caping • Selasa, 20 Desember 2011 @ 09:04 diunggah oleh zen
…. ide-ide Niccolo Machiavelli…sangat bermanfaat… pendekatannya terfokus pada peran individu sebagai aktor mandiri yang memiliki, menciptakan, dan memanfaatkan sumber daya politik. Pendekatan ini berbeda sekali dengan fokus Marx dan pengikutnya… yang amat membatasi atau malah menafikan peran individu selaku penyebab perubahan sosial.´’
– R. William Liddle, ‘Marx atau Machiavelli: Menuju Demokrasi Yang Bermutu di Indonesia dan Amerika” - Nurcholish Madjid Memorial Lecture, di Aula Universitas Paramadina, Jakarta, 8 Desember 2011.
Machiavelli adalah kata kotor yang sulit dielakkan. Nama itu selalu dikaitkan dengan kalimat “tujuan menghalalkan cara”. Tapi orang Italia ini juga menulis sebuah buku yang selama 500 tahun diperbincangkan, tentang manusia dan politik. Ia bukan pengarang dengan semboyan pendek.
Tapi ia juga bukan filosof dengan teori besar. Ia berangkat dari pengalaman — jalan yang ujungnya kegagalan. Bukunya itu, Il Principe, yang rampung di tahun 1516, ditulisnya di sebuah villa tua tempat ia mengundurkan diri. Setelah kalah.
Lanjut..
caping • Ahad, 18 Desember 2011 @ 23:29 diunggah oleh zen
DI Praha, Sastrawan Vaclav Havel dipenjarakan antara tahun 1979 dan 1983. Sebelumnya, di tahun 1977 ia juga ditahan.
Dosanya: Ia menulis sepucuk surat kepada Husak, presiden Cekoslovakia waktu itu. Dalam surat itu Havel mengingatkan, bahwa pada akhirnya rakyat yang tertekan akan menuntut harga bagi “tindakan yang secara permanen merendahkan martabat manusia”. Ia dianggap “subversif”.
Tapi 12 tahun kemudian, yang dikatakannya terbukti. Rakyat Cekoslovakia merontokkan pemerintah yang membreidel mulut + hati + pikiran manusia itu. Presiden Husak jatuh. Orang ramai pun berseru meminta agar yang menggantikannya adalah orang yang pernah jadi korban: Vaclav Havel.
Ajaib, lebih ajaib dari dongeng. Dalam dongeng, perlu waktu lama buat sang korban untuk jadi pemenang. Di Cekoslovakia, proses itu begitu cepat: 41 tahun lamanya Partai Komunis berkuasa, dalam sebulan fundasinya ambruk. Dan apa kesaktian Vaclav Havel, hingga ia bisa mengalami transformasi dari-si-tertindas-jadi-si-kuasa? Hanya pada kata.
Lanjut..
Esei • Rabu, 8 September 2010 @ 01:10 diunggah oleh zen
I
Bung Karno lahir dan dibesarkan di sebuah keluarga yang tak membaca Qur’an sebagai bagian kehidupan sehari-hari. Ayahnya seorang priyayi Jawa, pengikut theosofi, ibunya seorang perempuan Hindu Bali. [1]
Seperti dikatakannya di tahun 1962, di hadapan Muktamar ke-32 Muhammadiyah di Jakarta:
Ibu adalah meskipun beragama Islam asal daripada agama lain, orang Bali. Bapak, meskipun beragama Islam, beliau adalah beragama, jikalau boleh dinamakan agama, theosofi. Jadi kedua kedua orangtua saya ini yang saya cintai dengan segenap jiwa saya, sebenarnya tidak dapat memberikan pengajaran kepada saya tentang agama Islam.
Apa yang diajarkan orangtuanya? Ada sebuah detail dalam Sukarno, an Autobiography as told to Cindy Adams, yang sekilas menunjukkan dasar etis yang diajarkan sang ayah, seorang guru, kepadanya. [2] Pada suatu hari si kecil Karno memanjat pohon jambu di pekarangan rumah. Tak sengaja ia membuat sarang burung di dahan itu jatuh. Ayahnya memarahinya: anak itu harus menghargai hidup makhluk apapun.
Lanjut..
bernard dahm,
bung karno,
cindy adams,
hatta,
islam,
marx,
marxisme,
sarekat islam,
sjahrir,
soekarno,
tjokroaminoto
Esei • Senin, 9 Maret 2009 @ 11:40 diunggah oleh zen
I
SAYA bayangkan Sjahrir di Banda Neira pagi itu, 1 Februari 1942. Kemarin tentara Jepang menyerbu Ambon dan beberapa jam sesudah itu bom dijatuhkan.
Saya bayangkan Sjahrir di Banda Neira pagi itu, setelah sebuah pesawat MLD-Catalina yang bisa mendarat di permukaan laut berputar-putar di sekitar pulau. Berisiknya membangunkan penduduk. Tak lama kemudian, kapal terbang kecil itu pun berhenti di teluk. Ko-pilot pesawat, seorang perwira Belanda yang kurus, turun dan menuju ke tempat Sjahrir dan Hatta tinggal. Kedua tahanan politik itu harus meninggalkan pulau cepat-cepat, pesannya. Hanya ada sekitar waktu satu jam untuk bersiap.
Hatta mengepak buku-bukunya, tergopoh-gopoh, ke dalam 16 kotak. Sjahrir memutuskan untuk membawa ketiga anak angkatnya, meski pun salah satunya masih berumur tiga tahun. Sesampai di tempat pesawat, sebuah problem harus dipecahkan: ruang di Catalina itu terbatas. Enambelas kotak buku atau ketiga anak itu harus ditinggalkan. Hatta mengalah. Enambelas kotak buku tak jadi dibawa –untuk selama-lamanya—kecuali Bos Atlas yang sempat disisipkan Hatta ke dalam kopor pakaian. Empatpuluh tahun kemudian Hatta masih menyesali kehilangan itu. Lanjut..