Buku • Kamis, 25 Oktober 2012 @ 12:45 diunggah oleh

9 Volume Catatan Pinggir

Telah hadir: 9 volume Catatan Pinggir yang diterbitkan secara serentak.

Sejak 1976, Catatan Pinggir [awalnya bernama "Fokus Kita"] jadi bagian tak terpisahkan dari Majalah Tempo. Dengan menghitung beberapa tahun vakum akibat pembredelan Tempo (setelah pembredelan, Catatan Pinggir sempat muncul lagi di majalah Forum Wartawan Independen, walau tak lama) berarti sudah 36 tahun usia Catatan Pinggir. Angka itu niscaya akan terus bertambah karena sampai sekarang Catatan Pinggir masih tetap hadir saban Tempo terbit.

Catatan Pinggir volume I pertama kali dibukukan pada 1982 oleh Penerbit Grafiti dengan diberi Kata Pengantar oleh [alm.] Th. Sumartana. Sejak itu, Catatan Pinggir I terus dicetak ulang, disusul volume-volume berikutnya. Terakhir, volume ke-9 terbit pada 2011.

Lanjut..

caping • Minggu, 18 Desember 2011 @ 23:29 diunggah oleh

Havel

DI Praha, Sastrawan Vaclav Havel dipenjarakan antara tahun 1979 dan 1983. Sebelumnya, di tahun 1977 ia juga ditahan.

Dosanya: Ia menulis sepucuk surat kepada Husak, presiden Cekoslovakia waktu itu. Dalam surat itu Havel mengingatkan, bahwa pada akhirnya rakyat yang tertekan akan menuntut harga bagi “tindakan yang secara permanen merendahkan martabat manusia”. Ia dianggap “subversif”.

Tapi 12 tahun kemudian, yang dikatakannya terbukti. Rakyat Cekoslovakia merontokkan pemerintah yang membreidel mulut + hati + pikiran manusia itu. Presiden Husak jatuh. Orang ramai pun berseru meminta agar yang menggantikannya adalah orang yang pernah jadi korban: Vaclav Havel.

Ajaib, lebih ajaib dari dongeng. Dalam dongeng, perlu waktu lama buat sang korban untuk jadi pemenang. Di Cekoslovakia, proses itu begitu cepat: 41 tahun lamanya Partai Komunis berkuasa, dalam sebulan fundasinya ambruk. Dan apa kesaktian Vaclav Havel, hingga ia bisa mengalami transformasi dari-si-tertindas-jadi-si-kuasa? Hanya pada kata.

Lanjut..

caping • Rabu, 18 Maret 2009 @ 01:39 diunggah oleh

Si Anak Hilang

Mengapa si anak hilang? Banyak peristiwa yang terjadi.

Dalam legenda Si Malin Kundang, si anak tidak hendak kembali — dan mengakui emak kandungnya — karena kemiskinan dan keburukan masa silam terpasang dengan jelasnya dalam sosok si emak.

Dalam sebuah sajak Sitor Situmorang, si anak pulang dari rantau di Eropa. Ia disambut oleh ibunya dengan hangat, oleh bapaknya dengan ketenangan menahan hati. Ia sendiri tak banyak bicara. Tapi ketika malam hari ia datang ke pantai danau tempat ia dibesarkan dulu, ia tahu, seperti desir gelombang itu tahu: jiwanya tak hendak di kampung halaman lagi.

Barangkali banyak sebab yang mendorong kita untuk cenderung memandang fenomen “anak hilang” itu dengan hati bergetar. Kita, yang menyebut tanah tumpah darah — seperti kemudian tersurat dalam Indonesia Raya — sebagai “ibu”, agaknya punya gambaran diri yang sangat membekas sebagai “anak”. Atau barangkali inilah cermin kenyataan demografis kita: sebagian besar kita memang muda bahkan bocah. Sementara dunia modern mengajuk kita untuk bertualang, kita takut jadi hilang. Lanjut..