Puisi • Jumat, 1 Mei 2009 @ 03:28 diunggah oleh zen
Lagu pekerja malam
di sayup-sayup embun
Antara dinamo menderam
Pantun demi pantun
Lagu pekerja malam
Lagu padat damai
Lagu tak terucapkan
Jika dua pun usai
Tangan yang hitam, tangan lelaki
Lengan melogam berpercik api
dan batu pun retak di lagu serak:
Majulah jalan, majulah setapak
Nada akan terulang-ulang
dan lampu putih pasi:
Panjang, alangkah panjang
Dini hari, o, dini hari!
Lagu pekerja malam
Lagu tiang-tiang besi
Lagu tak teralahkan
Memintas sepi
[1962]
Catatan tambahan:
Titimangsa pembuatannya sedikit banyak bisa menjelaskan genesis –jika bisa disebut demikian– sajak “Lagu Pekerja Malam” ini. Lanjut..
Esei • Selasa, 28 April 2009 @ 06:29 diunggah oleh zen
INDONESIA adalah sebuah negeri yang luar biasa: pemilihan umumnya hanya jadi serius dalam perkara calon wakil presiden.
Tentang siapa yang jadi wakil rakyat, kita cuma bicara sebentar, terkadang dengan angkat bahu. Tentang soal yang lebih penting lagi—yakni siapa yang layak dipilih untuk memimpin pemerintahan (dan itu berarti presiden)—kita diam. Kita tetap takut menyinggung barang keramat. Jadi, mari bicara siapa yang kira-kira bakal jadi wakil presiden. Mari memilih soal siapa yang asyik dan aman.
Menakjubkan, memang. Sebab kebanyakan orang toh tahu, bahwa siapa pun gerangan si calon wakil presiden—seperti sudah beberapa kali terbukti akhirnya bukan tuan-tuan dan nyonya-nyonya yang dikutip di koran itu yang layak didengar. Sang Nomor Dua harus cocok dengan Sang Nomor Satu, dan sebab itu Nomor Satu sajalah yang menentukan.
Zaman sudah berubah. Kita tidak hidup lagi pada masa Bung Karno dan Bung Hatta. Pada masa yang berlangsung antara tahun 1945 dan 1958 itu, Bung Karno dan Bung Hatta adalah dua sosok yang tidak sepenuhnya cocok. Dalam pelbagai hal, keduanya saling bertentangan bahkan dalam soal-soal dasar. Lanjut..