caping • Jumat, 30 Oktober 2009 @ 16:17 diunggah oleh zen
Every time in history, it seems, has a moment when it s not easy to speak, bu when also it s not easy to remain silent. We do not know precisely how our words will be valued, or if a gesture will be noticed. At times like this, there is only cloud, rain, or silence — even indifference — outside the door. All is a puzzle.
Nonetheless we still need to talk to ourselves. We do not only act. Every action demands approval. At the very moment we tell others to be silent, in fact deep in our hearts we want those others to approve our action. We wish to place our capacity to conquer alongside our capacity to convince.
Certainly it cannot always be like this. But it is understandable that n our actions we seek aproval for ourselves so as to be seen as “good people” and our actions as “succesful”. In a short, people around us are something we cannot ignore –they are something we need.
Perhaps this is why there is a type of unwritten law within any power structure: no matter how authoritarian that rule, it will still need someone else who is free of it.
Lanjut..
caping • Jumat, 30 Oktober 2009 @ 16:11 diunggah oleh zen
DI SETIAP masa nampaknya selalu ada saat yang tak mudah untuk berbicara,tapi tidak gampang untuk diam. Kita tidak tahu pasti bagaimana persisnya kata-kata akan diberi harga, dan apakah sebuah isyarat akan sampai. Di luar pintu, pada saat seperti ini, hanya ada mendung, atau hujan, atau kebisuan, mungkin ketidak-acuhan. Semuanya teka-teki.
Toh setidaknya kita masih membutuhkan pembicaraan dengan diri sendiri. Kita tidak hanya bertindak. Setiap tindakan memerlukan penghalalan. Pada saat kita minta orang lain untuk diam sekalipun, sebenarnya jauh di dalam hati kita ingin agar orang lain itu kemudian membenarkan tindakan kita. Kapasitas kita untuk mengalahkan ingin kita sertai dengan kapasitas kita untuk meyakinkan.
Memang, itu tak selamanya bisa terjadi. Tapi adalah wajar bila kita, dengan tindakan kita, ingin dinilai “berhasil” dan serentak itu kita ingin dinilai sebagai “orang baik.” Pendeknya, orang lain di luar kita adalah sesuatu yang tak terelakkan, juga sesuatu yang kita butuhkan.
Mungkin itulah sebabnya, ada semacam hukum dalam setiap
kekuasaan: betapapun hebatnya kekuasaan itu, ia masih tetap
membutuhkan orang lain yang bebas.
Lanjut..