caping • Minggu, 20 Januari 2013 @ 18:18 diunggah oleh zen
Banjir yang meluluh-lantakkan hidup disebut berkali-kali dalam pelbagai cerita purba, di Mesopotamia maupun Yunani.
Juga dalam Mahabharata:
Anak cucu Adamis dan Hevas dengan segera jadi begitu jahat hingga mereka tak dapat lagi hidup rukun. Brahma pun memutuskan untuk menghukum ciptaannya. Vishnu memerintahkan Vaivasvata membangun sebuah kapal untuk dirinya sendiri dan keluarganya. Ketika kapal itu siap, dan Vaivasta dan keluarganya ada di dalam dengan benih tiap tanaman dan pasangan jantan-betina tiap jenis hewan, hujan besar pun turun dan sungai-sungai mulai meluap.
Dengan cepat akan terlihat persamaan nama antara Mahabharata dengan yang kita dapatkan dalam agama-agama Ibrahimi: “Adamis” dengan “Adam”, “Hevas” dengan “Hawa”. Juga nama anak-anak yang lahir dari Satyavarman setelah banjir besar dalam Matsya Purana mirip dengan keturunan Nuh yang disebut Alkitab: “Shem”, “Sham”, and “Jyapeti” dekat sekali bunyinya dengan “Shem”, “Ham,” and “Japhet” (dalam Qur’an: “Yafith”).
Saya tak bisa memastikan adakah itu indikasi bahwa kitab-kitab Hindu lama punya pengaruh ke dalam agama Ibrahimi. Setidaknya bisa dikatakan: ada persamaan yang membayang-bayangi di celah-celah perbedaan antara pelbagai agama itu. Terutama kisah tentang banjir besar.
Lanjut..
Puisi • Kamis, 2 Desember 2010 @ 18:29 diunggah oleh zen
Lima hari sebelum ibu para Kurawa itu membalut matanya dengan sehelai kain hitam, mendampingi suaminya, raja buta itu, sampai kelak, beberapa detik sebelum ajal…
la, yang tak ingin lagi melihat dunia, sore itu
menengok ke luar jendela buat terakhir kalinya:
Sebuah parit merayap ke arah danau. Dua ekor tikus mati,
hanyut. Sebilah papan pecah mengapung.
Sebatang ranting tua mengapung.
Di permukaan telaga, di utara, dua orang
mengayuh jukung yang tipis, dengan
dayung yang putus asa.
Ombak seakan-akan mati. Air menahan mereka.
“Mereka lari dari koloni kusta,” kata Gandari dalam hati,
“dan mereka lihat warna hitam
yang berhimpun di atas bukit.”
Malam, sebenarnya mendung, seakan mendekat.
Air naik deras ke langit:
sebuah pusaran, sebelum hujan datang, lebat,
menghantam danau.
Dan angkasa gemetar
Dan mengubah diri ke dalam putting beliun.
Lanjut..
caping • Minggu, 10 Oktober 2010 @ 18:52 diunggah oleh zen
Beberapa saat sebelum ia tewas, Karna tahu ia akan kalah. Dan ia akan kalah dengan kesadaran yang pahit: ia akhirnya memang bukan apa-apa. Ia merasa diri telah bertempur dengan keberanian seorang pendekar perang, tapi siapakah dia sebenarnya? Bukan seorang dari keluarga Kurawa yang dibelanya. Bukan seorang ksatria seperti para pangeran di pertempuran di Kurusetra itu. Ia hanya seorang yang, ketika terpojok, tak bisa membaca lengkap mantra yang mungkin akan menyelamatkannya dari panah Arjuna.
Saat terlalu sempit untuk memaki atau menangisi nasib. Tapi ia ingat: mantra yang lengkap itu tak diberikan kepadanya oleh gurunya, Rama Bargawa. Sang guru membatalkan memberinya versi yang penuh, karena ia dianggap telah berdusta: ketika ia datang berguru, Karna tak mengaku ia datang dari kasta ksatria kasta yang bagi Rama Bargawa, yang berasal dari kaum brahmana dan punya dendam khusus kepada para ksatria, harus dimusnahkan.
