caping • Ahad, 25 Oktober 2009 @ 01:10 diunggah oleh zen
This could be why in the fifteenth-century text the Korawaswara, the Kurawas are revived after the Bharatayudha war. And so the battle begins again: good must exist, but so too must evil.
What is the meaning of victory? After the Kurawas were defeated, the Kuru battlefield lay strewn with bodies. The stench of rotting flesh was everywhere. A sense of contampination hung in the air. Thousand of dogs whined, howled, and clawed the earth. Other than that there were just the moans of soldiers on the verge of death, lying amongst the remains of chariots and broken weapons.
The only colour was blood. There would be no more deeds of heroism.
The victors, the five Pendawas, had already taken over the palace, now empty. Speechless with exhaustion they viewed the vast empty audience hall. And now what? What more was there? Usually in such tales the storyteller will say that after such victory “the people lived happily ever after”.
But the Mahabharata is not usual history.
Lanjut..
caping • Sabtu, 24 Oktober 2009 @ 01:21 diunggah oleh zen
Mungkin itulah sebabnya dalam Korawasrama dari abad ke-15, setelah perang Baratayudha berakhir, para Kurawa dihidupkan lagi. Perang pun dimulai kembali: yang baik harus ada, tapi begitu pula yang buruk.
APAKAH arti kemenangan? Setelah Kurawa dikalahkan, medan perang Kuru tinggal lapangan penuh bangkai. Bau busuk terbentang. Rasa cemar terapung ke kaki langit. Ribuan anjing ajak melolong, mengaum, mengais. Selebihnya cuma erang sekarat para prajurit, di antara sisa kereta dan senjata yang patah.
Warna di sana hanya darah. Anyir. Tak akan ada lagi perbuatan kepahlawanan.
Si pemenang, kelima bersaudara Pandawa, telah merebut istana yang kini sepi. Mereka pun membisu capek memandangi balairung yang lengang. Apa, setelah ini? Akan apa lagi? Dalam dongeng yang biasa, setelah kemenangan tercapai, si pendongeng akan menyebut bahwa, “rakyat pun hidup aman dan sejahtera…”
Tapi Mahabharata bukan dongeng seperti dongeng yang lain.
Lanjut..
caping • Senin, 7 September 2009 @ 19:35 diunggah oleh zen
PADA tahun ke-13 masa pembuangan, di suatu hari yang terik di hutan pekat itu, empat dari lima bersaudara Pandhawa mati satu demi satu.
Beberapa jam sebelumnya, Yudhistira, sang sulung, meminta adik-adiknya pergi menemukan sumber air. Ia kehausan, demikian juga yang lain. Seorang demi seorang pun berangkat, tapi tak ada yang kembali.
Cemas dan bertanya-tanya dalam hati, Yudhistira pun pergi menyusul, mencari, mengusut jejak. Akhirnya, sekian puluh pal jauhnya dari tempat ia menunggu, di tepi sebuah telaga yang jernih, ia melihat tubuh dua saudara kandungnya seibu, Bhima dan Arjuna tergeletak. Tak bernyawa. Lebih ke utara terdapat jenazah Nakula. Lalu ia temukan juga mayat Sadhewa. Kedua pemuda di ujung remaja itu adiknya yang lain: putra Pandhu dari Ibu Madrim.
Yudhistira terhenyak. Keempat saudaranya mati tanpa bekas pertempuran. Apa gerangan yang telah terjadi? Meminum air beracun? Siapa yang menyebar racun: penghuni rimba yang tak kelihatan, atau mata-mata Raja Duryudana dan para Kurawa?
Lanjut..