Esei • Selasa, 3 November 2009 @ 02:53 diunggah oleh zen
Larangan tersebut muncul sebagai sejenis pembebasan, malgre soi. Para sastrawan Manifes menemukan kemerdekaan mereka yang sejati justru dalam membisu: diam dalam kepompong pengasingan yang ganjil itu, mereka terus menulis, tidak ditulari oleh kesusastraan resmi yang mewabah di luar, yang sarat dengan slogan yang diulang-ulangi tentang perjuangan dan revolusi.
Nyoto, teoritikus partai dan tokoh penting kedua setelah D.N. Aidit, adalah seorang penulis prosa yang cemerlang. Sebagian besar karena daya tarik pribadi dan usahanyalah LEKRA berangsur-angsur merebut simpati para seniman dan sastrawan terkemuka Indonesia, seperti Pramoedya Ananta Toer, novelis Angkatan ‘45.
Tetapi yang tetap lebih penting adalah pengaruh LEKRA terhadap persaingan di antara partai-partai yang ada: LEKRA mendorong mereka untuk mendirikan lembaga kebudayaan masing-masing. PNI mendirikan LKN (Lembaga Kebudayaan Nasional) dengan tokoh utama Sitor Situmorang. NU mendirikan LESBUMI (Lembaga Seniman dan Budayawan Muslimin) dengan tokoh Asrul Sani, salah satu dari tiga penyair Tiga Menguak Takdir (bersama Chairil Anwar almarhum dan Rivai Apin, yang bergabung dengan LEKRA).
Demikianlah slogan orang komunis, “Politik Sebagai Panglima” mendapat kemenangan. Tahun 60-an menyaksikan suatu bentuk patronase baru ditanamkan dalam kehidupan kebudayaan Indonesia: partai-partai politik bertindak sebagai pelindung, yang memberi proteksi atau pengayoman kepada para seniman dan sastrawan dari kekurangan materi dan juga kritik secara publik.
Lanjut..
Esei • Jumat, 23 Oktober 2009 @ 02:59 diunggah oleh zen
Plutot que le maitre d’ecole, le critique doit entre Peleve de I’oevre.
Eugene Ionesco, Notes et contre notes [1966]
ADA sesuatu yang tak memuaskan, kurang-lebih. Pemikiran dari pembicaraan tentang kritik sastra Indonesia belakangan ini mengulangi lagi sebuah perasaan lama: perasaan tak puas, yang umumnva dikemukakan dengan cara-cara yang tak memuaskan pula, dalam diagnosa-diagnosa yang kabur.
Wiratmo Sukito, akhir Oktober 1968: “Keadaan hidup sastra dewasa ini sangat memberi kesan kepada kita, bahwa kekuatan politik masih tetap digunakan untuk menentukan kritik sastra. Apabila hal ini dilakukan oleh publik sastra adalah keliru untuk melemparkan kesalahan kepada mereka, karena yang menjadi persoalan pokok ialah wibawa kritik sastra dalam masyarakat” ["Kegagalan Kritik Sastra Indonesia Dewasa Ini", Harian Kami, 30 Oktober 1968, hal. 2].
Lalu kepada siapakah kesalahan harus dilemparkan? Kepada para kritisi? Saya kira tidak bisa. Selama hidup kesusastraan masih seperti sekarang: pulau kecil di lautan masyarakat yang tidak membacanya, selama itu pula segala suara dari dalam wilayah itu—termasuk suara kritik sastra—hanya akan sampai pada radius beberapa meter di sekitarnya.
Lanjut..
Buku, Puisi • Ahad, 15 Maret 2009 @ 01:36 diunggah oleh zen

Antologi sajak Manifestasi ini diterbitkan pada September 1962 oleh penerbit Tinta Mas yang kala itu masih berkantor di Jl. Kramat Raya 60, Jakarta. Saat antologi ini terbit, Goenawan baru berusia 21 tahun. M Sarbini AFN, yang sajaknya juga termuat di sini, menjadi penyusun antologi ini. Sementara Ali Audah, sastrawan yang juga dikenal sebagai penerjemah karya-karya sastra berbahasa Arab, menuliskan kata pengantar.
Selain sajak-sajak Goenawan Mohamad, dimuat pula sajak karya Armaya, Djamil Suherman, Hartojo Andangjaja, Mohammad Diponegoro, M Sarbini dan M Yoesmanam. Total jenderal sajak yang dimuat di sini berjumlah 33 buah.
Salah satu sajak yang cukup populer yang muncul di antologi ini adalah sajak Hartojo Andangjaja berjudul Rakyat yang dibuka oleh dua baris berbunyi: “Rakjat ialah kita/djutaan tangan jang mengajun dalam kerdja…”
Goenawan sendiri menyumbang empat sajak yang semuanya berasal dari periode awal kepenyairannya. Empat sajak itu masing-masing berjudul: Expatriate, Almanak, Meditasi dan Dimuka Djendela (di situ aslinya memang tertulis “dimuka”, bukan “di muka”). Kecuali sajak Almanak, tiga sajak lainnya sudah lebih dulu tayang di Majalah Sastra yang diasuh oleh HB Jassin. Lanjut..