caping • Rabu, 13 Mei 2009 @ 04:04 diunggah oleh zen
HITLER tidak pernah membaca John Maynard Keynes.
Tetapi tokoh Nazi yang mengerikan itu menyelamatkan Jerman dari kemacetan depresi ekonomi dunia di tahun 1930-n. Langkah-langkahnya mirip dengan langkah yang ditawarkan ahli ekonomi Inggris itu untuk mengatasi keadaan lumpuh. Dan Jerman, ternyata, memang tak terkena lumpuh.
Sejak 1933, setelah ia berkuasa, Hitler meminjam dana, dan membelanjakannya. Jumlahnya tak tanggung-tanggung. Ia membangun jalan kereta api. Kanal. Bangunan umum. Autobahnen. Ia dengan demikian menciptakan lapangan kerja. Menjelang 1935, pengangguran praktis berakhir di Jerman.
Hitler, seorang yang yakin bahwa ia — dan “ia” di sini bisa berarti negara — harus memimpin, tampil ke mimbar dan menciptakan sebuah pemerintah yang aktif mengatur perekonomian. Lanjut..
Esei • Selasa, 28 April 2009 @ 06:29 diunggah oleh zen
INDONESIA adalah sebuah negeri yang luar biasa: pemilihan umumnya hanya jadi serius dalam perkara calon wakil presiden.
Tentang siapa yang jadi wakil rakyat, kita cuma bicara sebentar, terkadang dengan angkat bahu. Tentang soal yang lebih penting lagi—yakni siapa yang layak dipilih untuk memimpin pemerintahan (dan itu berarti presiden)—kita diam. Kita tetap takut menyinggung barang keramat. Jadi, mari bicara siapa yang kira-kira bakal jadi wakil presiden. Mari memilih soal siapa yang asyik dan aman.
Menakjubkan, memang. Sebab kebanyakan orang toh tahu, bahwa siapa pun gerangan si calon wakil presiden—seperti sudah beberapa kali terbukti akhirnya bukan tuan-tuan dan nyonya-nyonya yang dikutip di koran itu yang layak didengar. Sang Nomor Dua harus cocok dengan Sang Nomor Satu, dan sebab itu Nomor Satu sajalah yang menentukan.
Zaman sudah berubah. Kita tidak hidup lagi pada masa Bung Karno dan Bung Hatta. Pada masa yang berlangsung antara tahun 1945 dan 1958 itu, Bung Karno dan Bung Hatta adalah dua sosok yang tidak sepenuhnya cocok. Dalam pelbagai hal, keduanya saling bertentangan bahkan dalam soal-soal dasar. Lanjut..
caping • Rabu, 18 Maret 2009 @ 01:39 diunggah oleh zen
Mengapa si anak hilang? Banyak peristiwa yang terjadi.
Dalam legenda Si Malin Kundang, si anak tidak hendak kembali — dan mengakui emak kandungnya — karena kemiskinan dan keburukan masa silam terpasang dengan jelasnya dalam sosok si emak.
Dalam sebuah sajak Sitor Situmorang, si anak pulang dari rantau di Eropa. Ia disambut oleh ibunya dengan hangat, oleh bapaknya dengan ketenangan menahan hati. Ia sendiri tak banyak bicara. Tapi ketika malam hari ia datang ke pantai danau tempat ia dibesarkan dulu, ia tahu, seperti desir gelombang itu tahu: jiwanya tak hendak di kampung halaman lagi.
Barangkali banyak sebab yang mendorong kita untuk cenderung memandang fenomen “anak hilang” itu dengan hati bergetar. Kita, yang menyebut tanah tumpah darah — seperti kemudian tersurat dalam Indonesia Raya — sebagai “ibu”, agaknya punya gambaran diri yang sangat membekas sebagai “anak”. Atau barangkali inilah cermin kenyataan demografis kita: sebagian besar kita memang muda bahkan bocah. Sementara dunia modern mengajuk kita untuk bertualang, kita takut jadi hilang. Lanjut..
alex haley,
ali sastroamidjojo,
arnold monuntu,
bani sadr,
catatan pinggir,
hatta,
ho chi-minh,
khieu samphan,
malin kundang,
nehru,
novel salah asuhan,
sindrom hanafi,
sitor situmorang,
sjahrir,
zhou enlai
Esei • Senin, 9 Maret 2009 @ 11:40 diunggah oleh zen
I
SAYA bayangkan Sjahrir di Banda Neira pagi itu, 1 Februari 1942. Kemarin tentara Jepang menyerbu Ambon dan beberapa jam sesudah itu bom dijatuhkan.
Saya bayangkan Sjahrir di Banda Neira pagi itu, setelah sebuah pesawat MLD-Catalina yang bisa mendarat di permukaan laut berputar-putar di sekitar pulau. Berisiknya membangunkan penduduk. Tak lama kemudian, kapal terbang kecil itu pun berhenti di teluk. Ko-pilot pesawat, seorang perwira Belanda yang kurus, turun dan menuju ke tempat Sjahrir dan Hatta tinggal. Kedua tahanan politik itu harus meninggalkan pulau cepat-cepat, pesannya. Hanya ada sekitar waktu satu jam untuk bersiap.
Hatta mengepak buku-bukunya, tergopoh-gopoh, ke dalam 16 kotak. Sjahrir memutuskan untuk membawa ketiga anak angkatnya, meski pun salah satunya masih berumur tiga tahun. Sesampai di tempat pesawat, sebuah problem harus dipecahkan: ruang di Catalina itu terbatas. Enambelas kotak buku atau ketiga anak itu harus ditinggalkan. Hatta mengalah. Enambelas kotak buku tak jadi dibawa –untuk selama-lamanya—kecuali Bos Atlas yang sempat disisipkan Hatta ke dalam kopor pakaian. Empatpuluh tahun kemudian Hatta masih menyesali kehilangan itu. Lanjut..