caping • Senin, 25 April 2011 @ 10:36 diunggah oleh zen
Pekan ini saya ingin mengenang Chairil Anwar, sebagaimana orang-orang lain mengenangnya, tapi saya akan menambahkan sebuah catatan yang terselip. Beberapa lama setelah Chairil Anwar meninggal 28 April 1949, ia berangsur-angsur menjadi seseorang yang hanya terkait dengan sajak Aku: “binatang jalang” yang berteriak ingin hidup 1.000 tahun lagi.
Saya tahu, penyair selalu mati direduksi orang ramai. Tapi agaknya puisinya selalu bisa membebaskan dirinya
Bagi saya, sajak-sajak Chairil bermula dengan sesuatu yang justru ada, terkadang tersembunyi, di bawah “aku”.
Lanjut..
Esei • Jumat, 12 November 2010 @ 17:08 diunggah oleh zen
# A Talk at Serambi Salihara, November 11, 2010
I have to confess that in this conservative time, I am not completely comfortable sitting here to speak of “morality.” The question Abdoumaliq Simone poses in his summary may become a good start for our discussion (“Does morality in the city now mean people leaving each other alone, even as globalization and Facebook brings us all together?”). Yet, morality, to me, is a politically loaded word. My problem is that I see it as a normative order, normally reinforced by the discourse of faith and social cohesion, while I am aware of the incommensurability of such an order with its very claim of universality. I am of the opinion that society, especially in its urban setting, is shaped by a partially settled and historically contingent system of regularities.
Hence there is a perpetual contention. No Hegelian Sittligkeit, or norms of morality operating inside a community generating a natural sense of coherence, is without conflict or exclusion. I am in full agreement with Simone when he quotes James Tully suggesting that today “cultures are continuously contested, imagined, and reimagined, transformed and negotiated, both by their members and through their interaction with others”.
It is interesting that Tully, as Simone quotes him, speaks of the other way of looking at cultures (or other identities like cities, for that matter) which is “a panopticon of fixed, independent and incommensurable worldviews in which we are either prisoners or cosmopolitan spectators in the central tower.” Tully speaks of it negatively. This brings me to what I believe to be an antithesis of the “panoptical” perspective. Being a writer, I find it in works of literature touching upon urban lives and landscapes. These are the kind of modality that articulates, to borrow Michel de Certeau’s description, a “poetic geography on top of the geography of the literal, forbidden or permitted meaning.”
Let me begin with a story by Pramoedya Ananta Toer in his collection, Cerita dari Jakarta, written in the early 1950s. In the story, Aminah, a prostitute, lies down, near death, on a Fromberg Park bench. Suddenly, the past and the present, things distant and near, appear to her simultaneously.
Lanjut..
Esei • Selasa, 3 November 2009 @ 03:39 diunggah oleh zen
Tetapi kebudayaan lama itu bukanlah sesuatu yang perlu dilap-lap. Dalam kenyataannya ia hidup utuh, setidaknya nampak seperti seorang raksasa yang tidur. Angkatan 45 gagal melihat kebangkitannya kembali yang tak kentara.
PARA sastrawan Indonesia kini bukanlah ahli waris kebudayaan dunia. Kelompok avant-garde tahun 40-an, Angkatan 45, memang menganggap diri demikian. Tapi mereka sebenarnya ahli waris dari lingkungan kebudayaan yang belum sudah, yang bernama Indonesia, berada di antara masa silam yang menjauh dan masa depan yang belum pasti.
Dalam titik ini, kesusastraan Indonesia mewakili keraguan dan kebimbangan—yang kadang terdengar seperti kata lain dari pencarian. Hidup, apa pun jadinya, tidak lagi merupakan lingkaran tertutup. Sekalipun tidak seterbuka sebagaimana-nampaknya.
Sampai tingkat tertentu, ini memang merupakan pilihan yang merepotkan. Apa yang berlanjut dari situasi ini ialah beberapa bentuk pertikaian batin yang tak kunjung usai, di hadapan alternatif-alternatif sejarah: memilih salah satu sama halnya dengan memungut kans untuk menerobos ambang yang tak diketahui.
Boleh dikata, kesusastraan Indonesia dimulai dengan protes.
Lanjut..
achdiat kartamihardja,
ajip rosidi,
chairil anwar,
federico garcia lorca,
george steiner,
herbert feith,
marah rusli,
rendra,
sastra,
sastra indonesia,
sitor situmorang,
soekarno
caping • Selasa, 15 September 2009 @ 23:55 diunggah oleh zen
Pada akhirnya Ia hanya Ilahi yang ditinggalkan.
ORANG sering menyembah Tuhan yang diperkecil. Maka berabad-abad yang lalu, di kota-kota yang berbataskan gurun, di mana langit luas dan malam dihuni cerita dan rahasia, para rasul datang memperingatkan. Mereka mengecam berhala. Mereka mengecam doa yang membayangkan Tuhan sebagai—jika kita pakai kiasan hari ini—seraut pohon bonsai.
Berhala atau bonsai: sesuatu yang memikat justru karena diletakkan di sebuah kotak yang tetap, seakan-akan hidup, tapi sebenarnya hanya Tuhan yang diperkecil oleh manusia, sesembahan yang jauh dari hakikat Dia yang maha-agung.
Orang-orang muslim punya sebuah cerita dari Quran.
Di hadapan Fir’aun, begitulah dikisahkan, Musa memberi jawab yang tak diharapkan ketika raja Mesir itu bertanya, “Dan apakah Tuhan alam dunia itu?” Pertanyaan itu, “Ma rabbu al-alamina?”, cenderung menantikan sebuah definisi. Tapi jawaban Musa berbeda, dan sangat kena. Nabi itu hanya mengatakan bahwa “Tuhan” adalah “Tuhan dari Timur dan dari Barat, dan dari segala yang ada di antaranya.”
Lanjut..
Esei • Senin, 22 Juni 2009 @ 15:01 diunggah oleh zen
“SEBUAH sajak yang menjadi adalah suatu dunia,” kata Chairil Anwar, dan paradoks ini bisa mengantar kita untuk melihat bagaimana puisi Indonesia mutakhir menyatakan dirinya.
Sebuah sajak yang menjadi—bukan sebuah sajak yang jadi—tidak tinggal terhenti dan tergantung pada apa yang membentuknya: kata dan konsep-konsep, “benda-benda” pampat yang tersaji dan siap untuk selesai. Sebuah sajak yang “menjadi” selama-lamanya sebuah proses, bahkan seusai dibaca. Ia senantiasa bergerak, hadir, menyelinap, setengah sembunyi, tampil kembali (dengan isyarat-isyarat baru), mencipta tak henti-hentinya, berubah, menangguhkan konklusi.
Kita tidak pernah tahu kapan dan di mana berakhirnya.
“Suatu dunia” sebaliknya bisa berarti sebuah ruang yang meskipun terbentang, punya akhir. Sebuah dunia punya garis batas. Chairil Anwar menjelaskan tentang “dunia” itu sebagai “dunia” yang diciptakan kembali sang penyair, dari “benda (materi) dan rohani, keadaan …alam dan penghidupan sekelilingnya”, dan hal-hal lain yang “berhubungan jiwa dengan dia”. Dalam arti ini kehadiran sang penyair, otoritasnya, dan lingkungan hidupnya, merupakan asal-usul dan sekaligus pemberi sosok yang definitif, sebuah mikrokosmos, kepada sebuah sajak.
Dan itulah paradoks itu: puisi bergerak antara “menjadi” dan “dunia”, sekaligus pertautan dan pergumulan yang tak habis-habisnya antara keduanya. Lanjut..