caping • Jumat, 30 Oktober 2009 @ 16:17 diunggah oleh

The Closing of the Newspapers, 1978

Every time in history, it seems, has a moment when it s not easy to speak, bu when also it s not easy to remain silent. We do not know precisely how our words will be valued, or if a gesture will be noticed. At times like this, there is only cloud, rain, or silence — even indifference — outside the door. All is a puzzle.

Nonetheless we still need to talk to ourselves. We do not only act. Every action demands approval. At the very moment we tell others to be silent, in fact deep in our hearts we want those others to approve our action. We wish to place our capacity to conquer alongside our capacity to convince.

Certainly it cannot always be like this. But it is understandable that n our actions we seek aproval for ourselves so as to be seen as “good people” and our actions as “succesful”. In a short, people around us are something we cannot ignore –they are something we need.

Perhaps this is why there is a type of unwritten law within any power structure: no matter how authoritarian that rule, it will still need someone else who is free of it.

Lanjut..

caping • Jumat, 30 Oktober 2009 @ 16:11 diunggah oleh

Ikhtiar Demokrasi

DI SETIAP masa nampaknya selalu ada saat yang tak mudah untuk berbicara,tapi tidak gampang untuk diam. Kita tidak tahu pasti bagaimana persisnya kata-kata akan diberi harga, dan apakah sebuah isyarat akan sampai. Di luar pintu, pada saat seperti ini, hanya ada mendung, atau hujan, atau kebisuan, mungkin ketidak-acuhan. Semuanya teka-teki.

Toh setidaknya kita masih membutuhkan pembicaraan dengan diri sendiri. Kita tidak hanya bertindak. Setiap tindakan memerlukan penghalalan. Pada saat kita minta orang lain untuk diam sekalipun, sebenarnya jauh di dalam hati kita ingin agar orang lain itu kemudian membenarkan tindakan kita. Kapasitas kita untuk mengalahkan ingin kita sertai dengan kapasitas kita untuk meyakinkan.

Memang, itu tak selamanya bisa terjadi. Tapi adalah wajar bila kita, dengan tindakan kita, ingin dinilai “berhasil” dan serentak itu kita ingin dinilai sebagai “orang baik.” Pendeknya, orang lain di luar kita adalah sesuatu yang tak terelakkan, juga sesuatu yang kita butuhkan.

Mungkin itulah sebabnya, ada semacam hukum dalam setiap
kekuasaan: betapapun hebatnya kekuasaan itu, ia masih tetap
membutuhkan orang lain yang bebas.

Lanjut..

Pidato • Senin, 1 Juni 2009 @ 07:02 diunggah oleh

Menggali Pancasila Kembali

Bukan saja bangsa Indonesia bertuhan, tetapi masing-masing orang Indonesia hendaknya bertuhan Tuhannya sendiri’ — Bung Karno, Lahirnya Pancasila, 1 Juni 1945.

KITA hidup dalam sebuah zaman yang makin menyadari ketidak-sempurnaan nasib. Gagasan ‘sosialisme ilmiah’ yang ditawarkan oleh Marx dan Engels pernah meramalkan tercapainya ‘surga di bumi’, sebuah masyarakat di mana kapitalisme hilang dan kontradiksi tak ditemukan lagi. Tapi cita-cita itu terbentur dengan kenyataan yang keras di akhir dasawarsa ke-8 abad ke-20: Uni Soviet dan RRC mengubah haluan, dengan menerima ‘jalan kapitalis’ yang semula dikecam. Sosialisme pun terpuruk: ternyata ‘ilmiah’ bukan berarti ‘tanpa salah’, ternyata Marxisme sebuah gagasan yang akhirnya harus mengakui bahwa dunia tak akan pernah bebas dari kontradiksi.

Dewasa ini cita-cita menegakkan ‘Negara Islam’ mungkin satu-satunya yang masih percaya bahwa kesempurnaan bisa diwujudkan. Jika hukum Tuhan adalah hukum yang hendak diterapkan, mau tak mau hasil yang diharapkan adalah sebuah kehidupan sosial yang tanpa cacat.

