Esei • Jumat, 3 Juli 2009 @ 13:49 diunggah oleh zen
…bunyi itu interupsi atau retakan dalam sunyi—keheningan yang terasa sebagai arus yang tak terhingga, tak tertangkap, yang mengingatkan kita bahwa ada yang tak berbentuk, ada khaos, yang tak dapat dipresentasikan
[I]
Dari sebuah kampung di tepi Bengawan Solo yang padat dan centang perenang, Dalang Slamet Gundono menciptakan Sudamala, atau Uma, Nyanyi Sendon Keloloran. Saya sempat menontonnya di tiga kota. Seperti banyak orang, saya terhibur, terharu, dan pulang dengan banyak pikiran yang tergugah.
Apa yang sebenarnya terjadi di pentas itu?
Slamet Gundono menyebut teaternya kali ini “wayang lindur”. Kita ingat Slamet sebelumnya pernah mementaskan “wayang suket” dan “wayang air” di samping kadang-kadang ia menjadi dalang “wayang kulit” atau “wayang purwa.”
Kita bisa saja bertanya apa arti “wayang” dan apa pula arti “wayang lindur”; kita mungkin akan memperoleh jawab. Tapi saya tak yakin, perlu benarkah jawab itu bagi seseorang untuk menikmati pertunjukan ini. Slamet Gundono justru menunjukkan bahwa seni tak dimulai dari definisi dan taksonomi. Lanjut..
Esei • Sabtu, 27 Juni 2009 @ 18:50 diunggah oleh zen
BRECHT, dengan rambut cepak, muka masam, jas warna gelap yang tertutup tanpa dasi: ia ingin tampak sebagai bagian dari sebuah zaman yang lugas.
Seakan-akan awal abad ke-20 mengubah segalanya. Di sekelilingnya mesin, industri, massa, buruh: dunia yang monokromatik, yang tak lagi menyediakan tempat untuk baju dan laku yang berbunga-bunga, tetapi yakin akan datangnya pembebasan…
Bertolt Brecht tumbuh di suatu masa, di suatu tempat, yang mengelu-elukan mitos mesin dan pembebasan: sebuah sambutan bersemangat yang terutama terdengar dari kalangan seniman Sayap Kiri Jerman. Revolusi Oktober 1917 menang dan kaum Bolsyewik, di bawah Lenin, memulai program penyebaran tenaga listrik ke seantero Rusia, sebagai bagian integral dari agenda sosialisme.
Awal abad ke-20 adalah sebuah masa perubahan dan impian yang utuh, sebagaimana awal abad ke-21 masa perubahan ketika keutuhan adalah mimpi. Awal abad ke-20 mengidamkan sosialisme, dan tak hanya itu: sosialisme identik dengan masa depan, dan masa depan identik dengan sesuatu yang gemilang. Lanjut..
bertolt brecht,
ekpresionisne,
film,
george lukacs,
impresonisme,
james joyce,
modernisme,
realisme,
teater,
thomas mann,
walter benjamin,
zhdanov