wawancara • Senin, 31 Agustus 2009 @ 20:53 diunggah oleh zen

…Saya Tak Bisa Jadi Ateis

Pada Jumat sore, 25 Januari 2008, redaktur Madina, Ihsan Ali-Fauzi dan Hikmat Darmawan, bercakap-cakap dengan Goenawan Mohamad di Bakoel Coffie Cikini, tentang Tuhan para penyair, Rumi, perang agama, dan Reformasi yang tak menjanjikan apa-apa.

MADINA (M): Sebagai penyair, bagaimana Anda memandang pergumulan seorang penyair dengan Tuhan; apakah juga sama dengan pergumulan seorang penyair dengan teks?

Goenawan Mohamad (GM): Saya kira, kita tahu bahwa Tuhan datang ke kesadaran kita itu sebagai teks, melalui teks. Tuhan sendiri itu kan tidak pernah kita ketahui, yang kita ketahui selalu teks tentang Tuhan. Teks tidak berarti medium dalam bentuk tertulis. Tetapi teks dalam arti mediasi antara kita dan Tuhan itu sendiri, juga kesadaran kita tentang Dia. Jadi, setiap orang, baik penyair maupun bukan, selamanya bergulat dengan Tuhan adalah melalui teks.

M: Tapi, seberapa beda antara penyair dengan yang lain dalam menghayati teks itu?

GM: Saya kira, kalau ada bedanya, adalah kepekaan pada metafor. Para penyair lebih peka karena biasa berbicara dengan bahasa metafor. Bukan itu saja, karena para penyair sadar bahwa bahasa pada dasarnya adalah metafor, maka teks yang masuk dalam kitab suci maupun yang di luar itu, selalu berlaku sebagai metafor.

Lanjut..

Esei • Senin, 22 Juni 2009 @ 15:01 diunggah oleh zen

Sebuah Sajak yang Menjadi

“SEBUAH sajak yang menjadi adalah suatu dunia,” kata Chairil Anwar, dan paradoks ini bisa mengantar kita untuk melihat bagaimana puisi Indonesia mutakhir menyatakan dirinya.

Sebuah sajak yang menjadi—bukan sebuah sajak yang jadi—tidak tinggal terhenti dan tergantung pada apa yang membentuknya: kata dan konsep-konsep, “benda-benda” pampat yang tersaji dan siap untuk selesai. Sebuah sajak yang “menjadi” selama-lamanya sebuah proses, bahkan seusai dibaca. Ia senantiasa bergerak, hadir, menyelinap, setengah sembunyi, tampil kembali (dengan isyarat-isyarat baru), mencipta tak henti-hentinya, berubah, menangguhkan konklusi.

Kita tidak pernah tahu kapan dan di mana berakhirnya.

“Suatu dunia” sebaliknya bisa berarti sebuah ruang yang meskipun terbentang, punya akhir. Sebuah dunia punya garis batas. Chairil Anwar menjelaskan tentang “dunia” itu sebagai “dunia” yang diciptakan kembali sang penyair, dari “benda (materi) dan rohani, keadaan …alam dan penghidupan sekelilingnya”, dan hal-hal lain yang “berhubungan jiwa dengan dia”. Dalam arti ini kehadiran sang penyair, otoritasnya, dan lingkungan hidupnya, merupakan asal-usul dan sekaligus pemberi sosok yang definitif, sebuah mikrokosmos, kepada sebuah sajak.

Dan itulah paradoks itu: puisi bergerak antara “menjadi” dan “dunia”, sekaligus pertautan dan pergumulan yang tak habis-habisnya antara keduanya. Lanjut..

Puisi • Jumat, 29 Mei 2009 @ 21:32 diunggah oleh zen

Penangkapan Sukra

– Variasi atas Babad Tanah Jawi

Namaku Sukra, lahir di Kartasura, 17…, di sebuah pagi
Selasa Manis, ketika bulan telah berguling ke balik gunung.

Waktu itu, kata orang, anjing-anjing hutan menyalak panjang,
tinggi, dan seorang abdi berkata, “Ada juga lolong serigala
ketika Kurawa dilahirkan.”

Bapakku, bangsawan perkasa itu, jadi pucat.

Ia seolah menyaksikan bayang-bayang semua pohon berangkat
Pergi, tak akan kembali.

Pada umurku yang ke-21, aku ditangkap.

Debu kembali ke tanah
Jejak sembunyi ke tanah
Sukra diseret ke sana
Seluruh Kartasura tak bersuara

Sang bapak menangis kepada angin
Perempuan kepada cermin
“Raden, raden yang bagus,
pelupukku akan hangus!”
Lanjut..

Puisi • Jumat, 1 Mei 2009 @ 03:28 diunggah oleh zen

Lagu Pekerja Malam

Lagu pekerja malam
di sayup-sayup embun
Antara dinamo menderam
Pantun demi pantun

Lagu pekerja malam
Lagu padat damai
Lagu tak terucapkan
Jika dua pun usai

Tangan yang hitam, tangan lelaki
Lengan melogam berpercik api
dan batu pun retak di lagu serak:
Majulah jalan, majulah setapak

Nada akan terulang-ulang
dan lampu putih pasi:
Panjang, alangkah panjang
Dini hari, o, dini hari!

Lagu pekerja malam
Lagu tiang-tiang besi
Lagu tak teralahkan
Memintas sepi

[1962]

Catatan tambahan:

Titimangsa pembuatannya sedikit banyak bisa menjelaskan genesis –jika bisa disebut demikian– sajak “Lagu Pekerja Malam” ini. Lanjut..