Dengan kata lain, para penganjur ‘Negara Islam’ adalah penggagas yang tak membaca sejarah yang terbentang dalam jangka waktu lebih dari 21 abad – sebuah sejarah harapan dan kekecewaan yang silih berganti, sebuah sejarah ide dan rencana cemerlang yang kemudian terbentur, sebuah riwayat pemimpin dan khalifah yang tak selamanya tahu bagaimana menjauh dari sabu-sabu kekuasaan.

Para penganjur ide ‘Negara Islam’ lupa bahwa agama selamanya menjanjikan kehidupan alternatif: di samping yang ‘duniawi’ yang kita jalani kini, ada kelak yang ‘ukhrowi’ yang lebih baik. Maka sebuah ‘Negara Islam’ yang tak mengakui ketidak-sempurnaannya sendiri akan salah secara akidah. Tapi sebuah ‘Negara Islam’ yang mengakui ketidak-sempurnaannya sendiri akan menimbulkan persoalan: bukankah ajektif ‘Islam’ mengandaikan sesuatu yang sempurna?

Dilema itu berasal dari pengalaman kita: bumi adalah bumi; ia bukan surga. Ketidak-sempurnaan, bahkan cacat, berlangsung terus, berselang-seling dengan saat-saat yang mengagumkan. Agaknya akan demikian seterusnya. Lanjut..

caping • Senin, 1 Juni 2009 @ 06:58 diunggah oleh

Bagaimana Pancasila Lahir

SEBUAH diskusi kecil, senja hari. Hanya 19 orang yang serta,
dan tak semua aktif bicara. Ada sejumlah filosof, termasuk seorang filosof asing terkemuka, dan beberapa filosof muda. Ada beberapa ahli ilmu sosial. Ada negarawan pensiunan. Juga jenderal purnawirawan.

Yang dibicarakan ialah soal ideologi nasional. Dan karena diskusi ini terjadi di Indonesia, maka bersoaljawablah mereka tentang Pancasila.

Di bawah ini petilan-petilan tidak lengkap.

T.B. Simatupang: “Sekiranya kita tidak mempunyai Pancasila, apakah kita akan pernah mampu untuk mempertahankan kesatuan dan persatuan bangsa ini?

Alfian: “Dalam hal ini secara teoritis saya kira orang dapat mengatakan ya. Umpamanya, Majapahit berdiri tidak berdasarkan Pancasila dan Siriwijaya berdiri juga tidak berdasarkan Pancasila. Dalam tahun 1945 . . . pilihan yang cerdas, ‘the intelligent choice’ dari masyarakat Indonesia menemukan Pancasila. Ditinjau dari segi sejarah, . . . kita mungkin saja memilih yang lain. Pilihan itu tergantung pada bagaimana orang menafsirkan sejarah secara cerdas. Lanjut..

Pidato • Rabu, 29 April 2009 @ 13:51 diunggah oleh

Menggali Pancasila Kembali

pidato gm dalam peluncuran politkana.com

Dengan kata lain, kita membutuhkan Pancasila kembali untuk mengukuhkan, bahwa kita mau tak mau perlu hidup dengan sebuah pandangan dan sikap yang manusiawi – yang mengakui peliknya hidup bermasyarakat. Para pembela ide ‘Negara Islam’ gemar mengatakan, mereka lebih baik memilih dasar Islam karena Islam datang dari Allah, sedang Pancasila itu bikinan manusia. Tapi justru karena Pancasila adalah bagian dari ikhtiar manusia, ia tak mengklaim dirinya suci dan sakti. Dengan demikian ia adalah ‘inspirasi’ untuk sebuah kehidupan bersama yang mengakui dirinya mengandung ‘kurang’, karena senantiasa bergulat antara ‘eka’ dan ‘bhineka’.

Demikian petikan pidato Goenawan Mohamad, Menggali Pancasila Kembali, dalam peluncuran politikana.com di Komunitas Salihara, Jakarta, Senin 27 April 2009. Naskah PDF dapat Anda baca dan unduh dari halaman Dokumen PDF.