Kuta
Maka yang paling brutal pada malam itu adalah bahwa bahasa seakan-akan tak diperlukan. Juga perlambang. Juga pathos dan sejenis kepahlawanan. Yang hendak ditekankan hanya: pembantaian, perusakan, ekspresi kebencian, penyebaran ketakutan.
Apa yang terjadi, ketika teror menyentak dan membantai, tapi juga membisu? Ketika semua berlangsung tanpa perlambang, tanpa bahasa, tanpa teater? Kuta, Bali, 12 Oktober 2002, dan Manhattan, New York, 11 September 2001: betapa berbeda.
Ketika dua bangunan World Trade Center yang menjulang hampir setengah kilometer itu dihantam dua kapal terbang, dan 3.000 orang tewas, dan gedung yang jangkung bagaikan menara itu terbakar dan runtuh secara mengerikan, drama itu punya panggung yang luas: langit pagi, musim panas yang cerah, cuaca yang tanpa cacat.
Hari itu dunia pun menyaksikan sesuatu yang spektakuler yang mengharu-biru. Sebuah film? Sebuah berita? Kita sejenak tercengang. Kemudian kita sadar bahwa sebuah pembantaian besar yang riil terjadi—dan kenyataan akhirnya merenggutkan kita yang selama ini hidup diterpa bertubi-tubi simulacra, tak tahu persis lagi apa gerangan arti “kenyataan”.