caping • Sabtu, 18 Juli 2009 @ 00:03 diunggah oleh zen

Kuta

Maka yang paling brutal pada malam itu adalah bahwa bahasa seakan-akan tak diperlukan. Juga perlambang. Juga pathos dan sejenis kepahlawanan. Yang hendak ditekankan hanya: pembantaian, perusakan, ekspresi kebencian, penyebaran ketakutan.

Apa yang terjadi, ketika teror menyentak dan membantai, tapi juga membisu? Ketika semua berlangsung tanpa perlambang, tanpa bahasa, tanpa teater? Kuta, Bali, 12 Oktober 2002, dan Manhattan, New York, 11 September 2001: betapa berbeda.

Ketika dua bangunan World Trade Center yang menjulang hampir setengah kilometer itu dihantam dua kapal terbang, dan 3.000 orang tewas, dan gedung yang jangkung bagaikan menara itu terbakar dan runtuh secara mengerikan, drama itu punya panggung yang luas: langit pagi, musim panas yang cerah, cuaca yang tanpa cacat.

Hari itu dunia pun menyaksikan sesuatu yang spektakuler yang mengharu-biru. Sebuah film? Sebuah berita? Kita sejenak tercengang. Kemudian kita sadar bahwa sebuah pembantaian besar yang riil terjadi—dan kenyataan akhirnya merenggutkan kita yang selama ini hidup diterpa bertubi-tubi simulacra, tak tahu persis lagi apa gerangan arti “kenyataan”.

Lanjut..

Bookmark and Share
caping • Jumat, 17 Juli 2009 @ 20:41 diunggah oleh zen

Gelegar

Pembenaran epistemologis memang mengandung keterbukaan, pertanyaan, dan sikap kritis—juga kepada diri sendiri. Pembenaran ontologis tidak. Dan agaknya itulah yang berlangsung ketika “aku” berilusi bahwa “aku”-lah yang punya fondasi untuk menentukan yang indah dan tak indah, yang suci dan tak suci.

DUA gelegar mengagetkan seperti petir—api murub—asap hitam membubung—pekik berpuluh-puluh suara kesakitan yang serentak…. Kebuasan itu memang bisa tampak seperti sebuah spectacle, baik di New York pada tahun 2001 maupun di Bali pada tahun 2002.

Kita seakan-akan menyaksikan lukisan Hutan Terbakar Raden Saleh dalam tiga dimensi, atau satu adegan opera Götterdämmerung karya Wagner. Mungkin sebab itu, ketika dua pesawat Boeing 767 ditabrakkan para teroris ke Menara Kembar di New York, dan bangunan kukuh itu runtuh, dan 3.000 mati, Stockhausen, komponis Jerman terkenal itu, berucap, “Itulah karya seni terbesar untuk seluruh kosmos.”

Tapi orang marah mendengarnya. Teror sebagai karya seni, korban sebagai tontonan, para pembunuh sejajar dengan para jenius? Stockhausen dikecam; sejak itu ia tutup mulut. Tapi salahkah sang komponis untuk mengatakan demikian, di zaman ketika setiap benda, setiap tindak, dapat dinyatakan sebagai “seni”?

Pada tahun 1911 pelukis Marcel Duchamp mengikutsertakan sebuah sentoran kencing ke dalam sebuah pameran seni rupa di New York. Sebuah “revolusi” pun terjadi. Pada tahun 2001 seharusnya tak mengejutkan lagi jika Stockhausen membaptiskan penghancuran Menara Kembar sebagai sebuah “karya seni”.

Lanjut..

Bookmark and Share