Esei • Senin, 5 Oktober 2009 @ 23:31 diunggah oleh zen

Remembering The Left

“I am no Nelson Mandela… and Indonesia is not South Africa”, Pramoedya Ananta Toer says in an interview, in reply to a criticism of his position on Gus Dur’s idea of reconciliation.

No doubt Pramoedya is right. In today’s Indonesia, no one, including him, is a Nelson Mandela. And true enough there are major differences between the Indonesian and South African experiences.

The evening of 22 June 1996 began with a spectacle of red bandannas. About 70 people, mostly in their twenties, packed the neon-lighted conference room of the Jakarta Legal Aid Bureau’s office. Almost everyone had a red scarf tied around the neck, almost everyone was skinny and emaciated, and the room had an air of excitement and of brazenness.

Obviously, it was an unusual evening. The young people were celebrating the birth of a new political party, the PRD (Partai Rakyat Demokratik, or the Democratic People’s Party). In one bold stroke, they produced two acts of defiance against the Soeharto regime. The regime had declared it illegal to set up a political movement or party without the government’s permission, and the PRD people challenged this openly. The Soeharto regime created a widespread fear of anything “leftist”, and threatened anyone fostering an opinion tainted with Marxist ideas. Against this, the young people with red bandannas stood up. Under the watchful eyes of government spies, they openly hoisted the banner of the Left.

The evening was also marked by an award-giving ceremony, honouring people and institutions regarded by some as the enemies of the regime, including among others novelist Pramoedya Ananta Toer and Tempo news weekly.

Lanjut..

Bookmark and Share
Esei • Rabu, 30 September 2009 @ 04:51 diunggah oleh zen

Bayang-bayang PKI

komunis

Komunisme gagal, dan ada sebuah lelucon tentang itu. Saya mendengarnya di tepi Sungai Neva, Petersburg, di tahun 1990.

Di tepi bengawan yang membelah kota tua itu tertambat kapal penjelajah Aurora, yang sudah jadi sebuah museum. Tanggal 6 Nopember 1917, dari meriam kapal yang dikuasai para pelaut Bolsyewik ini, ditembakkanlah sebutir peluru kosong. Pasukan komunis pun menyerbu Istana Musim Dingin, tempat pemerintahan non-komunis yang dipimpin Kerensky berada. Kaum Bolsyewik menang, Kerensky lari, dan Rusia menjadi negeri komunis pertama di dunia.

Lebih dari 70 tahun kemudian, ketika komunisme terbukti tidak mampu membuat hidup yang lebih baik di sana, orang pun mencemooh: kapal Aurora ternyata punya senjata yang paling dahsyat di dunia, katanya. Dengan satu peluru kosong, ekonomi Rusia dapat dihancurkan selama 70 tahun lebih.

Dari segi ini, komunisme adalah sebuah cerita tragis sebenarnya.

Lanjut..

Bookmark and Share
caping • Ahad, 27 September 2009 @ 19:46 diunggah oleh zen

Yang Keras

Saya telah mengenal kekerasan, bahkan sebelum saya bisa bilang “tidak”.

Jika seorang Indonesia harus menulis autobiografinya, mungkin sekali ia akan mencantumkan kalimat seperti itu. Saya mengalaminya. Anda juga. Kita punya riwayat yang sama: sejarah sebuah negeri yang tak serta merta sunyi, tentram, damai, seperti Telaga Sarangan dalam nyanyian orkes keroncong. Tanah ini memang tanah tumpah darah.

Ingatan saya yang paling jauh ke masa kecil adalah ingatan samar-samar tentang sebuah ruang yang gelap. Si Bungsu dipangku ibu di sebuah kursi goyang. Hampir seluruh keluarga berkumpul, tapi tak seorang pun bicara.

Kemudian hari, setelah dewasa, baru saya tahu apa yang terjadi pada saat itu: kami semua bersembunyi di dalam lubang perlindungan besar yang dibangun Bapak di halaman rumah. Hari itu adalah suatu hari di masa Jepang. Kata-kata tegang, tapi menarik, dan begitu dekat, adalah “bom” dan “perang”. Dan kami ketika itu harus membiasakan diri.

Bom dan perang memang kemudian terjadi, dan terus terjadi. Masa Jepang habis orang-orang tak bicara soal merdeka. Bapak menaikkan bendera merah putih dengan mata basah. Tapi pasukan Belanda masuk kembali. Seorang penduduk tertembak kakinya. Di malam pertama pasukan asing itu menduduki kota kami, seorang pemuda pemberani melemparkan granat ke markas mereka. ia sendiri tertembak mati, dengan jidat hancur.

Lanjut..

Bookmark and Share