Puisi • Rabu, 8 April 2009 @ 23:08 diunggah oleh zen

Tentang Seorang yang Terbunuh di Sekitar Hari Pemilihan Umum

“Tuhan, berikanlah suara-Mu, kepadaku.”

Seperti jadi senyap salak anjing ketika ronda menemukan mayatnya di tepi pematang. Telungkup. Seperti mencari harum dan hangat padi. Tapi bau asing itu dan dingin pipinya jadi aneh, di bawah bulan. Dan kemudian mereka pun berdatangan — senter, suluh, dan kunang-kunang — tapi tak seorangpun mengenalinya. Ia bukan orang sini, hansip itu berkata.

“Berikanlah suara-Mu.”

Di bawah petromaks kelurahan mereka menemukan liang luka yang lebih. Bayang-bayang bergoyang sibuk dan beranda meninggalkan bisik. Orang ini tak berkartu. Ia tak bernama. Ia tak berpartai. Ia tak bertanda gambar. Ia tak ada yang menangisi, karena kita tak bisa menangisi. Apa gerangan agamanya?

“Juru peta yang Agung, di manakah tanah airku?”

Lusa kemudian mereka membacanya di koran kota, di halaman pertama. Ada seorang yang menangis entah mengapa. Ada seorang yang tak menangis entah mengapa. Ada seorang anak yang letih dan membikin topi dari koran pagi itu, yang diterbangkan angin kemudian. Lihatlah. Di udara berpasang layang-layang, semua bertopang pada cuaca. Lalu burung-burung sore hinggap di kawat-kawat, sementara bangau-bangau menuju ujung senja, melintasi lapangan yang gundul dan warna yang panjang, seperti asap yang sirna.

“Tuhan, berikanlah suara-Mu, kepadaku.”

1971

caping • Ahad, 5 April 2009 @ 12:36 diunggah oleh zen

Ia Ketemu Rakyat

1976: seorang tokoh muda anggota parlemen mengalami sesuatu yang agak luar biasa: ia ketemu rakyat. Dengan tergopoh-gopoh hal ini diceritakannya kepada seorang kenalannya. “Sudah sekian tahun saya tak pernah naik bis kota. Tapi pagi itu mobil mogok di tengah jalan, dan tak ada taksi. Maka saya cegat bis. Dan di dalamnya saya ketemu rakyat.”

“Rakyat?” tanya kenalannya, seorang tokoh pengusaha muda. “Betul, eh?”

“Betul. Dalam bis itu belum banyak penumpang. Di sebelah kiri saya agak ke depan, seorang penyapu jalan yang sudah keriput parasnya masih tampak gagah memakai topi dinas. Di dekatnya tukang kayu. Ya, ia pasti tukang kayu: ia menyisipkan pahat besar di sabuk yang melingkari baju surjan luriknya. Ia menyedot sejenis rokok. Di jendela depan di belakang sopir seorang penjual mainan kertas meletakkan jualannya di sampingnya—dan tiba-tiba tampak kertas merah-oranye yang kasar itu seperti dekorasi penting dalam ruang bis yang biru muram itu. Di luar, pagi sudah seperempat jalan. Hari itu hari Minggu; jalanan agak sepi.

“Kedengarannya menarik betul pengalamanmu,” kata temannya. Lanjut..