Dari Sudamala: Khaos dan Bentuk
…bunyi itu interupsi atau retakan dalam sunyi—keheningan yang terasa sebagai arus yang tak terhingga, tak tertangkap, yang mengingatkan kita bahwa ada yang tak berbentuk, ada khaos, yang tak dapat dipresentasikan
[I]
Dari sebuah kampung di tepi Bengawan Solo yang padat dan centang perenang, Dalang Slamet Gundono menciptakan Sudamala, atau Uma, Nyanyi Sendon Keloloran. Saya sempat menontonnya di tiga kota. Seperti banyak orang, saya terhibur, terharu, dan pulang dengan banyak pikiran yang tergugah.
Apa yang sebenarnya terjadi di pentas itu?
Slamet Gundono menyebut teaternya kali ini “wayang lindur”. Kita ingat Slamet sebelumnya pernah mementaskan “wayang suket” dan “wayang air” di samping kadang-kadang ia menjadi dalang “wayang kulit” atau “wayang purwa.”
Kita bisa saja bertanya apa arti “wayang” dan apa pula arti “wayang lindur”; kita mungkin akan memperoleh jawab. Tapi saya tak yakin, perlu benarkah jawab itu bagi seseorang untuk menikmati pertunjukan ini. Slamet Gundono justru menunjukkan bahwa seni tak dimulai dari definisi dan taksonomi. Lanjut..