caping • Sabtu, 17 Oktober 2009 @ 09:45 diunggah oleh zen

Pulung

Dari itu agaknya kita tahu, seperti kata Lionel Tiger yang menulis sebuah buku tentang “biologi harapan”, bahwa manusia adalah “sejenis hewan dengan bakat besar untuk berharap”, an animal with a gorgeous genius for hope.

Di masa lalu orang sering melihat harapan. Bentuknya pulung: seberkas cahaya yang jatuh dari langit di malam hari, isyarat bahwa seseorang telah dipilih untuk punya kelebihan, dan dengan itu mengatasi dunia yang ruwet.

Dengan kata lain, harapan adalah sesuatu yang luar biasa. Itu juga yang sampai sekarang terjadi.

Pulung memang tak tampak turun di Cikeas, di bubungan rumah presiden Indonesia yang baru. Tapi di Cikeas dan di luarnya, tiap kali kita “meng-harap” kita selalu “ber-harap”. Kita melakukan sesuatu untuk mengadakan harap, tapi pada saat yang sama kita bersikap bahwa kita berada dalam keadaan sudah mempunyainya (tersirat dari awalan “ber”). Artinya, ada sebuah loncatan ajaib antara belum dan sudah ada.

Harap seakan-akan tercipta dari ketiadaan, datang dari creatio ex nihilo.

Lanjut..