Gelegar
Pembenaran epistemologis memang mengandung keterbukaan, pertanyaan, dan sikap kritis—juga kepada diri sendiri. Pembenaran ontologis tidak. Dan agaknya itulah yang berlangsung ketika “aku” berilusi bahwa “aku”-lah yang punya fondasi untuk menentukan yang indah dan tak indah, yang suci dan tak suci.
DUA gelegar mengagetkan seperti petir—api murub—asap hitam membubung—pekik berpuluh-puluh suara kesakitan yang serentak…. Kebuasan itu memang bisa tampak seperti sebuah spectacle, baik di New York pada tahun 2001 maupun di Bali pada tahun 2002.
Kita seakan-akan menyaksikan lukisan Hutan Terbakar Raden Saleh dalam tiga dimensi, atau satu adegan opera Götterdämmerung karya Wagner. Mungkin sebab itu, ketika dua pesawat Boeing 767 ditabrakkan para teroris ke Menara Kembar di New York, dan bangunan kukuh itu runtuh, dan 3.000 mati, Stockhausen, komponis Jerman terkenal itu, berucap, “Itulah karya seni terbesar untuk seluruh kosmos.”
Tapi orang marah mendengarnya. Teror sebagai karya seni, korban sebagai tontonan, para pembunuh sejajar dengan para jenius? Stockhausen dikecam; sejak itu ia tutup mulut. Tapi salahkah sang komponis untuk mengatakan demikian, di zaman ketika setiap benda, setiap tindak, dapat dinyatakan sebagai “seni”?
Pada tahun 1911 pelukis Marcel Duchamp mengikutsertakan sebuah sentoran kencing ke dalam sebuah pameran seni rupa di New York. Sebuah “revolusi” pun terjadi. Pada tahun 2001 seharusnya tak mengejutkan lagi jika Stockhausen membaptiskan penghancuran Menara Kembar sebagai sebuah “karya seni”.