Puisi • Jumat, 27 Februari 2009 @ 13:34 diunggah oleh zen

Asmaradana

Ia dengar kepak sayap kelelawar dan guyur sisa hujan dari daun, karena angin pada kemuning. Ia dengar resah kuda serta langkah pedati ketika langit bersih kembali menampakkan bimasakti, yang
jauh. Tapi di antara mereka berdua, tidak ada yang berkata-kata.

Lalu ia ucapkan perpisahan itu, kematian itu. Ia melihat peta, nasib,
perjalanan dan sebuah peperangan yang tak semuanya disebutkan.

Lalu ia tahu perempuan itu tak akan menangis. Sebab bila esok pagi pada rumput halaman ada tapak yang menjauh ke utara, ia tak akan
mencatat yang telah lewat dan yang akan tiba, karena ia tak berani
lagi.

Anjasmara, adikku, tinggalah, seperti dulu.
Bulan pun lamban dalam angin, abai dalam waktu.
Lewat remang dan kunang-kunang, kaulupakan wajahku,
kulupakan wajahmu.

—————————————–
Ketika penerbit Gramedia Widiasarana Indonesia pada 1992 menerbitkan antologi yang merangkum dua antologi sajak Goenawan sebelumnya (”Parikesit” dan “Interlude”), “Asmaradana” dipilih sebagai judul antologi. Sajak “Asmaradana” sendiri sebelumnya sudah muncul dalam antologi berjudul “Interlude”.

Berikut penuturan singkat Goenawan tentang sajak ini, seperti yang bisa disaksikan dalam film dokumenter berjudul “Potret Penyair sebagai ‘Si Malin Kundang’” yang diproduksi oleh Yayasan Lontar.

“…’Asmaradana’ ini berdasar sebuah opera Jawa, (yang mengisahkan) tentang Damarwulan, yang salah satu bagiannya, dalam bentuk tembang asmaradana. (Kisah ini) sangat bagus bagi saya. Damarwulan mengucapkan selamat tinggal pada Anjasmara, kekasihnya, karena dia mau berangkat perang dan dia tahu akan kalah. Saya bertolak dari sana. Dan kemudian sajak ini berkembang sendiri, tentu saja. Tentang perpisahan, tentang kefanaan, dan tentang –barangkali– persiapan kita menghadapi semuanya.”

Bookmark and Share