Demokrasi
ADALAH seorang wanita tua, di kota lama Yaroslavl, di tepi Sungai Volga, yang menangis menyaksikan demokrasi.
Hari itu, pekan lalu, wanita Rus itu menonton sebuah sejarah yang sedang diubah — suatu proses dramatis yang bahkan dibentangkan di lavar televisi.
Ia mengikuti laporan luar biasa dari Moskow itu: sebuah konperensi dari Partai yang berkuasa, yang dulu begitu tertutup dan angker, tapi kini serasa tidak, yang dulu sering menampilkan wajah seram, tapi kini bisa lucu, yang dulu seperti mengingkari genealoginya sendiri, tapi kini seakan insaf: bahwa Partai itu pernah jadi palu dan sabit yang menggertak rakyat, memancung….
Wanita tua itu terhenyak. Buat pertama kalinya — menurut ingatannya yang panjang — sebuah konperensi Partai berlangsung terbuka. Bukan saja sidang itu disiarkan ke seluruh khalayak, tapi juga di sidang itu para delegasi bisa mengkritik, bisa mendebat, bisa beradu pendapat. Tak ada rasa terancam bahwa nanti malam polisi rahasia akan mengetuk pintu kamar dan membawa beberapa pembangkang pergi, menghilang, seperti sisa salju pagi hari.
Wanita tua itu memang tergetar. Ia kemudian bercerita kepada wartawan The New York Times: Lanjut..