Kesusastraan Indonesia dan Kebimbangan [2]
Larangan tersebut muncul sebagai sejenis pembebasan, malgre soi. Para sastrawan Manifes menemukan kemerdekaan mereka yang sejati justru dalam membisu: diam dalam kepompong pengasingan yang ganjil itu, mereka terus menulis, tidak ditulari oleh kesusastraan resmi yang mewabah di luar, yang sarat dengan slogan yang diulang-ulangi tentang perjuangan dan revolusi.
Nyoto, teoritikus partai dan tokoh penting kedua setelah D.N. Aidit, adalah seorang penulis prosa yang cemerlang. Sebagian besar karena daya tarik pribadi dan usahanyalah LEKRA berangsur-angsur merebut simpati para seniman dan sastrawan terkemuka Indonesia, seperti Pramoedya Ananta Toer, novelis Angkatan ‘45.
Tetapi yang tetap lebih penting adalah pengaruh LEKRA terhadap persaingan di antara partai-partai yang ada: LEKRA mendorong mereka untuk mendirikan lembaga kebudayaan masing-masing. PNI mendirikan LKN (Lembaga Kebudayaan Nasional) dengan tokoh utama Sitor Situmorang. NU mendirikan LESBUMI (Lembaga Seniman dan Budayawan Muslimin) dengan tokoh Asrul Sani, salah satu dari tiga penyair Tiga Menguak Takdir (bersama Chairil Anwar almarhum dan Rivai Apin, yang bergabung dengan LEKRA).
Demikianlah slogan orang komunis, “Politik Sebagai Panglima” mendapat kemenangan. Tahun 60-an menyaksikan suatu bentuk patronase baru ditanamkan dalam kehidupan kebudayaan Indonesia: partai-partai politik bertindak sebagai pelindung, yang memberi proteksi atau pengayoman kepada para seniman dan sastrawan dari kekurangan materi dan juga kritik secara publik.