Esei • Senin, 5 Oktober 2009 @ 23:31 diunggah oleh zen
“I am no Nelson Mandela… and Indonesia is not South Africa”, Pramoedya Ananta Toer says in an interview, in reply to a criticism of his position on Gus Dur’s idea of reconciliation.
No doubt Pramoedya is right. In today’s Indonesia, no one, including him, is a Nelson Mandela. And true enough there are major differences between the Indonesian and South African experiences.
The evening of 22 June 1996 began with a spectacle of red bandannas. About 70 people, mostly in their twenties, packed the neon-lighted conference room of the Jakarta Legal Aid Bureau’s office. Almost everyone had a red scarf tied around the neck, almost everyone was skinny and emaciated, and the room had an air of excitement and of brazenness.
Obviously, it was an unusual evening. The young people were celebrating the birth of a new political party, the PRD (Partai Rakyat Demokratik, or the Democratic People’s Party). In one bold stroke, they produced two acts of defiance against the Soeharto regime. The regime had declared it illegal to set up a political movement or party without the government’s permission, and the PRD people challenged this openly. The Soeharto regime created a widespread fear of anything “leftist”, and threatened anyone fostering an opinion tainted with Marxist ideas. Against this, the young people with red bandannas stood up. Under the watchful eyes of government spies, they openly hoisted the banner of the Left.
The evening was also marked by an award-giving ceremony, honouring people and institutions regarded by some as the enemies of the regime, including among others novelist Pramoedya Ananta Toer and Tempo news weekly.
Lanjut..
Esei • Selasa, 8 September 2009 @ 23:26 diunggah oleh zen
Membuat buku terbit, itu destruktif bagi penulisan
– Ernest Hemingway, dalam sepucuk surat 2 Oktober 1952
I
JIKA sebuah buku adalah sebuah akhir penulisan, maka ia berhenti menjadi sebuah teks. Ia menjadi sesuatu yang final. Sebab itulah buku bisa dianggap destruktif terhadap penulisan (begitulah yang dikatakan Hemingway), tetapi dengan demikian juga sebuah buku dituntut untuk hanya jadi petunjuk tentang desain yang belum selesai. Perjalanan masih panjang. Tiap buku adalah sebuah halte kecil. Maka buku menjadi perlu.
Tetapi saya tidak tahu pasti bagaimana keadaannya dewasa ini terutama di Indonesia, di sebuah masyarakat yang dengan cepat, bahkan langsung, bergerak dari suatu keadaan praliterer ke dalam keadaan pascaliterer, dari suatu lingkungan yang tak pernah membaca ke dalam suatu lingkungan yang tak hendak membaca, di mana media televisi mengisi hampir, setidaknya dalam dugaan saya, 50% dari waktu senggang malam hari orang Indonesia yang berpendidikan sekolah menengah.
Memang ada sebuah lelucon dari Groucho Marx yang menghubungkan acara televisi yang buruk dengan buku. “Menurut hemat saya, televisi itu sangat edukatif,” kata pemain film komedi tahun 1930-an itu, “Tiap kali ada orang yang menyetelnya, saya langsung pergi ke kamar lain dan membaca buku yang menyenangkan”.
Tetapi di Indonesia, telenovela dengan wajah-wajah yang rupawan, film silat dengan pukulan-pukulan yang ajaib, dan puluhan kuis yang tidak menginginkan kecerdasan, semuanya begitu gilang-gemilang, dan orang-orang bisa duduk di depannya, bersama-sama, rukun dan terpukau.
Lagipula di rumah kelas menengah kita, mana ada sebuah kamar yang menyediakan buku?
Lanjut..