Tapi hamba memang bukan dari kasta itu, Karna ingin memprotes ketika sang guru membongkar “kepalsuan” dirinya. Tapi protes itu, seperti air matanya, harus ia tahan. Ia segera kembali ke asrama, mengemasi pakaian dan busur serta panahnya, lalu pergi seperti dikehendaki: seorang murid yang diusir.
Lanjut..
caping • Minggu, 25 Oktober 2009 @ 01:10 diunggah oleh zen
This could be why in the fifteenth-century text the Korawaswara, the Kurawas are revived after the Bharatayudha war. And so the battle begins again: good must exist, but so too must evil.
What is the meaning of victory? After the Kurawas were defeated, the Kuru battlefield lay strewn with bodies. The stench of rotting flesh was everywhere. A sense of contampination hung in the air. Thousand of dogs whined, howled, and clawed the earth. Other than that there were just the moans of soldiers on the verge of death, lying amongst the remains of chariots and broken weapons.
The only colour was blood. There would be no more deeds of heroism.
The victors, the five Pendawas, had already taken over the palace, now empty. Speechless with exhaustion they viewed the vast empty audience hall. And now what? What more was there? Usually in such tales the storyteller will say that after such victory “the people lived happily ever after”.
But the Mahabharata is not usual history.
Lanjut..
caping • Sabtu, 24 Oktober 2009 @ 01:21 diunggah oleh zen
Mungkin itulah sebabnya dalam Korawasrama dari abad ke-15, setelah perang Baratayudha berakhir, para Kurawa dihidupkan lagi. Perang pun dimulai kembali: yang baik harus ada, tapi begitu pula yang buruk.
APAKAH arti kemenangan? Setelah Kurawa dikalahkan, medan perang Kuru tinggal lapangan penuh bangkai. Bau busuk terbentang. Rasa cemar terapung ke kaki langit. Ribuan anjing ajak melolong, mengaum, mengais. Selebihnya cuma erang sekarat para prajurit, di antara sisa kereta dan senjata yang patah.
Warna di sana hanya darah. Anyir. Tak akan ada lagi perbuatan kepahlawanan.
Si pemenang, kelima bersaudara Pandawa, telah merebut istana yang kini sepi. Mereka pun membisu capek memandangi balairung yang lengang. Apa, setelah ini? Akan apa lagi? Dalam dongeng yang biasa, setelah kemenangan tercapai, si pendongeng akan menyebut bahwa, “rakyat pun hidup aman dan sejahtera…”
Tapi Mahabharata bukan dongeng seperti dongeng yang lain.
Lanjut..
caping • Senin, 7 September 2009 @ 19:35 diunggah oleh zen
PADA tahun ke-13 masa pembuangan, di suatu hari yang terik di hutan pekat itu, empat dari lima bersaudara Pandhawa mati satu demi satu.
Beberapa jam sebelumnya, Yudhistira, sang sulung, meminta adik-adiknya pergi menemukan sumber air. Ia kehausan, demikian juga yang lain. Seorang demi seorang pun berangkat, tapi tak ada yang kembali.
Cemas dan bertanya-tanya dalam hati, Yudhistira pun pergi menyusul, mencari, mengusut jejak. Akhirnya, sekian puluh pal jauhnya dari tempat ia menunggu, di tepi sebuah telaga yang jernih, ia melihat tubuh dua saudara kandungnya seibu, Bhima dan Arjuna tergeletak. Tak bernyawa. Lebih ke utara terdapat jenazah Nakula. Lalu ia temukan juga mayat Sadhewa. Kedua pemuda di ujung remaja itu adiknya yang lain: putra Pandhu dari Ibu Madrim.
Yudhistira terhenyak. Keempat saudaranya mati tanpa bekas pertempuran. Apa gerangan yang telah terjadi? Meminum air beracun? Siapa yang menyebar racun: penghuni rimba yang tak kelihatan, atau mata-mata Raja Duryudana dan para Kurawa?
Lanjut..