caping • Jumat, 16 Oktober 2009 @ 10:16 diunggah oleh zen

Tahu dan Politik

Parlemen yang terbaik sekalipun bisa seperti sebuah pabrik tahu. Ia berbau bacin.

Kita bayangkan pabrik tahu itu: dalam dapurnya beberapa onggok kedelai diinjak-injak dengan kaki telanjang (siapa tahu dengan tungkak yang berkudis), diinjak-injak agar lumat, kemudian dicampur dengan air yang kian lama kian mirip lendir. Tak mengherankan bila kata “tahu” berasal dari bahasa Cina, “toufu”, dan kata “fu” berarti “busuk”.

Tapi dari pabrik yang berbau busuk itu lahirlah beratus-ratus bentuk kubus yang kemudian menjadi tahu pong atau tahu sumedang. Dan kita menikmatinya.

Parlemen yang terbaik sekalipun seperti sebuah pabrik tahu. Ia adalah tempat lahirnya pelbagai undang-undang—dan setiap undang-undang pada dasarnya adalah pernyataan harapan bahwa hidup dapat dibuat lebih baik. Lihatlah hukum yang mengatur perawatan lingkungan atau hukum yang melindungi nasib buruh. Undang-undang adalah sebuah alat konstruktif. Tapi bagaimana ia diproses sampai lahir adalah suatu perkara yang tak selamanya cocok dengan selera kesucian para nabi.

Seorang wakil rakyat pernah berbisik: jika pada suatu hari kau datang, dari perpustakaan yang ruangnya bersih dan lampunya terang, dan kau masuk ke sebuah gedung parlemen untuk menyaksikan bagaimana undang-undang diproduksikan, kau bisa muak.

Lanjut..

caping • Ahad, 5 April 2009 @ 12:36 diunggah oleh zen

Ia Ketemu Rakyat

1976: seorang tokoh muda anggota parlemen mengalami sesuatu yang agak luar biasa: ia ketemu rakyat. Dengan tergopoh-gopoh hal ini diceritakannya kepada seorang kenalannya. “Sudah sekian tahun saya tak pernah naik bis kota. Tapi pagi itu mobil mogok di tengah jalan, dan tak ada taksi. Maka saya cegat bis. Dan di dalamnya saya ketemu rakyat.”

“Rakyat?” tanya kenalannya, seorang tokoh pengusaha muda. “Betul, eh?”

“Betul. Dalam bis itu belum banyak penumpang. Di sebelah kiri saya agak ke depan, seorang penyapu jalan yang sudah keriput parasnya masih tampak gagah memakai topi dinas. Di dekatnya tukang kayu. Ya, ia pasti tukang kayu: ia menyisipkan pahat besar di sabuk yang melingkari baju surjan luriknya. Ia menyedot sejenis rokok. Di jendela depan di belakang sopir seorang penjual mainan kertas meletakkan jualannya di sampingnya—dan tiba-tiba tampak kertas merah-oranye yang kasar itu seperti dekorasi penting dalam ruang bis yang biru muram itu. Di luar, pagi sudah seperempat jalan. Hari itu hari Minggu; jalanan agak sepi.

“Kedengarannya menarik betul pengalamanmu,” kata temannya. Lanjut..