Politik
Pendidikan politik justru bermula dari kesadaran akan kecentang-perenangan
RAKYAT, ternyata, bukan pegawai. Juru kampanye kita menemukan kenyataan ini kemarin siang, dengan tenggorokan yang kering. Di sebuah lapangan yang berubah menjadi samudera wajah dan panji-panji, ia berdiri tegak di podium sebagai pembicara terakhir. Langit terik. Udara 31 derajat.
Samudera wajah yang berkeringat itu memperdengarkan suara gemerungsung. Tak sabar. Desauan itu makin keras. Akhirnya hiruk-pikuk. Juru kampanye kita, di podium tinggi itu, merasa tak dipedulikan.
“Saudara-saudara . . .,” ia mulai menawarkan suaranya ke tujuh mikrofon yang berbaris di depannya. “Mohon perhatian . . ..”
Orang tetap ribut.
“Saudara-saudara . . . mohon perhatian, harap diam sebentar.” Lanjut..