Esei • Ahad, 12 Juli 2009 @ 08:02 diunggah oleh zen

Seks, Sastra, Kita

Seks yang terlampau diteriakkan sama kurang meyakinkannya dengan seks yang dilenyapkan

SEKS adalah suatu risiko dalam kesusastraan Indonesia modern. Dalam sebuah studi singkat tentang seks dan kesusastraan kita masa kini, Harry Aveling menulis:

In modern Indonesian literature, we miss those themes so common in the classical indegineous, and other, modern, literatures: the themes of flirtation, seduction, adultery, rape, and full bodily, intellectual and emotional commitment of lovers (married or not) to each other as equal human beings. There is, on the contrary, a prudery about the body and its functions, and an elaborate pretense that marriage-and even parenthood-is sustained without reference to sex.[1]

Ada semacam sikap berhati-hati, ada semacam pretensi yang dipersiapkan baik-baik, untuk tidak menyinggung seks dalam kehidupan percintaan, perkawinan dan kehidupan ibu-bapak: saya kira demikianlah memang kecenderungan umum sejumlah besar hasil sastra kita, meskipun tidak semuanya. Keadaan ini memang menarik, bila kita bandingkan—sebagaimana Aveling membandingkannya—dengan apa yang terdapat dalam kesusastraan modern lainnya, dan terutama dengan pelbagai hasil sastra lama dalam sejarah kita.

Tapi mungkin soalnya ialah karena hasil sastra modern, sedikit-banyaknya, cenderung untuk merupakan sebuah pose. Seorang pengarang, dalam penglihatan saya, selalu nampak sebagai seorang dirigen. Lanjut..