29 Mei 2009 @ 21:32 diunggah oleh

Penangkapan Sukra

– Variasi atas Babad Tanah Jawi

Namaku Sukra, lahir di Kartasura, 17…, di sebuah pagi
Selasa Manis, ketika bulan telah berguling ke balik gunung.

Waktu itu, kata orang, anjing-anjing hutan menyalak panjang,
tinggi, dan seorang abdi berkata, “Ada juga lolong serigala
ketika Kurawa dilahirkan.”

Bapakku, bangsawan perkasa itu, jadi pucat.

Ia seolah menyaksikan bayang-bayang semua pohon berangkat
Pergi, tak akan kembali.

Pada umurku yang ke-21, aku ditangkap.

Debu kembali ke tanah
Jejak sembunyi ke tanah
Sukra diseret ke sana
Seluruh Kartasura tak bersuara

Sang bapak menangis kepada angin
Perempuan kepada cermin
“Raden, raden yang bagus,
pelupukku akan hangus!”
Lanjut..

Puisi • Jumat, 1 Mei 2009 @ 03:28 diunggah oleh

Lagu Pekerja Malam

Lagu pekerja malam
di sayup-sayup embun
Antara dinamo menderam
Pantun demi pantun

Lagu pekerja malam
Lagu padat damai
Lagu tak terucapkan
Jika dua pun usai

Tangan yang hitam, tangan lelaki
Lengan melogam berpercik api
dan batu pun retak di lagu serak:
Majulah jalan, majulah setapak

Nada akan terulang-ulang
dan lampu putih pasi:
Panjang, alangkah panjang
Dini hari, o, dini hari!

Lagu pekerja malam
Lagu tiang-tiang besi
Lagu tak teralahkan
Memintas sepi

[1962]

Catatan tambahan:

Titimangsa pembuatannya sedikit banyak bisa menjelaskan genesis –jika bisa disebut demikian– sajak “Lagu Pekerja Malam” ini. Lanjut..